catatan untuk “kisruh” di kompasiana

Sepulang dari Bandung pada hari ahad kemarin, saya membuka salah satu blog social yang saat ini benar-benar membuat saya ketagihan, melalui nokia 6300 saya. Banyak hal yang menarik yang patut dicermati dan menjadi bahan pelajaran untuk diri saya. Entah itu untuk pengembangan diri, maupun memperkaya wawasan.

Dalam perjalanan Bandung-Cianjur, saya tidak lepas dari membaca content blog tersebut. Sebuah perbincangan menarik mengenai peluncuran buku dari seorang purna intelijent masih menjadi topic hangat. Bahkan sebagian berisi reportase yang membuat saya iri karena tidak bisa hadir, hehehe. Tapi tunggu!!! ada sedikit yang mencuri perhatian saya. Diskusi tentang komedi yang mulai menggurita yang mendapat tentangan dari beberapa pihak.

Sebagai seorang anggota yang ingin bersikap netral, saya mencermati, ada miskomunikasi antara warga dan pengelola. Missinknya dimana, Cuma mereka yang tau keliatannya hehehe. Sang pengusung komedi, keliatannya sedang mengarahkan sebuah pementasan parodi politik negeri yang sedang kacau balau, sedangkan pihak pengelola merasa ‘terancam’ jika humor-humor tidak cerdas menguasai blog tersebut. Disinilah komunikasi diperlukan untuk membahasnya.

Dalam sosialisasi di blog pun, saya cermati, ada yang berusaha tampil eksis wae, ada yang alon alon asal kelakon, tapi tidak jarang ada juga yang membuat lompatan besar untuk menjadi “seseorang yang dianggap” di media tersebut. Mencuri perhatian melalui kritisi-kritisi yang membuat sebagian orang berkuping merah. Oya, dalam melontarkan kritik ini, saya pun pernah tuh memerahkan kuping orang hehehe, hingga sebuah catatan saya terhapus secara otomatis oleh pihak yang berkepentingan.

Sebuah kutipan berikut, saya ambil dari tulisannya pak Prayitno Ramelan, pada tulisannya yang berjudul “Perang Psikologis dan Pengadilan Rakyat” (kompasiana, 8/11/2009): “Apa yang  tidak disukai oleh manusia, kritik, coba kritik siapapun, maka menurut teori seribu otot dia yang dikritik  akan mengejang. Apa yang disukai manusia, pujian, kalau dipuji maka seribu ototnya akan mengedur.  Itulah ilmu psikologi individu yang pernah penulis dapat saat mengikuti pendidikan intelijen pengamanan. Kenapa pelajaran itu perlu? Ilmu tersebut untuk mengukur seberapa besar seseorang akan mengejang ototnya, dalam arti dia akan berusaha melindungi dirinya dari sebuah tekanan pikiran yang sangat tidak disukainya.

Seperti yang ditulis oleh Pepih Nugraha, dalam salah satu komentarnya, haruslah ada cek dan ricek sebelum menyampaikan sesuatu. Termasuk dalam menyampaikan kritisi. Itu menjadi pelajaran berharga bagi saya (trims kang Pepih hehehe). Janganlah kita menyampaikan kritik hanya untuk mengejar lompatan supaya lebih diperhitungkan, agaknya harus diperdalam dulu apa objek yang dikritisi. Jangan sampai, kita mengkritisi covernya, bukan isinya. Ups.. maaf, gak bermaksud menyinggung satu pihak kok hehehe, piss ^^.

Saya jadi berpikir, sesuai dengan tulisan pak Prayitno Ramelan (lagi), bahwa socialblog ini sedang mencari bentuk untuk menjadi sebuah socialblog yang kuat, kokoh, dan diperhitungkan dikemudian hari. Ah, pasti teman-teman sekalian sudah tau dong, bahwa seorang bayi kecil tidak bisa langsung bisa berjalan? Pasti ada fase-fase duduk, merangkak, jatuh bangun belajar berjalan, sampai akhirnya benar-benar berjalan. Dalam fase-fase tersebut, otot-otot sang bayi pasti mengalami peningkatan kuantitas dan membentuk sebuah bentuk yang solid. Mengerti kah maksud saya kemana? Ya, benar. Begitupun socialblog ini, sebagai media interaksi baru, memang sedang belajar untuk mencari bentuk.

Masih kata pak Prayitno Ramelan dalam sebuah komentar yang ditujukan sebagai jawaban atas komentar saya sebelumnya, bahwa socialblog ini adalah sebuah universitas terbuka. Dosennya adalah anggotanya, mahasiswanya pun adalah anggotanya. Jadi tidak heran kalau memang pencarian bentuk ini tidak bisa memakan waktu yang singkat alias instant. Saya suka miris kalau melihat ternyata masih ada yang berupaya eksis dengan ‘menggurui’ melalui pemikiran kritisnya. Supaya dianggap pintar mungkin hehehe. Tak apalah, toh tujuan tiap orang itu tidak sama.

Ah mending proporsional aja deh. Mau itu kritisi atas pemerintah, pemegang kekuasaan, individu pemegang kebijakan, ataupun humor-humor segar. Jangan sampai deh socialblog ini berat sebelah, bisa-bisa bentuk yang diharapkan pencetus adanya socialblog ini, jadinya tidak proporsional dan basi!!! Yang tidak proporsional itu biasanya akan jomplang. Benar nggak?

Saya jadi ingat sepulang dari Bandung tersebut, melihat sebuah banner iklan rokok yang menuliskan “Pengen eksis? Jangan lebay plis” hehehehe (HS)

alon-alon asal kelakon🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s