Cerita fiksi: Bimbang

hari ini saya mencoba membuat cerita fiksi, mudah2an berkenan ya. eh jangan komplen, namanya juga cerita fiksi, jadi dilarang bertanya :”ini kisah nyata?” karena saya sudah memberikan jawabannya dalam pengantar ini.

selamat membaca

BIMBANG

Warna merah itu kembali terlihat. Entah apa yang ada pada diriku kemarin dan hari ini. Jauh sebelum orang-orang bicara rindu, aku malah merindukan sesuatu yang jelas-jelas tidak boleh lagi aku rindukan. Rindu itu adalah dendam yang harus aku maafkan. Rindu itu kelam, dan harus bisa aku cerahkan.

Di suatu sore di bulan januari, pikiranku tiba-tiba menerawang ke masa lalu. Membelai indah masa-masa dimana kami masih disatukan jarak dan diikat waktu. Masa-masa semu yang tampak menjadi indah menawan hati. Di sore bulan januari itu, energi negatif masa lalu mulai menyelaputi satu demi satu bagian dari diri. Tubuh terbawa lemas, lunglai, tak berdaya. Pikiran terus mengembara mencari dia yang tak pernah mungkin aku rindukan lagi.

Sebuah lagu menyayat hati, mengiris-iris perasaan aku perdengarkan ke telinga. Biar hatiku makin kacau, balau, dan menjadi makin galau.

“sendiri ku kemas air mata di pipi

Tak percaya ku yang tlah terjadi

Cintamu kini tlah terbagi

Haruskah cinta aku akhiri

Hanya sampai disini

Tak mungkin

Aku berpaling dan menyesali

Tercabik hati ingin meronta

Jangan kau rejam gairah yang ada

Haruskah aku mengemis cinta

Untuk menghilangkan duka

Asmara, kemana lagi akan kucari

Siapa yang kan mengusir sepi

Disaat ku sendiri

Asmara mungkinkah kau sampaikan padanya

Walau hatiku penuh derita

Aku masih selalu cinta”

Novia Kolopaking

Aku tahu, lagu itu menggambarkan pengembaraanku hari ini, penderitaan yang aku buat sendiri. Tak kunjung padam. Entah bagaimana aku harus membuat hati ini kembali menjadi hatiku yang utuh, jauh sebelum aku mengenalnya. Dan entah harus sampai kapan aku mengabaikan diriku sendiri menjadi seperti ini. Aku terlalu takut untuk memberitahu dia bahwa rasa ini sungguh menyiksa. dia.. ya dia yang pernah singgah sejenak dan menorehkan kesan yang tak mungkin bisa aku lupakan untuk waktu yang lama.

“satu jam saja, ku telah bisa cintai kamu dihatiku, namun bagiku melupakanmu butuh waktu tuk seumur hidupku- ST12”

Tidak mungkin. Aku tidak mungkin mengutarakan ini semua padanya. Ini janjiku. Janji hatiku yang selalu kujaga, agar dia tetap bahagia dengan pilihannya. Sebuah keagungan pilihannya tidak bisa aku masuki begitu saja, meskipun itu hanya untuk bersilaturahmi kembali dengannya. Dia sudah menemukan kebahagiaannya, dan aku tak mungkin mengusiknya. Perih!!!

“biarkanlah cinta tak berbalas, bila memang harus kunikmati cinta hanya sebatas mimpi. Biar saja kasih, indah tak pernah lekang, walau semua kini hanya sebatas mimpi – Hedi Yunus”.

Ya sebatas mimpi. Ah, bahkan mimpi pun aku tak berani. Karena aku tahu, mencintai masa lalu itu adalah kebodohan. Dungu!!! Aku menyiksa diriku sendiri dengan kerinduan tak bertepi. Ingin rasanya ku lari ke masa-masa dimana rentetan kejadiannya menjadi awal pertemuan kami. Ingin rasanya aku mengubah itu semua hingga hari ini aku tak menanggung rindu nan muram seperti ini.

