Menikmati Kabut

Sepulang dari kopdar TIM 13 Februari lalu, saya menyengajakan diri singgah di salah satu tempat favorit saya. tempat saya melepas penat, menikmati kesendirian, menghilangkan stress pikiran, gundah gulana batin saya. Tempat yang berada di sebuah ketinggian pegunungan yang dikelilingi oleh kebun teh yang menghampar hijau. Mesjid At-taawun di kawasan Puncak-Bogor.

Bertolak dari Jakarta jam 9 pagi menuju Bogor, dan disambung dengan trayek Bogor-Cianjur (dengan sedikit macet) saya tiba di at-taawun jam 11 pagi.

Nyessss… udara sejuk seketika menembus ruang pikiran saya yang memang belakangan ini sedang penat dengan rutinitas pekerjaan yang sebenarnya tidak saya nikmati. Tidak membuang waktu saya pun segera naik ke atas, berdiam diri di selasar masjid yang sedang ramai pengunjung karena memang hari ahad selalu ramai. Bulir-bulir air langit pun mulai menetes basah. Tampak beberapa anak, meskipun dilarang orang tuanya, bermain air dan hujan. Betapa menyenangkannya.

Saya berusaha untuk menenangkan pikiran dan berusaha untuk berkontemplasi atas apa yang sedang terjadi. Mencoba berdialog hati melalui layar netbook yang saya bawa. Dialog sisi hati saya, mengiba kepada-Nya. Sedikit saya kutipkan dialog hati saya yang saya tulis di at-taawun, tempo hari:

“Tuhan, jika lah memang ini pilihan jalan hidup yang Kau gariskan

Berikanlah pijakan untukku

Yang bisa mengarahkan aku menjadi lebih bernilai

Yang selalu peduli dengan diriku

Dan sabar membimbingku

aku tahu Tuhan, Engkau tengah menguji kesabaranku untuk menjadi manusia yang lebih baik

meskipun aku memiliki sedikit kekurangan yang kau anugerahkan untuk hidupku

tapi, lagi-lagi tapi Tuhan, aku hanya ingin merasakan bahagiaku

bahagia yang pernah aku tulis bahwa itu letaknya ada di hatiku Tuhan

izinkanlah Tuhan….

Terlalu berlebihankah jika aku meminta seseorang yang memperdulikanku sesuai yang aku mau?”

***

menikmati kabut - dok.pribadi

Kabut pun mulai turun, menambah syahdunya kesejukan udara yang benar-benar membuat saya merasa kecil. Tak berarti. Ingin berteriak rasanya bahwa saya membutuhkan pertolongan-Nya. Ingin lepaskan penat ini agar saya merasa lebih ringan.

Ah, mungkin saya yang kurang bersyukur. Begitu pikir saya. dan memang benar, saya sepertinya kurang bersyukur dengan karunia yang sudah Dia berikan untuk saya. karena kurang bersyukur itulah, akhirnya saya menjadi orang yang tidak menikmati apa yang sedang saya alami.

Bersyukur dan menikmati hidup. itulah kunci saya untuk bisa rileks.

Ayo hadi, segera ucapkan syukur atas setiap kegiatan yang telah kamu lalui. Atas semua pencapaian yang kamu raih. Atas hidup dan rezeki yang diberikan-Nya hingga kamu bisa hidup hingga saat ini. bersyukurlah hadi.. bersyukur….

Nikmatilah kabut dan suasana sejuknya. Nikmatilah kesendiriannya. Nikmatilah beban kerja yang tidak jelas itu. Selalu ada harga yang pantas yang harus dibayar untuk segala sesuatunya. Nikmatilah hadi.. nikmati….

menikmati kabut - dok.pribadi

ruangbiru, 17 februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s