FLASHBACK 2- CERITA PRIBADI SEBUAH PENGABDIAN (SEASON 1-PART 2)

Sambungan dari part-1. Klik disini kalo pengen baca!

Masuk musim penghujan, sungguh sangat tidak mengenakan ketika harus bertugas ke pelosok. Apalagi fasilitas kendaraan operasional kantor yang sangat tidak layak pakai membuat saya memilih menggunakan angkutan umum elf menuju ke tempat tugas bernama Leles tersebut.

Sungguh, bukan sebuah pengalaman yang menarik untuk diulang , namun karena ketiadaan fasilitas kendaraan akhirnya saya memilih moda transportasi beroda empat untuk menuju sebuah kampung bernama Leles tersebut. Setiap kali berangkat tugas, saya harus berjejal-jejal berbagi tempat duduk bersama penumpang lain warga asli Leles yang pulang dari Kota. Tidak hanya manusia yang menumpang angkutan ini, sepeda anak, sayuran, buah-buahan, bahan-bahan material, bahkan kambing dan ayam pun turut serta menjadi penghuni sarana transportasi tersebut, serta disimpan diatas atap mobil itu. Bahkan penumpang orang pun kadang naek ke atap kap mobil dan duduk disana, tidak peduli panas menyengat dan hujan gerimis, yang penting sampai! Karena jarangnya angkutan dari dan menuju ke Leles.

moda transportasi Cianjur selatan

beginilah moda transportasi menuju cianjur selatan

Tidak usah saya gambarkan bagaimana bentuk elf tersebut. Anda lihat saja angkutan pemulangan TKI, nah seperti  itulah gambarannya.

Adalah satu hari dimana saya harus mengambil hasil pendataan rakyat miskin yang layak diberi kartu asuransi kesehatan untuk keluarga miskin –belakangan bernama Jamkesmas. Memang sebenarnya leading sector nya adalah dinas kesehatan, tapi entah kenapa ketika dilapangan dan berhubungan dengan pendataan petugas penyuluh KB lah yang kebagian proyek tanpa uang tersebut hehehe. Dua desa binaan yang saya pegang, tidak ada masalah ketika saya mengambil hasil di desa Pusaka sari yang merupakan ibukota kecamatan Leles. Stop, anda jangan membayangkan ibukota kecamatan seperti di kota. Yang dimaksud ibukota kecamatan disini hanya karena ada beberapa pertokoan grosir, pemberhentian elf terakhir, kantor desa, kantor kecamatan, puskesmas, dan sebuah MTs yang merangkap menjadi SMA disore hari nya. Desa binaan saya yang lain yaitu desa Karyamukti, berada di seberang sungai Cisokan yang cukup lebar. Yang menarik untuk diceritakan disini adalah akses untuk menuju Karyamukti.

ilustrasi sungai

ilustrasi sungai

Seperti saya bilang tadi, desa Karyamukti berada di seberang sungai Cisokan yang cukup lebar. Bukan sekali dua kali saya kesana. Meskipun belum ada jembatan penghubung antara Karyamukti dan Pusakasari, saya menyeberang dengan cara turun langsung ke sungai jika sedang musim kemarau. Toh Cuma semata kaki tinggi air sungainya. Jadi, no problemo! Tapi, hari itu adalah musim hujan. Musim dimana debit air sungai cisokan sedang tinggi-tingginya. Warga sekitar memilih menaiki rakit atau memutar ke desa sukamulya yang jaraknya lebih jauh untuk mencapai ibukota kecamatan. Lain dengan saya, karena diburu waktu dan memang deadline pengumpulan data adalah hari besoknya, maka tidak ada jalan lain selain memotong kompas menggunakan rakit. Saya bulatkan tekad!  Sepatu boot merek AP hasil pinjaman dari orang kecamatan saya pakai (karena belum pengalaman, saya tidak melapisi kaki saya dengan kaos kaki dan hasilnya hehehe bisa ditebak, kaki saya lecet-lecet). Kemudian sekitar 1 Km saya berjalan ke mulut sungai untuk menyeberang.

Ya Tuhan, airnya lagi pasang. Tidak ada orang yang sedang menggunakan rakit! Rakit ada disisi seberang sana. Saya pun termangu disisi sungai berwarna coklat tersebut. Bingung dan panik ketika melihat arus sungai yang deras yang mungkin setinggi pinggang saya jika saya nekad turun ke sungai untuk menyeberang. Akhirnya saya diam beberapa saat hingga seseorang dari seberang sana muncul, dengan berteriak lantang laki-laki tersebut menanyai saya yang berseragam lengkap seorang PNS.

“Pak, Bade kamana? (Pak, mau kemana?)” teriaknya

“Ka Karyamukti.” Jawab saya tak kalah lantang

“Kana rakit we, wios ku abdi di dorong da abdi ge petugas desa karyamukti (Naik rakit saja, biar saya yang dorong. Saya juga petugas desa karyamukti).” Jawabnya membuat saya setengah gembira.

Dengan sigap dan tanpa aba-aba, cebur cebur, dia turun ke sungai dan mendorong rakit tersebut hingga ke tepi dimana saya berdiri. Dia mengkomando saya untuk naik rakit tersebut, dan dia tetap mendorong. Lebih dari paha tinggi air di orang yang berperawakan lebih tinggi dari saya itu. Selesaikah kepanikan saya? Belum… arus air yang deras, ditambah ketidakbisaan saya berenang membuat nyali saya ciut. Ya Alloh selamatkan lah hamba hingga tepi sebelah sana. Pertolongan Tuhan datang disaat yang tepat, demikian kesimpulan saya setelah tiba di seberang sungai.

Ternyata penderitaan saya belum selesai, jalan tanah yang menjadi satu-satunya akses ke karyamukti sudah berubah menjadi lumpur yang sulit dilalui. Tanggung, sudah ¾ jalan, saya harus bisa mencapai rumah kepala desa, tempat saya bertemu dengan aparat desa yang akan menyerahkan data tersebut. Menyeret langkah dengan berat karena tumpukan tanah bercampur lumpur di  sepatu boot saya, akhirnya saya berhasil tiba di rumah sang kepala desa. Tidak perlu waktu lama untuk mengambil data tersebut karena sudah tersedia. Saya pun kembali menuju mess kecamatan, itu artinya saya harus melewati sungai itu lagi, naik rakit lagi! Beruntung, ketika saya menyeberang ada orang desa karyamukti yang juga akan menyebrang. Bedanya, rakit tersebut didayung dengan menggunakan galah bamboo, tidak didorong dengan tangan. Ini lebih menantang karena saya harus menjaga keseimbangan. Dengan penuh kecemasan, akhirnya saya pun berhasil menyelesaikan tugas itu dengan baik….. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s