“kata orang rindu itu indah, namun bagiku ini menyiksa. sejenak ku pikirkan, untuk kubenci saja, dirimu, namun sulit ku membenci – melly”

“Lihat di salah satu ruang hati kamu, kawan. dia ada di situ, dan akan tetap di situ. dia kamu bawa ke mana-mana. dia akan selalu dekat” begitulah seorang sahabat menghiburku. Tapi aku tak pernah tahu, di ruang hati sebelah mana dia berada. Dan hari ini, aku sedang mencarinya, tapi tidak kunjung menemukannya.

“The Sound of your heart beat”

Sedekat itukah? Masa lalu ku menyelinap dalam setiap detak jantungku? Tapi mengapa dia tak pernah peduli ketika aku menyapanya lewat media jejaring. Sekenanya dan seperlunya saja. aku tidak yakin dia menyimpan aku di ruang hatinya walaupun kini kita terjerat jarak dan terpisah waktu.

“Bila memang kau pergi, dimanakah lagi akan ku cari pengganti…. Untuk apa lagi ada cinta di dada, bila semua ini tak berguna… – utha likumahuwa”

Haruskah aku menyesali momentum dimana kami berkenalan. Saat-saat dimana dia hadir dan menjadi nyata di hadapanku. Bertemu dan menghabiskan waktu berdua di kota nun jauh disana. Haruskah aku menyesalinya? Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya, namun aku tidak mungkin mengutarakan rinduku padanya. Apakah ini yang dinamakan pengorbanan cinta? Aku tidak pernah tahu. Aku merasakannya, kelam.

“Bumi ini apakah daku punyai, mengapa terpisah cintaku dengannya. Cinta yang ada dalam hatiku ini, tak tergapai karena kasta yang berbeda – melly”.

Arrgghh kenapa persamaan itu justru menjadi perbedaan. Kenapa perbedaan itu yang justru melerai hari-hariku dengannya. Kenapa? Tiada jawab kecuali “inilah rencana Tuhan untukku dan untuknya”.

Aku tak bisa berkata jika kawanku sudah bilang seperti itu. Rencana Tuhan. Namun sebenarnya, ingin sekali aku utarakan bahwa akupun butuh cinta. Kapan cinta itu bisa datang lagi? Mengisi hari-hariku, memberi energi positif yang bisa aku tuangkan sebagai bentuk rasa sayangku untuknya. Untuknya?  Dia di masa lalu lagi? Mauku seperti itu, tapi itu tidak mungkin. Aku Cuma meminta pada-Nya, berikan aku orang yang tepat untuk mengisi hari-hariku. Yang sepadan, sesuai, dan sepemahaman satu sama lain menjadi muara rasa cintaku dengan cinta orang yang akan menjadi warna hidupku. Dimanakah dia kawan? Aku mencarinya, tapi belum ku temukan jua. Pelangi itu tidak bersinar untukku kemarin. Dia memilih menyinari orang lain daripada memberi warna di hatiku. Entahlah, mungkin dia bukan orang yang tepat, kawan.

“Di malam yang sesunyi ini, aku sendiri tiada yang menemani. Akhirnya kini ku sadari dia telah pergi tinggalkan diriku. Adakah semua kan terulang kisah cintaku yang seperti dulu, hanya dirimu yang ku cinta dan ku kenang, di dalam hatiku, tak kan pernah hilang, bayangan dirimu untuk selamanya – chrisye”

“walau aku senyum bukan berarti aku selalu bahagia dalam hari, ada yang tak ada di hati ini, di jiwa ini, hampa. Tuhan berikanlah aku cinta, untuk temaniku dalam sepi. Tangkap aku dalam terangmu biarkanlah aku punya cinta, Tuhan berikanlah aku cinta aku juga berhak bahagia, berikan restu dan halal-Mu, Tuhan beri aku cinta. – Ayusitha”

Hmmm.. sekeping asa yang masih tersisa, ku pelihara dan akan selalu ku pelihara. Entah sampai kapan harap itu akan bermuara, pada orang yang tetap dan tepat. Pada orang yang tak ada salah. Pada orang yang benar-benar Tuhan kirimkan untukku dan memberiku bahagia. Hingga aku tak lagi menahan sesak rindu dendam dan kelam seperti ini.

Ruangbiru-14 januari 2010

10 thoughts on “Cerita fiksi: Bimbang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s