Memori Ramadhan di Kota Besar, Sekedar Mengingatkan……

monasRamadhan kembali datang, seperti taun-taun sebelumnya, satu memori yang terjadi beberapa taun yang lalu pun kembali terbangun setelah satu taun terlupakan. Kenangan yang cukup getir untuk dialami kembali. Terkatung-katung di kota besar tanpa memiliki pengetahuan yang memadai tentang pemetaan kota tersebut.

Adalah November 2006, saya mengalami satu pengalaman unik yang luarbiasa menyakitkan. Berawal dari rasa sayang yang sangat mendalam, saya berniat untuk menunaikan janji memenuhi undangan dari orang terkasih untuk berbuka puasa bersama. 

seminggu menjelang IdulFitri tentu saja bukanlah waktu yang tepat untuk bepergian apalagi ke luar kota, karena sebenarnya saya sendiri waktu itu sibuk dengan pelatihan yang memang diselenggarakan kantor wilayah saya di Bogor. Mengingat jarak antara bogor dengan Kota Besar ini hanyalah sepelemparan batu saja, maka saya menyempatkan diri ‘mencuri’ waktu memenuhi undangan tersebut segera setelah penutupan pelatihan tersebut.

Hari itu adalah hari jumat, saya berkelit kepada teman yang mengajak pulang bareng ke kota tempat saya tinggal bahwa saya ada undangan buka puasa bersama dari teman kuliah yang sekarang sudah berkumpul di Kota Besar tersebut. Saya buru-buru beranjak menuju terminal bus Baranang Siang untuk menaiki salahsatu bus jurusan Kota Besar kearah pelabuhan lautnya. Bus yang terlambat, dan waktu yang mepet ke waktu jumatan tidak membuat saya mengurungkan niat untuk menunda keberangkatan ke Kota Besar.  Penuh perjuangan, dan meninggalkan Ibadah wajib jum’at akhirnya saya tiba di Kota Besar tersebut.

Saya menunggu tepat di depan gedung salahsatu perusahaan rokok terkemuka, karena sesuai janji saya akan dijemput di titik ini. Terbersit rasa malu melihat rombongan pria yang keluar dari mesjid setelah menunaikan Ibadah solat jumat di jumat keempat ramadhan tahun tersebut. Tik tik tik tik detik demi detik terus berjalan, putaran jarum panjang jam pada jam tangan saya sudah hampir satu putaran penuh, namun orang yang berjanji akan menjemput tidak kunjung datang. Rasa gelisah mulai menyeruak, tapi saya berusaha untuk menenangkan diri bahwa sang punya hajat terlambat dijalan karena terjebak macet. Sempat terpikir untuk kembali lagi ke Bogor, namun rasa penasaran dan “rasa sayang” mengalahkan nalar logis seorang saya. Telpon dan sms yang saya kirim berkali-kali pun tidak mendapat respon dari sangpunya hajat hingga akhrirnya saya bertahan menunggu hampir selama 3 jam. Karena penasaran, akhirnya saya memberanikan diri menempuh perjalanan untuk menuju tempat tinggal sang pengundang buka bersama. Saya yang hanya tau kota besar ketika diajak jalan-jalan menggunakan kendaran dia, benar-benar buta dengan keadaan kota besar. Dari satu orang ke orang lain, saya bertanya rute dan arah menuju tempat tinggal sangpunya hajat yang berada di wilayah barat Kota Besar tersebut. Hampir gagal saya karena terdampar di tempat yang tidak saya kenal, saya pun berganti kendaraan atas petunjuk seorang yang berbaik hati memeberikan arah yang benar menuju wilayah barat Kota Besar.

