KB… Kusut Benangnya yaaaa :(

“Saya pesimis KB di negeri kita akan berhasil. untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya KB pun butuh strategi dan kemauan. strategi pemerintah hingga saat inipun tidak nampak juga. di sisi lain, pendidikan yang memunculkan kesadaran masyarakat kita pun sangat rendah. kemauan dari pemerintah dan masyarakat belum terlihat link and matchnya. siapa yang bertanggung jawab dengan program yang bernama KB itu? kalau di media-media masa sudah banyak tulisan dan komentar seperti anda. hanya saja pokok dari benang kusut itu tidak terurai juga. apa mungkin KB di negeri kita akan berhasil? dan urgensinya apa dengan KB itu untuk kemajuan negeri kita ini? ternyata banyak pertanyaan yang mesti dijawab. jangankan untuk patuh untuk berKB, kawin aja masih takut untuk tidak dapat mensejahterakan keluarganya. persoalannya bukan pada KBnya ternyata. ada faktor ekonomi, budaya, politik lebih-lebih…” Demikian bunyi komentar pada salahsatu tulisan saya yang berjudul “KB..Kok Bisa” di blog kompasiana.

Ayo Ikut KBSaya ingin sedikit menuangkan ide saya disini, bukan bermaksud sebagai tanggapan atau jawaban, apalagi menggurui atas isi komentar tersebut. Hanya sedikit concern aja pada pekerjaan yang seringkali bikin saya bête dan menggerutu itu, hehe. Pesimis? Hmm, segala sesuatu yang diawali dengan pesimis akan menghasilkan output yang tidak optimal karena belum apa-apa kita sudah kalah duluan. Semacam kalah sebelum berperang gitu deh, jadi saya hanya ingin menularkan semangat aja jika ingin hasil optimal ya harus optimis dulu.

Memang saat ini program KB sedang mengalami kelesuan (saya tidak tega jika mengistilahkan impotensi hehe) karena semenjak adanya reformasi, program bagus yang digagas oleh Pak Haryono Suyono pun terkena imbasnya. Kemauan dari pemerintah sebenarnya sudah banyak, hanya saja tantangan dari beberapa pihak akan pentingnya program ini juga tak kalah seru. Bahkan ada yang sampai hati mengharamkan ikut KB di beberapa daerah yang mungkin belum mengerti bahwa program ini lebih bersifat futuristik. Sisi optimis dari pemerintah yang saya lihat adalah dengan tetap melanggengkan BKKBN sebagai badan khusus untuk mengurusi program KB nasional. Tidak dihilangkan seperti halnya departemen penerangan (padahal masyarakat dipedalaman masih membutuhkan Jupen-Juru Penerang- sebagai satu corong pemerintah pusat yang belum mampu menjamah rakyat pedalaman secara langsung).

Mengurai benang kusut? Agaknya terlalu ribet ya jika harus mengurai benang kusut dengan segera, perlu waktu yang cukup lama untuk mengubah paradigma masyarakat tentang pentingnya ber-KB. Menurut sejarah KB yang sering ditampilkan ketika saya ditugaskan mengikuti pelatihan, para pejuang-pejuang KB tahun 70an dan 80an ada yang sampai diacungi golok  hanya karena mereka memberitahukan betapa pentingnya program ini untuk kemajuan bangsa tercinta. Tapi hasilnya bisa saudara-saudara lihat kan hari ini, bahwa pasangan muda masa kini sudah mulai sadar bahwa tidak perlu memiliki banyak anak jika tidak bisa menciptakan anak mereka sebagai generasi berkualitas. Bangsa kita saat ini mungkin sudah terbiasa dengan budaya Instant, sehingga ketika program KB hadir kembali dengan program masa depan yang belum terlihat agaknya beberapa pihak tidak terlalu menganggap ini sebagai program yang penting. Jika ditanya siapa yang bertanggung jawab, sudah barang tentu semua pihak yang hidup di Indonesia memiliki tanggung jawab yang sama akan suksesnya program ini sebagai satu penunjang kemajuan kehidupan rakyat tanah air tercinta ini.

Salah satu metode untuk memberikan pendidikan (mungkin lebih tepatnya pengetahuan) tentang program KB adalah melalui petugas-petugas lapangan yang selalu tampak dengan motor biru kebesarannya. Mereka berusaha untuk memberikan sedikitnya pengetahuan yang mereka dapatkan di pelatihan tentang KB kepada ibu-ibu yang memiliki nasib pendidikan hanya sampai tingkat dasar saja. namun, dasar sifat manusia yang tidak sama, tantangannya justru datang dari ibu-ibu  yang ogah-ogahan ketika diajak ngobrol tentang masalah ini.

Urgensi program KB? Wah tentunya penting donggg… bayangkan jika terjadi lagi baby boom? Kayaknya penjuru negeri ini akan makin terisi ya?atau jangan-jangan kota Jakarta akan tenggelam karena belum meratanya kesempatan kerja. Lalu Apa hubungannya KB dengan pendidikan, pemerataan pekerjaan, sandang pangan papan? Hehehe, nanti deh saya coba telisik. Takut tulisannya kepanjangan jadi yaaa segini dulu J (bersambung ke season berikutnya…)

Salam kompasiana

Hadi – belajarpenyuluhanmelaluimediaonline

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s