Ramadhan dalam Kotak Bernama TV

Tiga belas hari ramadhan sudah terlalui dengan baik, beragam peristiwa terjadi selama 13 hari tersebut. Salahsatunya adalah peristiwa dahsyat yaitu gempa berkekuatan 7.3 SR yang terjadi pada ramadhan hari ke 12 atau bertepatan dengan tanggal 2 september 2009 yang menjadi berita besar di beberapa stasiun tv yang concern dengan uptodate news nya, dan juga peristiwa cerainya beberapa artis yang konon katanya adalah pasangan romantis.

Terlepas dari kejadian-kejadian tersebut, saya hanya ingin menuangkan kegelisahan saya dalam melihat program TV swasta nasional. Tayangan tivi Indonesia sepertinya sama saja seperti tahun-tahun lalu, hanya sedikit sekali yang memberikan tayangan bermutu dan mendidik untuk para pirsawannya. Saya bukanlah maniak penonton tv, namun melihat iklan-iklan program dan komersial di tv seolah-olah hanya membuat ramadhan ini adalah salahsatu ladang untuk mengeruk keuntungan sebesar mungkin. Tengok saja tayangan pada jam primetime yang sama sekali jauh dari keagungan ramadhan, dimana artis-artis berusaha untuk tampil (walaupun jauh dari kesan) lucu. Dengan alasan supaya khalayak yang sedang sahur tidak mengantuk, mereka membuat tayangan yang bahkan berbau slapstick dan jauh dari hal-hal mendidik. Begitu pun dengan kuis-kuisan yang selalu menjadi insert dalam setiap tayangan tersebut, sama sekali tidak ada unsur pendidikannya atau unsur mencerdaskan kepada penontonnya. Yang tampak hanyalah proses pembodohan dengan title untuk lucu-lucuan.

Saya tidak pernah merasa ingin tertawa melihat tayangan komedi sahur di seluruh stasiun tv, buat saya komedi tidak perlu dengan hal-hal jorok dan mengandung kekerasan. Contoh salahsatunya adalah tayangan komedi sahur di stasiun transtv, bagi saya sangat menjijikan karena saat itu saya sedang makan sahur. Adalah komeng, olga dan adul yang membuat joke tentang kentut plus diiringi pula dengan bunyi kentut keras yang diciptakan dari tatasuara di studio. Penonton di studio memang tertawa, tapi bagi saya yang kebetulan menyaksikan (walaupun hanya sekilas) langsung merasa jijik dan enggan menonton lagi. Sesederhana itukah isi kepala komedian Indonesia, hanya untuk membuat tertawa lalu berusaha memancing kelucuan dengan hal-hal yang tidak layak? Cukuplah dengan bermain kata-kata saja untuk melucu, melontarkan joke-joke cerdas tanpa harus menyinggung lawan main.

Hal lainnya yang membuat saya terganggu adalah tayangan komersial salahsatu produk mie instant, dari sudut pandang saya yang hanyalah orang awam tayangan produk yang acapkali diputar karena (mungkin) berbudget gede untuk membayar sejumlah dana ke stasiun TV, Ramadhan dalam iklan ini tidak lebih dari sebuah lagu yang tidak enak didengar.. Tidak ada sedikit pun keagungan ramadhan yang tertuang dalam kalimat-kalimat lagu tersebut.. Pun demikian dengan visualisasi nya, tabuh-tabuhan rebana dan tari-tarian menghiasinya. Sesederhana itukah ramadhan dimaknai dalam sebuah iklan???

Meskipun ada beberapa tayangan berkualitas, namun jumlahnya tidak lebih dari 30% dari keseluruhan.  Apakah ini sebuah fenomena trend mencari uang dengan menggunakan momentum ramadhan, ataukah memang pengelola program iklan dan TV sudah kehabisan ide segar untuk membuat ramadhan terasa lebih mulia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s