Dengan menggunakan ojek, dan membayar sejumlah uang yang fantastis untuk ukuran ongkos ojek,  akhirnya saya tiba di tempat tinggal sangpunyahajat. Namun apa yang saya dapat ketika saya tiba di rumah kontrakan yang menghadap ke arah timur tersebut benar-benar membuat saya shock. Betapa tidak, sangpunyahajat yang mengundang saya (TUUUUUUUUUUUUTTTTTTTTTTT sensor). Berbekal kenekatan, saya sekali lagi menggunakan jasa ojek untuk menuju tempat (TTTTTUUUUUUUUUUTTTTTT, sensor lagi) tersebut. Dan ternyata benar, sangpunyahajat memang berada disana. Saya menunggu waktu yang tepat untuk menemuinya, dan saya berhasil bertemu dengannya menjelang magrib. Dengan penuh cucuran airmata, sangpunyahajat yang saya sayangi tersebut mengakui perbuatannya yang memang melawan hukum. Saya Cuma bisa geleng-geleng kepala dan terdiam. Tidak ada yang bisa saya lakukan ketika dia menyuruh saya untuk kembali lagi ke kotakelahiran saya, padahal waktu sudah menunjukkan menjelang magrib. Akhirnya dengan langkah berat, saya berbuka puasa di warteg yang memang tidak jauh dari (TUUUUUUUTTTTTTTTT, sensor lagi) tersebut. Makan alakadarnya dan membelikan dia sebungkus nasi beserta ayam goreng, saya memberanikan diri kembali untuk menemuinya.

Setelah pertemuan untuk memberikan nasibungkus buka puasa itu, saya keluar dari (tuuuuuutttt) dengan kebingungan yang luar biasa. Tas yang sengaja saya tinggal di rumah sangpunyahajat ditambah ketiadaan sanak saudara dan kerabat serta teman-teman, akhirnya saya berjalan menjauhi tempat tersebut. Masih dengan kebingungan dan demi gengsi (malu) diketahui teman-teman sahabat lama saya yang memang sudah bekerja di KotaBesar tersebut, akhirnya saya memilih tidak memberitahukan kepada mereka perihal keadaan saya yang terkatung-katung. Saya memilih untuk mengadu peruntungan saja. Beruntung sekali, saya bertemu dengan salahsatu pengojek yang baik hati –untuk ukuran kota besar, hal ini sangat jarang. Sebenarnya dia adalah satpam di restoran minang Natrabu di Kotabesar tersebut dan nyambi menjadi pengojek pada malam harinya- saya memberikan sejumlah rupiah untuk kesediaan dia mengantar saya kemana-mana. Akhirnya dia menawarkan untuk menginap di rumahnya setelah melihat kebingungan di raut wajah saya, namun setelah saya melihat kondisi rumahnya yang dihuni banyak orang, saya menjadi tidak tega. Akhirnya saya memberanikan menghubungi seorang ber-identitas dunia maya anugrahandi yang saya kenal melalui perkumpulan milist untuk membantu saya memberikan tumpangan menginap, namun karena jarak yang jauh dan waktu yang sudah malam yang memang rawan kejahatan, akhirnya anugrahandi memberikan rekomendasi saya untuk menginap di salahsatu rekannya yang sama sekali tidak saya kenal. Alangkah Maha Pemurah-Nya Alloh SWT memberikan pertolongan kepada saya. Teman anugrahandi tersebut membolehkan saya menginap. Lagi-lagi diantar oleh tukang ojek baik hati tersebut, akhirnya saya (dengan sedikit membual) meminta untuk menuju tempat teman dari anugrahandi tersebut yang berada di wilayah selatan kotabesar tersebut. Orang yang belum saya kenal itu pun memang ternyata menjadi jalan pertolongan Alloh untuk saya.

Akhirnya malam tersebut saya menginap di kamar sempit kontrakan dia. Bukan itu saja, dia pun menjamu saya dengan meminjamkan baju untuk tidur dan makan sahur di warung yang tidak jauh dari tempat kost nya. Keesokan harinya pun, dia mengantar saya mengambil tas di rumah sangpunyahajat yang sengaja saya tinggalkan sehari sebelumnya. Ahhh benar-benar petualangan yang menyisakan trauma tersendiri dan berefek tidak ingin lagi mengunjungi Kota Besar Tersebut di kemudian hari.

Cianjur, Agustus 2009/hadisome

2 thoughts on “Memori Ramadhan di Kota Besar, Sekedar Mengingatkan……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s