“KB…. Kepalang Banyak”

Demikian satu olok-olok seorang pekerja kecamatan wilayah kerja saya ketika melihat logo dua jari yang menempel pada motor dinas warna biru saya yang saya parkir di halaman kantor yang masih mengontrak di salahsatu rumah penduduk tersebut. Saya hanya tersenyum mendengar olokannya, tidak terbersit sedikitpun rasa jengkel dengan kelakuan mereka yang selalu mengolok-olok istilah KB  dengan bermacam singkatan mulai dari Keluarga Besar, Keluarga Banyak, dan sekarang Kepalang Banyak. Marahkah saya? Tidak, saya sudah kebal saya diperolok seperti itu meskipun bekerja menjadi seorang penyuluh di bidang ini bukanlah pilihan hati nurani saya, namun agaknya saya mulai memahami karakteristik pekerja lapangan yang harus tahan mental dan fisik.

Entah saya memang mempunyai bakat kehumasan atau memang saya yang pandai berkelit, bahan olok-olokan tersebut menjadi titik pembuka saya untuk mengajak mereka bertukar pengetahuan tentang masalah Kepalang Banyak ini. Saya, yang juga masih belajar dan meraba-raba ilmu tentang per-KB-an ini, membuka obrolan dengan kalimat :”emang kalo udah kepalang banyak gimana?” hehe mereka malah jadi keder sendiri, akhirnya dengan pengetahuan yang masih minimalis tentang per-KB-an saya sok menjelaskan,

” jika memang kepalang banyak, maka sedapat mungkin anak-anak tersebut harus berkualitas. Berkualitas dari sisi pendidikannya, berkualitas dari asupan gizinya, pakaiannya, ilmu agamanya dsb dsb.  Disitu lah letak tanggung jawab sebagai orang tua jika dititipi anak, harus menjaga dan menjadikannya anak yang berkualitas dan mampu bersaing dimasa depannya kelak hehe” sotoy nya saya mulai keluar

“ Makanya, mumpung kalian belum kepalang banyak, mendingan pake KB saja. Banyak pilihannya kok, tinggal milih mau yang mana, bidan pun pasti akan melayani” Naluri kepenyuluhan saya mulai keluar. Hehehe  begitulah,  salah satu Tupoksi pekerjaan saya adalah  memberikan penyuluhan tentang program KB untuk siapapun dan kapanpun.

Logo KBBerbicara mengenai KB, Sesungguhnya ada pergeseran paradigma antara KB jaman dahulu dengan KB saat ini. Jika pada masa lalu KB menekankan pada ‘Keluarga Berencana, dua anak cukup’ maka saat ini diubah menjadi ‘Keluarga Berkualitas, dua anak lebih baik.’ Kenapa keluarga berkualitas? Dilogikakan saja, jika sebuah keluarga memiliki anak lebih sedikit, maka kemungkinan anak-anak terperhatikan, terbiayai, tersekolahkan menjadi lebih besar  dibandingkan jika memiliki banyak anak. Dengan kondisi ekonomi yang tidak terlalu bagus pun, anak-anak yang diamanahkan Tuhan ini bisa memiliki kualitas yang setara dengan anak-anak yang lain. Bagaimana jika keluarganya mapan secara ekonomi? Yang terpenting kualitas keluarga terjaga, tidak ada batasan tertentu untuk punya anak lebih dari dua –hanya negeri china lah yang menerapkan aturan ketat seputar keturunan, satu keluarga satu anak- , jika keluarga tersebut mampu meningkatkan kualitas anak menjadi lebih baik, sah-sah saja untuk punya lebih dari dua anak. Tapi justru dari keluarga mapan inilah kesadaran untuk ber-KB jauh lebih besar ketimbang keluarga pra sejahtera mengingat rata-rata pendidikan mereka pun berada di jenjang yang lebih tinggi sehingga pengetahuan mereka pun lebih baik tentang pentingnya mengikuti KB.

Untuk menciptakan pembangunan masyarakat yang berkualitas, maka kualitas keluarga agaknya menjadi pilihan wajib untuk ditingkatkan oleh pemerintah. Salahsatu program dan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas keluarga  adalah melalui program KB yang saat ini mulai kembali digaungkan. Kenapa dimulai dari Keluarga? Sederhana saja, keluarga merupakan basis pendidikan untuk seseorang, bahkan menurut Ki Hajar Dewantara “Keluarga merupakan Tri Pusat Pendidikan selain sekolah dan masyarakat.”  Keluarga  merupakan unsur terkecil yang membentuk masyarakat, jika unsur-unsur dalam keluarga sudah terbina dengan baik, maka kemungkinan untuk terbentuk masyarakat yang berkualitas baikpun menjadi lebih besar.

Hadisome-belajarpenyuluhanlewatmediaonline

2 thoughts on ““KB…. Kepalang Banyak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s