Berburu Gelar

Miris, deh, rasanya melihat perkembangan bulutangkis Indonesia saat ini. Hampir selama satu tahun tim merah putih berburu gelar, namun hasilnya tidak maksimal.

Omong-omong soal gelar, keliatannya, bagi sebagian orang ini masih menjadi prestise tersendiri. Tidak hanya gelar juara di dunia olahraga bulutangkis saja yang selalu diburu oleh masyarakat Indonesia, tapi di kehidupan sehari-hari pun kita masih memburu gelar lainnya. Gelar sebagai tokoh masyarakat, gelar sebagai blogger berpengaruh, gelar sebagai idola, gelar sebagai orang terkenal, gelar sebagai pemimpin, dan sebagainya.

Ilustrasi: Ketika saya dan teman-teman sedang berburu Ijazah S1 (Hadi Samsul-dok.Pribadi)

Bermacam-macam cara dilakukan untuk berburu gelar ini. Ada yang melalui cara positif, tapi tidak sedikit yang memakai cara-cara negatif yang penuh intrik. Ketika ingin memperoleh gelar popularitas yang instant, maka orang berlomba-lomba mengikuti ajang pencarian bakat. Ketika saya ingin dikenal sebagai orang yang berpengaruh, serta merta saya membuat sesuatu yang mempengaruhi dan memprovokasi orang. Ah,Itu hanya contoh kecilnya saja, kok….

Demikian halnya dengan gelar akademis yang masih dijadikan sebagai patokan untuk meraih kesuksesan. Hampir semua orang berpandangan: “Dengan gelar akademis yang mentereng, sekolah hingga S3, maka orang tersebut bisa dikatakan sukses”. Tidak terkecuali, saya pun masih beranggapan demikian!!! Padahal saya tahu, tidak semua yang bergelar tinggi itu memiliki sikap (Attitude) dan sifat sesuai dengan gelar yang dimilikinya.

Banyak dari teman-teman saya yang sudah melanjutkan studi ke jenjang S2, bahkan beberapa diantaranya ada yang sudah memasuki jenjang S3. Teman senior saya pun sudah memiliki gelar yang berderet-deret dari B sampai Z. Saya cuma bisa bilang “Kapan ya saya bisa seberuntung mereka?”.

Saya tidak pernah, tuh, merasa tidak nyaman dengan keberhasilan teman saya meraih gelar akademis. Saya juga tidak pernah mencari tahu darimana mereka tiba-tiba bisa memperoleh gelar akademisnya. Toh, mereka sendiri yang pada akhirnya bertanggung jawab dengan title gelar mereka. Untuk apa saya usil mengurusi “Itu ijazah kamu asli apa palsu sih?” atau “Kok bisa sih, umur 19 udah lulus jadi sarjana”. Buat apa repot-repot mengurusi yang begituan, sih? Toh, nantinya akan ketahuan juga dari kualitas yang mereka tunjukkan dikemudian hari.

Sebenarnya, bagi saya, tidak penting orang memiliki gelar berderet-deret atau tidak. Buat apa gelar akademis hingga S2 atau S3 jika attitude atau sikapnya tidak menunjukkan bahwa dirinya memang layak menyandang gelar itu. Bagi saya, orang-orang seperti Ahya ataupun Yati jauh lebih terhormat dibanding yang memiliki gelar S2 atau S3 tapi sikapnya tidak mencerminkan seseorang berilmu tinggi. Ahya dan Yati justru telah mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan ini. Bahwa kita, harus selalu tawadhu alias rendah hati.

( Salam, HS)

8 thoughts on “Berburu Gelar

  1. buat apa sih gelar dicari??? bukankah yang lebih penting adalah ilmunya??? saya setuju banget dengan hadi…. justru lebih banyak orang yang memiliki gelar tidak memiliki sikap dan kepribadian yang sesuai dengan gelarnya itu… karena tujuan dari gelar itu sendiri tidak jelas…

    • hehe.. trims dah kasih koment. saya sih cuma kasian aja sama si titik titik, titik titik, sama si titik titik.. mereka kan sedang ‘berburu’ gelar, tapi kok melupakan attitude sama sesama yaaa.. ck ck ck. AAW, aya aya wae

  2. Hemm… artikel yang menarik. Saya setuju dengan dirimu🙂

    Sekedar bertanya : bagaimana hukumnya orang yg sengaja menampilkan gelar ke publik namun ketika diverifikasi tidak bersedia? (pdhl verifikasi adalah hal yg wajar di dunia akademis, khususnya utk menghindari penyesatan publik apalagi bila orang tersebut dengan sengaja menampilkan gelarnya ke hadapan publik).

    Oia, harap dibedakan pula antara “berburu gelar” dan “mencari kejujuran”.

    Kadang, memverifikasi gelar seseorang itu penting dilakukan. Gelar fiktif bukan hanya bentuk penipuan publik, tp bs berpotensi penyesatan. Misalnya ada seseorang yg mengaku insyinyur dan ditugasi membangun gedung. Lha kalau ternyata gelarnya fiktif kan bisa berabe. Bisa-bisa gedung yg dibikinnya amburadul dan gak tahan gempa. Oleh sebab itu, dlm hal tertentu, verifikasi gelar tetap penting dilakukan🙂

  3. Anyway, gelar memang bukan segala. Tapi, gelar mencerminkan kompetensi yg kita miliki.

    Secara kultural, masyarakat kita cenderung percaya terhadap orang yg memiliki gelar. Mereka cenderung mengamini pendapat orang yg dianggap berkompeten tersebut. Nah, apa jadinya bila ternyata gelar yg ia punyai adalah fiktif, sementara ‘nasihat’ nya — yg belum tentu benar itu– terlanjur diamini banyak orang?

    Untuk itu, dalam kasus tertentu, verifikasi gelar tetap diperlukan. Verifikasi bukan berarti negatif. Bila Anda berpikir lebih positif, verifikasi juga memiliki fungsi preventif.

  4. Lho, saya tidak bertanya tentang seseorang kok. Dalam komentar diatas, saya hanya sekedar meminta pendapat Anda terkait tulisan yang Anda posting🙂

    Mohon Maaf Lahir Batin🙂

    • ya kan katanya pengen verifikasi, berarti kan pengen kejelasan. makanya saya bilang, tanya saja sama orangnya.. kalo pengen verifikasi dari saya ya tanya saya, kalo pengen verifikasi dari mariska, tanya mariska. kalo pengen verifikasi dari arie nursanti, ya tanya arie..
      gitu aja repot sih..hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s