Merasa Cukup…!!!

Merasa Cukup

Itulah kalimat yang terlontar dari mulut teman lama saya manakala kami berdiskusi tentang pekerjaan, dan pendapat bulanan kami. Teman jaman SMA, yang pernah satu kelas ketika kelas dua. Teman yang saya lihat sebagai anak yang cenderung gaul, yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

Setelah sesi obrolan tersebut, serta merta apa yang menjadi mindset tentang teman saya ini berubah 180 derajat. Perpisahan sekian tahun lamanya, membuat masing-masing dari kami tidak lagi mengetahui pribadi satu sama lain. Sebuah kedewasaan dan kebijaksanaan yang kini saya lihat, melekat pada pribadinya.

Kembali ke obrolan saya dan Ikbal, teman masa sma saya, yang membicarakan tentang kehidupan masing-masing. Pekerjaan yang hampir sama, sebagai petugas lapangan yang berhubungan langsung dengan orang-orang (maaf) miskin, membuat kami memiliki satu kesamaan bahan obrolan. Kami banyak belajar dari orang-orang yang secara materi tidak mampu tersebut. Saya dan Ikbal bertukar pengalaman tentang kegiatan kami ketika bersinggungan dengan kaum mayoritas negeri ini. Ikbal, yang bekerja mengelola program yang berhubungan dengan keuangan untuk masyarakat miskin, dan saya yang bekerja sebagai penyuluh program keluarga berencana.

Banyak cerita menarik yang saya peroleh dari Ikbal ketika menjadi pendamping masyarakat miskin tersebut. Salah satunya  adalah keluhan-keluhan dari masyarakat. Kebanyakan dari mereka, tidak mengeluhkan masalah keuangan. Melainkan mengeluhkan sikap aparat ketika mereka akan mencairkan bantuan yang mereka terima. Ahh, bantuan yang mungkin terlihat tidak seberapa bagi orang-orang kaya kota metropolitan. Besar atau kecil pendapatan yang mereka peroleh, entah dari bantuan tersebut, atau memang dari hasil mereka bekerja tidak pernah mereka persoalkan. Mereka selalu bersyukur dengan apa yang mereka raih.

ilustrasi (hadi-dok.pribadi)

MERASA CUKUP!!! Itu intinya.

Hmmm… benar juga yaaa kalau dipikir-pikir. Kita selalu merasa serba kurang, padahal kita sudah memiliki apa yang tidak orang-orang itu punyai. Serakah, mungkin itu istilahnya. Ketika kita merasa cukup dengan pemberian Alloh SWT, maka keluhan merasa kurang, tidak puas, dsb akan hilang dengan sendirinya.

Merasa cukup, tidak berarti kita tidak boleh berikhtiar. Usaha atau ikhtiar sangat diperlukan untuk memperoleh hasil yang optimal. Namun, ketika proses yang kita lakukan sudah optimal maka “merasa cukup” harus kita sertakan dalam hasil yang kita dapatkan.

Apalah artinya banyak uang, banyak harta, jika diri kita tak pernah puas dengan apa yang kita miliki? Tidak ada kenikmatan dari hasil yang telah kita peroleh. Berkecukupan, belum tentu merasa cukup.

Karena hidup ini adalah tentang berbuat baik, merasa cukup akan membukakan kelapangan hati kita. (HS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s