Konflik di sebuah socialblog

Berawal dari terbongkarnya seorang tokoh fiktif, ceritapuri, di sebuah media socialblog, kini kasus tersebut merembet dan bergulir kemana-mana.

Fiktif, agaknya menjadi sebuah kata-kata sakti yang mampu menyihir orang supaya memiliki kecurigaan terhadap orang lain. Bahkan, satu orang teman, dengan terang-terangan menuduh teman yang lain. Demikian pula halnya dengan pandangan orang terhadap saya dalam kasus hoax ceritapuri ini, saya dipandang sebagai orang yang paling MARAH terhadap Puri dan tokoh pembuatnya.

Ini bukan maksud untuk klarifikasi, karena, toh, tidak ada yang perlu saya klarifikasi. Orang mau memandang demikian, ya silakan. Mau memandang kebalikannya juga, silakan. Yang jelas, apa yang mereka perhatikan kepada saya, tidak lah benar adanya.

Saya tidak pernah marah sama tokoh ceritapuri. Kenapa? Karena, dari tokoh fiktif inilah saya belajar bahwa hidup ini harus disikapi dengan positif. Dari tokoh ini pula, saya mengetahui bahwa penyakit kanker payudara bukanlah penyakit yang dipandang sebelah mata. Adapun, dengan tokoh pembuatnya, Omand dan juga Fuad,  saya tidak pernah tuh marahin mereka. Kalaupun saya mengangkat profil mereka kedalam sebuah tulisan, semata-mata untuk memberitakan bahwa tokoh pembuat cerita puri itu ada. Tidak satu orang, melainkan tim. Dan saya akui, itu adalah luapan emosional saya terhadap omand dan juga fuad.

Dalam sebuah kesempatan, saya bahkan menelepon omand dan menanyakan motif dibalik semuanya. Mengabarkan kepada oman bahwa saya sudah memaafkannya, serta mensupport mereka berdua untuk hadir di kopdar yang diselenggarakan Mariska Lubis di Bandung. Saya katakan kepada omand dan juga fuad, bahwa ini adalah kesempatan dan peluang mereka untuk menyampaikan itikad kepada para anggota socialblog tersebut. Malah, saya bilang saya bersedia menjadi fasilitator untuk mereka.

Jadi, tidak ada amarah, tuh, yang saya utarakan kepada mereka.

****

Kini, kasus yang bergulir gara-gara kontroversi ini makin melebar. Apa yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik, menjadi konsumsi publik, dan mengundang banyak komentar. Popularitas polemik di “Negara” socialblog tersebut, hampir menyamai popularitas polemik di Negara tetangganya yang masih ramai membahas kasus cicak dan buaya. Energi semua anggotanya terfokus pada polemik seputar gelar-gelaran dan fiktif-fiktifan.

Pelebaran ini, dipicu oleh seorang pemancing. Dan sialnya, saya telah terpancing dengan menuliskan sesuatu untuk mengingatkannya. Sebuah kebodohan saya, yang  ternyata mengandung banyak hikmah.

Saya tidak mengerti, apa sih, sebenarnya maksud pelempar “pancingan” ini. Memberikan statement dari 3 lokasi yang berbeda dalam rentang waktu satu minggu ini. Saya mengutarakan ini karena telah menelusurinya melalui bantuan seorang teman menggunakan software pencari IP Address locator. Jakarta, Jateng, dan DIY, adalah tiga lokasi dimana ‘pemancing’ ini pernah memberikan komentarnya. Aneh!

Siapapun dan apapun yang ada di media socialblog tersebut, saya berharap, semoga polemik ini segera disudahi. Semoga, besok, anggota media socialblog tersebut berkenan hadir di kopdar yang diselenggarakan di Bandung. Dan semoga, orang yang terkena polemik tersebut dapat menjawab dan membahas tuntas tas tas tas tentang apa-apa yang mengundang kontroversi itu.

etis

Cianjur,

20 november 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s