Pedagang lontong dan cucunya

Ini saya tulis ketika makan lontong sambil menunggu teman sebelum berangkat ke Jakarta. Didorong rasa ingin tau atau emang punya naluri citizen journalist J saya mengajak ngobrol seorang  ibu penjual lontong yang kebetulan saya singgahi untuk mengisi perut saya dipagi hari. Menurut pengakuannya, saat ini dia berusia 38 tahun, namun garis-garis tua sebagai seorang nenek sudah sangat kentara pada wajah ibu ini. ditambah kehadiran seorang anak kecil yang saya pikir tidak mungkin anaknya membuat saya menghadirkan hipotesa sederhana yang mengalir dari pikiran saya:”kesulitan hidup akan membuat orang lebih tua daripada usia sebenarnya”.

lontong

melayani pembeli (dok.pribados)

Sambil melayani pembeli, sesekali ibu tersebut menjawab keingintahuan saya yang saya ajukan dalam bentuk pertanyaan dan percakapan sederhana. Dia berkisah bahwa cucunya ini baru berusia 3 tahun, ibu dari cucunya ini (yang mana adalah anaknya) baru berusia 19 tahun dan sudah menikah 2 kali karena bercerai dengan suami yang pertama. Ibu ini berkisah bahwa dia menikahkan anaknya ketika masih usia SMP, sekitar 13 tahunan. Coba anda bayangkan di usia yang belum genap 20 tahun, anak ibu tersebut sudah menjadi ibu kemudian menjadi janda dan menikah lagi untuk yang kedua di usia 19. Saya pernah menulis mengenai penundaan umur kawin pertama supaya remaja yang sudah dituntut menikah oleh orang tuanya memiliki pengetahuan untuk tidak kawin muda, yaaa setidaknya memiliki pemahaman bahwa kawin muda itu rentan terhadap permasalahan sosial, psikis dan juga fisik. Ditinjau dari permasalahan sosial, seorang remaja yang menikah muda akan mengalami benturan dengan suaminya diakibatkan belum matangnya psikis mereka sehingga dengan mudah mereka akan memutuskan bercerai. Selain itu, menikah di usia dini akan menimbulkan masalah ketika lahir seorang anak. Usia remaja, yang notabene adalah usia dimana seseorang sedang senang-senangnya bermain, tiba-tiba harus direpotkan dengan masalah mengurus bayi. Ketidaksiapan mental itulah yang mendorong si remaja tersebut menitipkan anaknya pada neneknya. Seperti yang dialami oleh cucu ibu penjual lontong tersebut. Nah Sekarang baru diketahui betapa pentingnya PUP bukan? PUP=pendewasaan usia perkawinan.

pedagang lontong dan cucunya

pedagang lontong dan cucunya (dok. pribados)

Kemudian saya menanyai usia si ibu ini ketika dulu menikah, dia menjawab masih sangat muda makanya sekarang dia sudah punya cucu. “Usia SMP lah” demikian jawabnya sambil tersenyum menerawang. Betapa sebuah repetisi sejarah terjadi lagi pada anak sulungnya, dikarenakan kurangnya informasi dan rendahnya tingkat pendidikan yang mereka dapatkan.  Saya membayangkan suaminya yang juga masih muda, dan benar dugaan saya ternyata sang suami belum genap 50 tahun. Baru berumur 47 katanya.

Mungkin karena dia melihat celana seragam yang saya pakai, bagian dari birokrat pemerintah, maka dengan serta merta dia berkisah tentang kehidupan sehari-hari mengenai ekonominya. Betapa berat rasanya jika saya menjadi dia. Ditengah harga-harga yang membumbung tinggi, dia masih setia dengan profesinya. Kesetiaan karena ketiadaan pilihan. Saya tersentak kaget manakala dia berkisah betapa dia harus morat marit menutup biaya produksi lontong ketika minyak tanah melejit ke harga 12000. Bukan nominal yang sedikit bagi penjual lontong seperti ibu tersebut, namun dia tetap bertahan dan mensyukurinya bahwa dia memiliki pelanggan setia. Bahkan, masih menurut dia, kadang dia melayani pembeli berdasarkan sisi kemanusiaan.

“Maksudnya?”

“Yaaa kadang ada pembeli yang, misalnya keluarga pasien rumah sakit yang datang dari kampong, dan membeli tanpa sesuai harga perporsi ya saya layani. Saya menjual 4000 per porsi, namun mereka memberikan pilihan 5000 untuk dua orang, ya saya layani saja. habis kasihan sih.” Terangnya diiringi senyum mengembang. Sekedar info tambahan, ibu ini memang menjual lontong di dekat sebuah Rumah Sakit.

Alloh memang Maha Adil. Itu konklusi saya yang kedua.

Ketika saya Tanya kenapa masih memakai minyak tanah, bukankah ada konversi kompor gas?

Dengan tetap ceria dan bersemangat, Ibu Yati nama penjual lontong ini, berkisah bahwa dia tidak terdata oleh pihak kelurahan dimana dia tinggal. Hanya karena dia bukan penghuni asli kelurahan tersebut dan tidak memiliki kartu keluarga. Memang sih, aturannya harus memiliki ktp dan KK (Karu keluarga). aarrghhh betapa tidak adilnya pemerintah.

Menurut pengakuannya, lagi, dia sempat memakai hawu (perapian), tapi dia mengeluhkan bahwa harga kayubakar pun tidak kalah mahal. Sebuah ironi ditengah kehidupan modern.

Naluri kepenyuluhan saya bergerak, saya bertanya mengenai KB yang dipakainya.

“IMPLANT, tapi sekarang sudah tidak lagi”

Lho, ngga takut hamil bu?

“kata bu bidan sih, katanya gak bakalan hamil lagi, jadi yaaa dilepas aja. Jangan sampai hamil lagi lah, repot soalnya kalo punya anak lagi. Sekarang aja punya 3 udah lieur biayanya. Lagipula saya udah punya cucu” demikian dia menjawab diiringi senyuman diwajah tua nya.

Hari ini saya belajar, bagaimana caranya bersyukur kepada Alloh SWT. Bukan dengan hura-hura foya-foya. Menghindari KELUHAN seperti yang dilakukan Ibu Yati ketika dalam menjalani kerasnya hidup bisa menjadi sebuah rasa syukur kepada Sang MAHA.

Sambil menunggu ke Jakarta

 

HADI, 28 Oktober 2009.

4 thoughts on “Pedagang lontong dan cucunya

  1. Ping-balik: Berburu Gelar « Hanya Sekedarcatatan

  2. Googling kuliner cianjur malah sampai ke blog ini, sy sering ke cianjur dan beberapa kali beli lontong sayur di ibu ini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s