Perempuan tegar itu mulai menua, sesosok Pahlawan berjasa bernama GURU.

Seorang guru, sejatinya, adalah panutan dan contoh bagi murid-muridnya. Menularkan semangat hidup untuk siswa-siswanya. Membuka cakrawala berpikir dengan memberikan pengetahuan yang dia miliki hingga mengantarkan anak didiknya sukses meraih puncak karir tertinggi.

 

Tidak ada presiden yang lahir tanpa guru. Tidak ada dokter, ulama, dosen, peneliti, professor, wartawan, hadir tanpa seorang guru. Guru pendidikan sekolah dasar yang selalu dipandang sebelah mata, namun jasanya tiada terkira.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk guru sekolah dasar tempat saya menimba ilmu. Seorang perempuan tegar, yang tidak kalah tegarnya dengan Bu Mus Laskar Pelangi. Seorang sosok yang selalu menjadi inspirasi bagi muridnya ketika memasuki jenjang dewasa.  Ibu Lilih Halimatus Sya’diah. Juga untuk guru-guru SDN Taman Sari Cianjur lainnya: Ibu Syarifah (Bu Ipah), Ibu Imas Masliah, Ibu Neneng, Ibu Neni Sumiati, dan yang lainnya.

***

Saya mengenal sosoknya ketika mulai memasuki jenjang sekolah dasar. Seorang sosok yang, menurut saya, tegas dan berwibawa. Perempuan muda yang gigih memintarkan anak-anak kampung seperti saya untuk bisa membaca dan menulis. Hingga banyak yang melek hurup setelah beliau mengajarkan bagaimana bentuk sebuah hurup dan bunyi apa yang bisa diucapkan untuk hurup tersebut.

Perempuan energik ini begitu bersemangat jika memasuki kelas. Tidak pernah sedikit pun saya melihat ada raut kesusahan hidup di wajahnya. Ibu muda yang baru berputri satu, kala itu, bersuamikan seorang pegawai honorer Pemkab Cianjur. Keluarga muda ini, kala itu, menempati rumah dinas di lingkungan sekolah saya.

Meskipun saya tidak pernah diajar secara langsung oleh beliau, namun sosoknya begitu melekat di benak saya. Saya ingat bagaimana ketika beliau mendidik kami menjadi petugas upacara bendera untuk pertama kalinya ketika kami menginjak jenjang kelas 4, mulai dari membina seorang teman saya menjadi pemimpin upacara, hingga membina puluhan siswa lainnya untuk kompak menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Tidak ada raut kesal pada wajahnya meskipun, kala itu, kami sangat susah diatur. Tidak ada rasa kecewa manakala kami membuat kesalahan dalam melangkah menuju lapangan dengan melangkahkan kaki kanan disertai ayunan tangan kanan. Semua diiringi oleh kasih sayang, hingga kami tidak jemu berlatih dan akhirnya berhasil menunaikan tugas sebagai petugas upacara kenaikan bendera di hari senin.

***

Memasuki masa perpisahan di kelas 6, Ibu guru ini kembali membina kami untuk mempersembahkan sebuah perpisahan terbaik. Beliau mengajar teman-teman saya yang berbakat menyanyi dan menari untuk menampilkannya diatas panggung ketika pementasan samen (perpisahan akhir) digelar. Lagi-lagi, tidak ada raut jenuh manakala teman-teman saya melakukan kesalahan gerakan tarian. Hingga akhirnya, sebuah pementasan sederhana itu bisa saya katakan sukses kala itu.

***

Lebih dari sepuluh tahun, saya tidak pernah ada kontak langsung seperti ketika saya bersekolah di SD, hanya sesekali saja saya bertemu muka dengan beliau di jalan. Salam sun tangan penuh takzim, tidak pernah saya lewatkan ketika bertemu salah satu dari sekian banyak guru-guru SD saya. begitupun dengan Ibu Lilih HS, saya selalu memberikan penghormatan khusus ketika berpapasan di jalan.

Di sebuah jum’at, saya mendengar pengumuman bahwa suami dari Ibu Lilih ini wafat. Meninggalkan dunia yang telah menggerogotinya dengan penyakit Bronchitis dan asma kronis. Selama sekian tahun, sebelum kematian sang suami, Ibu guru tegar ini selalu telaten mengurus suaminya, dan mengurus 3 orang putrinya. Belum pernah saya melihat raut muka penuh keluh kesah manakala kami bertemu muka ketika Lebaran, atau berpapasan di jalan. Sosoknya tetap energik dan penuh semangat.

Beriring rasa simpati, saya pun menyempatkan diri melayat ke rumah sang Ibu guru yang ternyata masih mendiami salah satu rumah dinas yang tidak terlalu bersar, yang berlokasi di lingkungan sekitar sekolah saya. Sepotong cerita penuh ketegaran mengalir dari mulut Ibu guru ini mengikhlaskan kepergian suami tercinta.

“Saya telah mengikhlaskan kepergian suami saya. Bahkan ketika suami saya meregang nyawa, dijemput ajal, saya telah mengikhlaskannya kepada Alloh swt, jika kepergiannya yang terbaik untuknya, permudahkan semuanya. Saya mencintai suami saya, saya tidak rela dia menderita terus. Mungkin ini sudah jalan yang terbaik untuknya. Permudahkan ya Alloh, jangan Kau buat suami saya semakin menderita. Jika ini adalah keputusan Engkau yang terbaik, saya ikhlas ya Robb.”

Siapapun yang mendengarkan waktu itu, turut menitikkan air mata, tidak terkecuali saya. Tidak mudah bagi istri manapun yang mencintai suami yang telah hidup puluhan tahun, untuk melepas kepergian sang suami ke Haribaan Tuhan. Ditinggal wafat oleh orang terkasih, merupakan sebuah hal yang berat. Namun, sekali lagi, sosok ibu guru yang saya hormati ini memiliki ketegaran yang luar biasa.

***

Kini, perempuan tegar itu sudah mulai menua. Di suatu pagi, saya melewati SD tempat saya belajar dulu. Dari kejauhan tampak seorang perempuan dengan rambut yang sudah beruban sedang menyiram tanaman di halaman rumah dinasnya. Ternyata, beliau adalah ibu guru yang menjadi teladan bagi kami siswa-siswanya.

Hidup ini bukan hanya sekedar materi untuk meraih bahagia. Bukan Cuma uang yang menjadi ukuran kaya atau miskin. Dedikasi dan perjuangan yang berasal dari hati yang penuh keikhlasan, telah membukakan mata hati saya bahwa seorang guru SD yang jarang diperhitungkan di kancah manapun adalah orang terkaya yang ada di muka bumi ini. Beruntunglah seorang Ibu Lilih HS yang memiliki hati yang luar biasa kaya.

Bukankah kebahagiaan hakiki itu berasal dari hati?

Cianjur, Medio November 2009

Hadi Samsul

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s