Beda kepala beda ide, rambut boleh sama hitam. Isi kepala siapa yang tau…. (catatan untuk kompasiana)

Hampir lima bulan saya terjun di dunia blogging, dan menjadi blogger, menikmati blogosphere yang ternyata enak dan nyaman. Kenapa saya katakan enak dan nyaman, karena ternyata (diluar dugaan) saya bertemu dengan orang-orang baru di hidup saya, menjadi temen-temen mereka, dan menjadikan mereka bagian dari hidup saya.

Diantara lima bulan itu, empat bulan diantaranya saya bergabung dengan sebuah socialblog anaknya kompas.com, bernama kompasiana. Perjalanan selama lima bulan menjadi blogger (baca: empat bulan menjadi kompasianer) membawa saya berkenalan dengan orang-orang “bukan sembarangan”, sebut saja mantan wartawati senior yang pernah bertugas di istana kepresidenan bernama Linda Djalil. Atau Prayitno Ramelan yang merupakan salah seorang purnawirawan perwira intelijen. Pipiet Senja, seorang penulis yang awalnya hanya saya kenal melalui bukunya, Andy Syoekry Amal yang pernah menjadi pemimpin redaksi tabloid Transparan di Makassar sana, bahkan Mariska Lubis yang seorang konsultan seks dan cukup lama wara-wiri di dunia tulis menulis.

Mencermati hari demi hari saya di kompasiana, ternyata saya mulai menemukan kenyamanan disana. Kompasianaddicted, istilah untuk diri saya yang sangat ketagihan berkompasiana. Tiada hari tanpa kompasiana, deh!!!  Saya tidak menyangka bakal jadi kompasianaddicted, kok, pada awalnya. Semenjak saya bergabung, rentangan tangan yang hangat dan harmonis membuat saya kerasan. Sangat kerasan malah. Persahabatan yang ditawarkan teman-teman disana, membuat saya makin betah. Banyak pelajaran dan hikmah yang saya petik. Tidak sekedar ilmu saja, tapi pelajaran tentang arti persahabatan, pertemanan, silaturahmi, bahkan kejujuran.

Meskipun tidak pernah lepas dari konflik, toh persahabatan itu makin kokoh, tidak tercerai berai. Saya ingat kasus ceritapuri yang menggurita di kompasiana. Ceritanya hampir mengalahkan trending topic pemberitaan media mainstream yang bertajuk kasus cicak dan buaya. Atau kasus-kasus lainnya, semisal seorang artis yang “menyerang” lawan politiknya, beserta kompasianer yang tidak mendukungnya, pernah menjadi isu hangat. Atau yang terbaru, kasus negeri ngotjoleria (versus) admin yang merasa ‘terancam’ dengan tulisan-tulisan ngotjol yang (mungkin) bisa menurunkan wibawa kompasiana. Kasus yang bermula dari sebuah “lemparan” jitu seorang kompasianer baru yang menyentil dengan menyebut “tulisan sampah” ini sempat membuat beberapa orang kebakaran jenggot karena merasa tidak dihargai. Ada upaya pembunuhan kreatifitas (kalau saya amati dari kacamata minus saya yang awam ini). Bahkan, ribut-ribut kecil antara satu kompasianer dengan kompasianer lainnya, hampir sering terjadi. Memang sih, kepala boleh sama hitam, tapi isi kepala tidak pernah sama. Ada yang suka dengan cara humor, tapi tidak sedikit yang suka jaga image alias jaim.

Dari kasus-kasus yang disebutkan diatas, semakin terlihat siapa yang murni ingin mencari persahabatan, dan siapa yang hanya ingin sekedar sensasi.

Bukan mudah memang untuk menyatukan visi: Membesarkan Kompasiana (menembus 100 besar Indonesia – bahkan Asia), seperti yang pernah disebutkan super admin Taufik Miharja dalam acara HUT ke 1 Kompasiana, 22 Oktober silam. Beda kepala, pastilah beda pemikiran. Tidak semua anggota yang daftar ke kompasiana ini memiliki tujuan yang sama.

***

Kembali ke persahabatan di kompasiana, saya mencermati ada upaya dari teman-teman untuk menjalin dan memperkokoh persahabatan itu. Tidak Cuma di Dumay saja (dunia maya), tapi juga di Duril (Dunia Aril.. haha, Dunia real, alias dunia nyata ketang), terbukti dengan diselenggarakannya beberapa kopdar atau mini kopdar, yang memang ternyata merekatkan erat tali silaturahmi antara sesama anggotanya. tapi, saya juga mencermati ada beberapa pihak (mungkin penyusup) yang seolah-olah menginginkan perpecahan disini.

Kita tidak pernah tau isi kepala orang, apa tujuannya bergabung ke kompasiana. tapi, yuk, kita sama-sama besarkan kompasiana, karena sekarang anda adalah bagian dari kompasiana juga. mendapat sebutan kompasianer pula!!! Tidak peduli apakah tulisannya ngotjol, serius, jaim, atau apapun, saya Cuma bisa mengingatkan, jangan sampai deh cita-cita untuk membesarkan kompasiana ter-blur-kan dengan konflik-konflik yang bisa membawa ke perpecahan dikompasiana yang mulai saya cintai ini. Sampaikanlah kritik dengan bahasa yang sopan dan menyentuh esensi tulisannya, bukan pribadi orangnya. Sedapat mungkin hindarilah kata-kata kasar seperti Sontoloyo, Gobl*k, Tol*l, Idi*ot Lu, dan kata-kata yang bisa bikin kuping merah lainnya. Mengutip kata seorang teman, SPEAK THE TRUTH WITH LOVE, sampaikanlah dengan bahasa pengantar yang baik.  Bahasa menunjukkan bangsa, loh. Adat ketimuran seorang Indonesia yang mulai terkikis agaknya harus kita galakan kembali, tidak usah jauh-jauh, mulailah dari rumah sehat ini. Jangan sampai, deh, kita disusupi oleh orang-orang yang berupaya mematikan karakter kompasianer dan akhirnya memecah belah keharmonisan anggotanya. Jika tujuan itu berhasil dicapai oleh si penyusup, bukan tidak mungkin, kompasiana akan menjadi blog kecil yang tidak lagi dilirik.

Mungkin memang tidak semua orang senang dengan gaya humor, tapi tidak ada seorang pun yang berhak kita larang untuk berhumor dan tertawa bukan? Seperti halnya tidak ada seorangpun yang berhak melarang kita bergaya Full of WIBAWA. Percaya deh, wibawa tidak hanya dibentuk dengan gaya Jaim alias jaga image saja. Anda lihat Mario Teguh? Selalu membawa peserta (penonton)nya yang hadir untuk tertawa, bukan? Pun demikian di kompasiana ini, selama humornya tidak vulgar, menurut saya, sih, sah-sah saja hehehe. Blog ini, besar karena anggotanya gitu loh hehehehehe.

Saya kutipkan kalimat deskripsome yang mendeskripsikan blog pribadi saya: “Hanya ketaketik tak bermakna dari seorang saya yang sedang belajar untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan… suka, silakan baca dan tinggalkan komentar. tidak suka, ya tinggalkan saja.. suka atau tidak suka, saya ucapkan terima kasih atas kunjungan anda…🙂 “ (HS)

One thought on “Beda kepala beda ide, rambut boleh sama hitam. Isi kepala siapa yang tau…. (catatan untuk kompasiana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s