Sikap Antikritik

penghapus pensil

penghapusssssssssss

Bangga kah anda sebagai bangsa Indonesia? Jika pertanyaan itu dialamatkan kepada saya, maka serta merta saya jawab BANGGA!  Karena bangsa kita memiliki keragaman potensi yang sebenarnya akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat jika dikelola dengan baik.

Tapi jika ditanya Banggakah saya menjadi bagian dari bangsa yang antikritik? Saya dengan tegas akan menjawab TIDAK! Karena dengan kritiklah justru seharusnya bangsa kita bisa menjadi bangsa yang maju.

Tulisan ini lahir dari keprihatinan saya setelah menuangkan 2 kritikan kepada satu media yang saya sangat sukai, secara terbuka. Semacam di ruang publik gitu deh hehehe… Awalnya, saya melihat sebuah subjektifitas yang saya pikir perlu diluruskan.  Tidak perlu sebutkan media mana itu, yang jelas sebuah media blog keroyokan dimana saya sering berkontribusi belajar menulis disana.

Awalnya karena keisengan saya, sebagai buah dari rasa gemas saya terhadap sebuah tulisan seseorang yang tidak dinaikkan menjadi berita utama. Pun demikian, saya menulis yang ternyata menjadi sebuah topik hangat, juga tidak naek berita utama. gapapa,tidak masalah bagi saya, karena bukan disitu masalahnya. Tapi unsur subjektivitas yang dikedepankan, bukan objektivitas, yang menjadi sesuatu yang mengganjal dihati saya. Sebagai pemberi kontribusi, saya tidak memiliki kepentingan apakah harus naik menjadi headline atau tidak, yang penting tulisan saya dibaca orang dan kualitas tulisan saya gak buruk-buruk amat! Tapi tunggu, jika sudah menyangkut subjektivitas nurani saya lah yang protes.

Mengikuti kata hati, akhirnya saya pun memberanikan diri melontarkan semacam kritik pedas yang saya tulis dalam bentuk artikel yang pada intinya mempertanyakan, kok tulisan dari para admin (demikian sebutan bagi para pengelola) selalu menjadi topic utama padahal isinya biasa-biasa saja, tidak menggebrak, dan berisi info yang tidak terlalu hangat. Kritik yang saya tujukan khusus ini, mendapat reaksi keras dari dua pengelola media tersebut.

Saya tau, dan paham serta sudah membaca, kriteria apa saja yang bisa masuk menjadi headline berita. Yaitu menarik, berupa laporan (jurnalisme)  warga dan bermanfaat bagi pembacanya. Dan memang, beberapa tulisan dari non pengelola sudah masuk criteria itu. Tapi tunggu, tidak semuanya seperti itu, kok. Ada tulisan yang saya nilai biasa2 saja, namun karena datangnya dari pengelola media tersebut, bia naek menjadi topic utama. Inilah yang menjadi buah pikir saya tentang kritik mengkritik pada media tersebut. Konsistensi dan objektivitas.

Sebagai seorang teman yang ingin memajukan media tersebut, agaknya saya memang terlalu keras dalam melontarkan saran kritik. Saya belum paham, bahwa sebagian besar orang tidak mau dikritik didepan publik. Akibatnya, sebuah tulisan yang Cuma berisi dua paragraph yang intinya adalah pertanyaan sebuah pernyataan yang terkandung dalam judul, dibredel alias dihapus hehehe. Saya menulis begini

Orang yang tidak mau dikritik = tidak mau maju

Bener ngga sih, pernyataan saya diatas? Correct me if im wrong

(Maaf, ini gak ada kaitannya dengan tulisan yang kemaren)

Sebuah komentar muncul dari teman baru saya di media tersebut, dan ditimpali oleh komentar teman baru saya yang lain. Dari situ, mulai beradu komentar untuk sekedar lucu-lucuan. Jadi akhirnya seperti sebuah chatting dan dengan sendirinya komentar di postingan tersebut melejit mencapai angka 32. Dan membuat orang merasa tertarik untuk melihat, apa sebenarnya yang membuat tulisan ini menarik padahal isinya hanya dua baris.

Teman baru saya yang lain, akhirnya mampir dan member komentar bahwa dia merasa terhibur. Sedangkan satu lagi, seorang editor penulis seputar seks memberikan tanggapan bernada entah pujian  atau apa, intinya bahwa saya berhasil memancing orang untuk mengklik postingan tersebut.  Provokatif, itu mungkin istilah yang tepat! Tapi maaf, tulisan saya tidak bertujuan untuk memprovokasi orang supaya masuk postingan tersebut. Dua teman saya lah yang membuat room postingan tersebut menarik karena mereka yang adu komentar lucu-lucuan dikolom komentar postingan tersebut. Dan saya sangat berterima kasih sama mereka!

Entah atas dasar apa, sampai saat ini saya tidak mengerti, ketika saya sedang mengedit catatan terbaru saya, tiba-tiba postingan dengan komentar terbanyak peringkat keempat tersebut  menghilang. Saya yakin, se yakin-yakinnya bahwa saya tidak pernah menghapus postingan maupun komentar yang masuk tersebut. Toh, saya beranggapan itu sebuah pertanyaan yang tidak ditujukan kepada siapapun termasuk kepada para pengelola.

Ah, apapun alasannya. Saya Cuma pengen kasih tau, janganlah anda bersikap antikritik jika ada sebuah kritik membangun yang menghampiri anda. Meskipun disampaikan dengan bahasa yang agak sedikit menguliti dan membuat muka merah, toh itu untuk kemajuan anda. Sudah selayaknya anda menjadi seorang yang berbesar hati jika memang kemajuan yang anda inginkan dalam hidup anda.

Semoga, kedepannya, rakyat kita-Indonesia menjadi rakyat sekaligus bangsa yang tidak antikritik. Hilangkan feodalisme gaya baru itu supaya kita maju dan sejajar dengan bangsa lain di dunia. Dan kuncinya, harus dari diri sendiri dulu. Mau menerima kritikan membangun meskipun pahit. Laksana jamu, diminum pahit namun memberikan kebugaran pada tubuh anda.

Salam kritik

hadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s