Plagiarisme dan Kejujuran

Di negeri ini, kejujuran sudah menjadi sesuatu yang amat mahal dan sepertinya tidak lagi terjangkau. Budaya bohong ini sudah mulai mengakar. Tengoklah para oknum birokrat yang sebagian melakukan kebohongan untuk menutupi ketidakmampuan dalam memimpin lembaga yang dipimpinnya. Atau para koruptor yang ingin memperkaya dirinya sendiri, tanpa mengikuti kaidah halal-haram.

Seseorang yang tidak jujur dapat dipastikan bahwa ada penyakit yang bersemayam dalam hatinya. Mengutip istilah Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas, hati manusia itu diibaratkan sebagai operating system dari komputer hayati kita. Yang dimaksud dengan komputer hayati ini adalah diri kita sendiri secara keseluruhan. Orang yang sering tidak jujur, kemungkinan besar operating system-nya terserang virus, sehingga output yang keluar dari dirinya mulai bebal dengan segala macam tindakan kejujuran. Masih mengutip kalimat dari bukunya Erbe, Jika output-nya baik, bisa dipastikan internal error-nya relatif terkendali, sebaliknya jika output-nya tidak memuaskan maka ada internal error yang perlu serius ditangani terlebih dahulu.

Ketidakjujuran adalah sebuah output yang bisa dikatakan tidak baik. Ini berarti bisa dipastikan bahwa ada internal error dalam hatinya. Entah karena memang karena tidak memiliki pengetahuan dan kepercayaan agama, ataukah karena faktor-faktor lain. Sebenarnya, jika ditilik-tilik lagi ke dalam hati nurani, pastilah orang yang tidak jujur tersebut akan mengakui ketidakjujuran dalam dirinya. Namun, karena ada faktor internal error itu tadi, maka output yang keluar (menjelma) sebagai perilaku pun menjadi tidak sesuai dengan hati nuraninya.

-HSHSHS-

Beberapa hari ini, saya membaca bahwa ada plagiator yang bertebaran di sana sini. Mulai dari seorang profesor yang ‘sukses’ menjiplak karya penulis luar negeri, sampai seorang blogger aktif yang katanya juga ‘mencomot’ tulisan dari tempat lain tanpa menyertakan sumbernya. Saya jadi berpikir kenapa sih mereka melakukan hal itu? Apa yang sebenarnya mereka cari? Prestasi atau prestise?

Sebenarnya, menurut saya, prestise itu justru akan hadir berbanding lurus dengan kejujuran. Ketika kita mencoba untuk jujur, maka orang pun akan menghargai dan mempercayai diri kita sehingga dengan sendirinya kita akan tercitrakan sebagai seorang pribadi yang mempunyai integritas. Dengan begitu, orang pun tak akan sungkan membagikan sesuatu dengan kita, bahkan tidak mungkin mengajak kita untuk berbisnis atau melakukan kegiatan bermanfaat lainnya.

Perilaku plagiarism, atau mengakui hasil karya orang lain, tidak saya setujui. Karena itu sama saja dengan merampas hasil karya orang lain secara paksa. Atau jika diistilahkan dengan bahasa kasar, merampok karya orang. Bisa dibayangkan dong apa efeknya jika kita ketahuan merampok? Dengan sendirinya kredibilitas kita akan jatuh dan orang tidak akan lagi mempercayai kita, bukan?

Kalaupun kita dikejar deadline untuk menelurkan ratusan karya tulis, rasanya tetap tidak etis jika kita mengakui karya orang lain sebagai karya kita. Karena sebuah tulisan, bagus atau jelek, tetaplah sebuah karya intelektual yang harus dihargai. Ketika kita menulis, kita mengerahkan segenap pikiran, ide, tenaga (untuk mengetik hehe), naluri menulis, bahkan mata menahan perih di depan layar. Lalu dengan seenak udel, kita melakukan perampasan karya intelektual orang lain? Duh, betapa pedih rasanya jika itu menimpa saya.

Saya tidak habis pikir, kenapa orang senang memplagiat karya orang lain? Mungkinkah memang ada internal error dalam diri mereka? Wallahu alam bishawab.

-HSHSHS-

Plagiat adalah pencurian

Plagiat berarti mencuri, dan mencuri itu adalah tindakan keji. (HS)

Kaki gunung man angel, 8 Februari 2010

HS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s