PUP……

Upsss.. jangan negative thinking dulu. Hehehe, sayangi pikiran anda jangan diisi hal-hal kotor ah. Pup disini artinya pendewasaan usia perkawinan, bukan yang lain, merupakan salah satu program yang diusung oleh pemerintah khususnya pengelola program KB,  supaya remaja Indonesia, khususnya remaja-non kota besar, agar tidak menikah di usia muda.

menunda usia perkawinan, mematangkan apa yang seharusnya matang hehe (dok.pribadi)

menunda usia perkawinan, mematangkan apa yang seharusnya matang (dok. pribados)

Anda tentu belum lupa dengan kasus Syekh Puji yang menikahi seorang gadis dibawah umur, Lutfiana Ulfa . Kira-kira apa yang akan terjadi pada masa depan Ulfa setelah “bercerai” dengan sang suami yaaa?

Anda mungkin tidak  pernah membayangkan, bahwa ternyata ada banyak Ulfa-Ulfa lainnya yang dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan alasan yang sederhana “supaya tidak membebani lagi orangtua”. Di kota besar, fenomena anak gadis remaja yang menikah di bawah umur mungkin agak sulit ditemui. Tapi coba tengok saudara-saudara kita yang tinggal di pelosok, ada banyak gadis remaja yang baru mletek yang dinikahkan oleh orangtuanya. Jangan heran, menikah di usia dibawah 20 adalah hal yang menjadi sebuah kelaziman di daerah yang tergolong pelosok. Faktor pendidikan dan himpitan ekonomi menjadi dua alasan utama pasangan orangtua yang memiliki seorang anak gadis remaja untuk segera menikahkannya.

Tadi ketika saya berkunjung ke poskesdes sebuah desa di kota kelahiran saya, saya agak tertegun. Kenapa? Adalah Ndar nama panggilannya, tadi dia datang ke sebuah poskesdes untuk disuntik KB 3 bulanan padahal usianya baru 18 tahun. Beban hidup yang cukup berat membuat wajahnya tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Di usia yang kira-kira baru lulus SMA itu, Ndar sudah mempunyai seorang anak batita. Dengan kata lain, mungkin Ndar menikah antara usia 16 atau 17 tahun.

Miris rasanya jika melihat ‘anak kecil’ sudah menggendong bayi. Sama seperti Ndar, banyak  gadis remaja di daerah yang  sudah harus menjadi Ibu padahal jika tidak siap secara mental itu bukanlah hal yang gampang. Secara psikis, menikah, mengandung, dan mengasuh anak itu membutuhkan sebuah kematangan mental. Bisa dibayangkan, jika remaja yang masih asyik dengan dunia mainnya, tiba-tiba harus menikah dan melahirkan, bukan tidak mungkin dia akan sedikit menelantarkan sang bayi karena dia belum merasa terpuaskan bermain dengan teman-teman sebaya nya. Menurut literature yang pernah saya baca, masa remaja merupakan masa transisi dimana fisik seseorang mulai mengalami perubahan. Jika di usia remaja seorang wanita sudah harus hamil, bukan tidak mungkin mereka akan mengalami kesulitan dalam persalinan karena di usia kurang dari 20 rahim dan panggulnya belum berkembang dengan baik

Dari keprihatinan tersebut, BKKBN sebagai badan Negara yang concern dengan urusan keluarga berkualitas melahirkan program PUP yang lebih diarahkan kepada remaja sebagai subjeknya. Dengan menunda perkawinan hingga masa yang tepat, bisa mendorong lahirnya sebuah keluarga yang berkualita. Lantas berapa usia yang tepat untuk menikah tersebut? Usia ideal perkawinan untuk laki-laki adalah minimal 25 tahun, dan minimal 20 tahun bagi perempuan. Usia 25 tahun bagi laki-laki sudah dianggap matang dari segi emosi, ekonomi, dan sosial. Begitu pula usia 20 tahun bagi perempuan sudah dianggap matang dari segi emosi, sosial, dan kepribadiannya. Seorang penyuluh seperti saya, harus selalu mengingatkan para orangtua agar tidak menikahkan anaknya yang masih dibawah umur karena sang anak tentulah belum siap secara fisik dan psikis. Jadi, untuk sahabat-sahabat yang membaca ini, agar lebih concern terhadap tetangganya yang memiliki anak remaja  terutama mereka  yang hidup dibawah garis kemiskinan dan berpendidikan rendah. Ingatkan mereka supaya tidak menikahkan anak gadisnya yang masih dibawah umur,  ajaklah anak remaja mereka untuk bergabung dalam kegiatan-kegiatan di lingkungannya. Bisa karangtaruna, kelompok belajar, atau jika didaerah anda ada PIK KRR  ajaklah mereka untuk bergabung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s