NOSTALGIA GEGERKALONGGIRANG

Mengulang masa-masa kuliah S1 jelas sesuatu yang tidak mungkin, tapi mengulang ke tempat-tempat semasa saya kuliah, itu sudah saya lakukan kemaren malam (2 oktober 2009). Berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Biologi (fakultas pendidikan MIPA) telah mengantarkan saya menjadi pegawai birokrasi di kota kelahiran saya, Cianjur. Segudang pengalaman semasa kuliah beserta segenap pernak-perniknya kini hanya menjadi bagian dari sebuah masa lalu yang dibingkai dalam frame kenangan, indah dan tidak indah.

Semasa kuliah, saya tinggal di sebuah tempat kost didaerah gegerkalong girang Bandung, harga pertahunnya waktu itu Cuma satu juta hingga satu setengah juta rupiah saja. Dapat tempat kost yang dua juta keatas, pastilah akan mendapat fasilitas lengkap yang disediakan oleh sang empunya kost tersebut. Hanya berjarak sekitar 20 meter dari pondok pesantren terkenal Daarut-tauhiid pimpinan Abdullah Gymnastiar, tempat kost saya bisa dikatakan berada di pusat Gegerkalong girang. Dari sini saya bisa memantau kegiatan-kegiatan yang terjadi di pesantren tersebut. Apalagi saat itu (antara tahun 2000-2004) pondok pesantren tersebut sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Hampir dipastikan, jika memasuki malam jumat maka kegiatan di pesantren tersebut akan sangat ramai. Nuansa religious terasa kental karena adanya pengajian malam jumat. Jumlah jamaah yang datang pun membludak karena banyaknya jamaah yang berasal dari kota lain yang sengaja datang untuk mendengarkan ceramah dari seorang aa gym.

DtTak pelak lagi, kemajuan pesantren ini turut membangun kemajuan ekonomi warga masyarakat sekitar. Tempat kost yang berada di kanan kiri pesantren tersebut mulai dimanfaatkan sebagai tempat penginapan, jumlah pedagang kian hari kian banyak, pun yang turut mengadu nasib dari kota lain untuk berjualan, agaknya mengalami peningkatan. Cukup, saya hanya memantau keadaan social ekonomi sekitar pesantren tersebut hingga tahun 2004, tahun dimana saya berhasil menyelesaikan empat tahun studi kesarjanaan saya. Dengan berat hati, saya pun kembali lagi ke tanah kelahiran saya *setelah sebelumnya saya bekerja di Kota Bogor* untuk mengikuti seleksi CPNS, dan diterima.

Lima tahun kemudian setelah sekian lama tak berkunjung ke Gegerkalong, akhirnya saya memperoleh kesempatan untuk kembali menapaki jalan Gegerkalong girang. Setelah mengikuti badminton bareng bersama teman-teman MBI (Masyarakat Bulutangkis Indonesia) unit Bandung, saya pun sengaja mengunjungi teman saya yang kini menempati tempat kost dimana saya kost waktu kuliah dulu. Tiba di setiabudhi pukul 10 malam, saya sengaja berjalan kaki dari mulut jalan Gegerkalong hingga ke tempat kost lama saya untuk napak tilas.

“Pangling” hanya itu kata yang terlintas dikepala saya melihat banyak sekali perubahan di jalan tersebut. Beberapa yang tidak berubah adalah warung nasi 31, nasi kuning Ibu Ani, cencom internet rental, dan tentu saja tempat kost saya yang lama. Sisanya, bisa dipastikan semuanya adalah bangunan-bangunan baru juga tempat-tempat usaha baru di sepanjang jalan tersebut. Ramai? Keliatannya tambah ramai, Tapi entah dengan situasi pengajiannya setelah peristiwa “Aa Gym Nikah Lagi” yang menjadi sorotan publik selama beberapa waktu, Apakah mengurangi kuantitas pengunjung program wisata rohani dengan Aa Gym yang menjadi magnet daya tarik orang untuk mengunjungi Daarut tauhiid.

Sekilas saya melihat dari luar, interior bangungan masjid daaruttauhiid yang adem *buat saya ketika dulu sering ikut berjamaah magrib, isya, dan kadang2 subuh hehe* sudah mengalami perubahan yang menjadi lebih bagus. Pagar tangga menuju ke luar mesjid dibuat dengan desain minimalis. Ahh sayangnya saya tidak sempat masuk kedalam, karena jam sudah menunjukkan 10.15 malam. Treeeetttt, pikiran saya kembali ke masa-masa dimana saya masih berbobot 48 kg sebagai anak kost. Kangen sekali dengan masa-masa itu.

“FANTASTIS” itu kalimat kedua yang menguasai otak saya ketika teman saya menyebutkan range harga tempat kost dikawasan itu saat ini. “Antara 4-5 jutaan, itu yang standar”. Busyeettttt, apakabar dengan duit sejuta setengah waktu itu? Heheheheh. Ck ck ck, kemajuan jaman dan pertumbuhan ekonomi di sekitar pondok pesantren tersebut telah mengubah wajah Gegerkalong menjadi lebih elit, setidaknya demikian dalam sudut pandang saya tadi malam hehehehe.

###########

Pagi hari ketika saya pulang lagi dari kawasan tersebut, saya menyempatkan mengunjungi warung nasi kuning langganan saya sarapan ketika masa kuliah dulu. Persis di belokan bersebrangan dengan pertigaan jalan gegerkalonggirang baru lokasi warung ini. Ibu Ani nama pemilik warung tersebut, tidak tampak diwarungnya, hanya anak gadisnya saja yang melayani pembeli. Saya tidak bertanya macam-macam pada anak itu, karena dulu ketika saya sering mampir kesana, anak itu masih kecil. SD kelas akhir mungkin, jadi dia tidak akan ingat bahwa saya adalah pelanggan setia warung ibunya. Tepat ketika saya menyelesaikan suapan terakhir, ibu Ani datang dengan masakan yang baru dia olah yang siap dia jual. Tidak ada yang istimewa hingga kami beradu tatap.

“Cep.. aya didieu? (Cep, Ada disini?)” Sapaan hangatnya membuat saya terharu, betapa tidak waktu lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah perpisahan, dan Ibu Ani masih mengingat saya sebagai pelanggan setianya.

Curatcoretngganyambung-hadisome*3Oktober2009/Hariulangtahunbabegue*

2 thoughts on “NOSTALGIA GEGERKALONGGIRANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s