Sekedar Refleksi!(sebuah tulisan untuk kompasiana.com-lagi)

“….Kawan coba dengar apa jawabnya, ketika ia kutanya mengapa?

Bapa ibunya telah lama mati, ditelan bencana tanah ini.

Sesampainya dilaut, kukabarkan semuanya

Kepada karang kepada ombak kepada matahari

Tetapi semua diam, tetapi semua bisu

Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit,

Barangkali disana ada jawabnya

Mengapa ditanahku terjadi bencana

Mungkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”

Coba deh, telaah lirik lagu Ebiet G.Ade yang saya tulis diatas. Kemudian resapi dan maknai baris demi baris liriknya. Masih relevan bukan dengan keadaan Bangsa kita sekarang? Padahal seingat saya, lagu ini adalah lagu lama dan populer kembali ketika bencana tsunami meluluhlantakkan bumi serambi mekah tahun 2004 lalu.

Sebelum menulis ini, saya menulis sebuah tulisan berjudul “etis ngga sih?” yang sedikit mengulas tentang keberadaan kita di dunia maya yang juga harus menggunakan tatakrama seperti halnya di dunia nyata. Saya tidak ingin menyerang siapapun dalam  tulisan ini, namun karena merasa “kasihan” dengan seseorang yang memposting kejadian bencana dikaitkan dengan tindakan mistis, maka lahirlah tulisan ini.

Coba telaah sekali lagi 4 baris terakhir lirik lagu kang Ebiet. Disitu terkandung sebuah refleksi yang dalam kepada diri kita bahwasanya kejadian bencana ini terjadi karena kita terlalu sering berbuat dosa. Tidak mau munafik, bahwa saya juga memberikan kontribusi untuk terjadinya bencana mengingat dosa-dosa yang saya lakukan (dan tidak mungkin diumbar disini, dosa apa itu). Tapi alangkah sempitnya pikiran saya jika karena terjadinya gempa di beberapa kota di Indonesia yang berturutan dalam dua bulan terakhir ini, kemudian saya menyalahkan seorang pimpinan negeri saya yang sama sekali saya tidak tau keseharian pribadinya seperti apa. Bukannya saya pro terhadap beliau, tapi ketika ada sebuah doa yang mengancam (deuhhh aming banget gak sih gue hahaha) ternyata sisi kemanusiaan saya terketuk dan tergerak untuk memberitahu bahwa doa keburukan untuk orang lain itu tidak boleh. Bayangkan deh jika anda berdoa untuk keburukan saya, dan para malaikat memanjatkan doa yang sama untuk anda? Ngeri ngga sih jika apa yang anda panjatkan itu akhirnya menjadi boomerang bagi diri anda sendiri?

Sekali lagi, saya hanya berharap, yuk kita isi kompasiana kita dengan bacaan-bacaan yang bermanfaat dan edukatif. Mariska Lubis dengan seks-nya, Omjay dengan tema kependidikannya, pak JK, pak Chappy Hakim, pak Adang Daradjatun, Mbak Marissa haque, dan  tokoh-tokoh lainnya dengan kepakarannya masing-masing. Mari kita buat kompasiana kita sebagai perekat persatuan dan kesatuan. Bukankah hal besar dimulai dari hal kecil yang seolah-olah sepele? Bukankah jarak ribuan kilometer dimulai dari sebuah langkah kecil dulu?

Alangkah indahnya, jika semua anggota yang memposting disini tidak melakukan ulah yang bisa memprovokasi. Jangan sampai deh kompasiana kita dibredel karena ulah oknum-oknum anu teu tanggel waler alias tidak bertanggung jawab.  Termasuk komentar-komentarnya juga, jangan saling memojokkan. Bukankah kompasiana lahir untuk menjembatani hasrat menulis saudara-saudara semua?

CMIIW🙂

Salam hangat dari kota kecil berhawa sejuk

HADI

hehe, ilustrasi doang ini mah (dok.pribados)

hehe, ilustrasi doang ini mah (dok.pribados)

2 thoughts on “Sekedar Refleksi!(sebuah tulisan untuk kompasiana.com-lagi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s