Uniknya Basa Sunda

dari kisunda.multiply.com

Sungguh kaya  negeri ini. Mulai dari lahan, jumlah penduduk, kebudayaan, kesenian, suku bangsa hingga bahasa. Jumlahnya sungguh sangat banyak dan beragam. Dari sabang sampai merauke berbeda-beda.

Ketika terlibat sensus, saya tercengang dengan banyaknya kode untuk suku dan bahasa daerah yang berbeda-beda. Entah ada berapa ratus. Saya pikir inilah kekayaan negeri kita yang bisa jadi kebanggaan kita.

Oya, ngomong-ngomong soal bahasa, saya jadi teringat dengan keunikan bahasa daerah di tempat saya. Basa sunda.

Sebagai warga USA alias Urang Sunda Asli, saya tentu saja harus bisa bertutur basa sunda. Dan Alhamdulillah, saya memang bisa bertutur basa sunda meskipun tidak sebagus cara bertutur orang tua -orang tua jaman dulu. Sebagai bahasa daerah yang utama, basa sunda ini diajarkan sebagai materi muatan lokal di sekolah-sekolah. Bahkan, di universitas tempat saya menuntut ilmu, dibuka pula jurusan bahasa daerah untuk bahasa sunda.

Saya katakan basa sunda itu unik. Ya, basa sunda memang unik sekaligus sulit. Dibandingkan dengan bahasa inggris, saya berpendapat lebih sulit memakai basa sunda. Salah satunya adalah adanya undak usuk basa. Undak usuk basa ini adalah semacam pengkastaan bahasa untuk orang yang kita ajak bicara. Berbeda dengan bahasa Indonesia atau bahasa inggris, kalimat yang dipakai untuk orang tua dan teman sebaya akan terdengar sama. Sedangkan dalam basa sunda, akan menjadi lain ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, orang yang seumuran, atau lebih muda. Ada etika dan aturan yang berbeda yang diterapkan ketika kita berbicara dengan orang yang lebih tua, dengan sesama, atau dengan orang yang lebih muda tersebut. Salah satunya adalah aturan tata bahasa yang digunakan. Contoh: untuk kalimat “Pulang dari mana?” akan berbeda penggunaannya ketika disampaikan kepada orang yang lebih tua dan kepada teman sebaya. Arti kalimat “pulang dari mana” ketika digunakan kepada orang yang lebih tua akan terdengar lebih halus dan santun seperti ini: “Bapak, Mulih ti mana?”. Tapi ketika kita menyampaikannya kepada teman sebaya, akan terdengar seperti ini:” Geus balik ti mana, euy?” . coba bandingkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa inggris, ketika kita sampaikan pertanyaan yang sama “Pulang dari mana?” kepada orang tua dan teman, akan terdengar sopan-sopan saja.

Selain itu, ada juga unsur pembeda bagaimana kita berbicara sesuatu untuk diri kita dan untuk orang lain. Untuk kata “Pulang dari mana”, ketika kita tujukan kepada orang lain, akan memiliki kata yang berbeda ketika kita tujukan pada diri sendiri.  untuk orang lain akan seperti ini: Mulih ti mana? Tapi untuk diri sendiri akan seperti ini Wangsul ti mana?

Keunikan lainnya adalah ketika basa sunda dipadankan dengan bahasa nasional kita. ada banyak kata yang tidak memiliki padanan katanya, dan itu hanya dimiliki basa sunda saja. Contohnya Ngabuburit atau Kekeuh Kumeukeuh.  Selain itu, kata-kata yang mengawali kata kerja juga kadang tidak ada padanan kata nya seperti gek untuk mengawali kata kerja diuk/duduk (gek diuk), atau jrut untuk mengawali kata kerja turun (Jrut turun). Rap untuk mengawali kata kerja Pake/memakai(Rap Pake). Reup, untuk mengawali kata kerja Pereum/terpejam (Reup Pereum). Bray Beurang (kata beurang sendiri sama dengan siang) atau Bray Beunta (beunta = membuka mata, biasanya pada saat bangun tidur). Dan masih banyak lagi kata-kata sejenis.

Oya, satu kata bahasa Indonesia, bisa memiliki lebih dari satu padanan kata dalam basa sunda. Misalnya, makan. Sinonimnya bisa Dahar, Tuang, Neda, Nyatu, Lolodok. Penggunaan kata-kata tersebut akan bergantung kepada siapa lawan bicara kita.

Ah, saya bukan ahli basa sunda. Cuma sedikit tertarik saja dengan keunikannya manakala ada kata-kata atau istilah-istilah basa sunda yang tidak bisa diartikan dalam bahasa Indonesia.

Ngabuburit adalah satu istilah sunda yang sudah menjadi  istilah nasional.

Semoga tradisi basa sunda tidak punah dimakan jaman.(HS)

 

Kakimanangel-22082010