Ketika Pengelola Stasiun TV Kehabisan Ide

Melihat tayangan televisi belakangan ini membuat saya muak. Jam prime time diisi dengan acara-acara yang tidak berkualitas sama sekali. Tengok saja tayangan televisi antara jam 6 sore hingga jam 10 malam, hampir semua stasiun TV menayangkan acara yang sama.

Sinetron

Hampir semua stasiun TV menayangkan sinetron yang seragam. Menjual kepedihan, air mata, penderitaan seorang perempuan, jahatnya perempuan antagonis, menjual mimpi, mobil-mobil yang supermewah, tapi jalinan cerita tidak karuan. RCTI misalnya, secara marathon menayangkan sinetron dari magrib hingga jam sembilan malam. Begitu pun SCTV, tayangan sinetron mengisi hampir separuh malam. Tengok TRANS TV, tayangan berbau mistik menghiasi, atau kuis-kuisan yang tujuannya menghibur namun tidak berisi, malah cenderung menampilkan hal yang kasar seperti acara yang diasuh oleh RUBEN ONSU!!! Membuat saya muak dengan segala jenis tontonan televisi.

Gebrakan baru dilayangkan oleh TRANS7 dengan opera van java-nya. Namun, berbondong-bondong stasiun TV lainnya meniru acara sejenis. OVJ, yang mungkin saat ini digemari, saya prediksi tidak akan berumur lama. Kenapa? Karena bahan lawakan slapstick seperti itu lebih cepat mengundang rasa bosan orang, apalagi ditayangkan secara marathon setiap hari.

Berita

Hampir semua stasiun TV menayangkan berita yang sama, pada jam yang hampir bersamaan. Bahkan, atas nama update news, dua stasiun TV (Metro TV dan TV One) berlomba-lomba menyajikan liputan langsung dari tempat kejadian perkara. Bahkan saya rasa, adegan-adegan yang seharusnya kurang layak disaksikan, seperti baku tembak antara teroris dan tim kepolisian, disajikan dengan antusias manakala satu cameramen berhasil menangkap momen yang mungkin tidak terekam oleh stasiun TV lain yang meliput kejadian yang sama.

Berita basi, seperti awan mata setelah gempa padang-yang sudah jelas diketahui bahwa itu hoax alias penipuan, dibahas secara detil dengan mendatangkan orang yang katanya pakar telematika.

Tujuannya Cuma satu, RATING!!!

Musik dan Hiburan

Hampir semua stasiun TV memiliki acara musik dengan konsep yang sama. Satu buah panggung, beberapa orang presenter, audiens yang rata-rata adalah ABG, Grup band yang tampil hanya dengan menggerakkan bibir semata alias lipsync, namun disambut oleh riuh rendah penonton, ditambah adegan-adegan dan bahasa kasar dari sang presenter yang dianggap lucu. Semua itu sama sekali tidak mendidik. Bahkan, TPI yang digadang-gadang sebagai stasiun Televisi Pendidikan Indonesia, lebih banyak menyajikan hiburan (walaupun patut dihargai usahanya untuk mengangkat budaya lokal).

Indosiar apalagi. Banyak acara jiplakan luar negeri yang benar-benar habis-habisan ditiru dan diembel-embeli kata ‘indonesia’. Tengok saja, take me out indonesia yang sama sekali tidak menampilkan cita rasa Indonesia. Gadis-gadis memperlihatkan kemolekan tubuhnya memperebutkan satu orang pria. Tidak jarang, jika sang pria jauh dari kesan glamour, perempuan-perempuan itu melontarkan semacam kritikan yang bernada hinaan. Apa seperti itu budaya cita rasa Indonesia?

Basi!!! Tidak ada lagi yang menarik dari belasan stasiun TV yang mengisi channel TV kita. Padahal, TV adalah satu media yang bisa efektif memberikan edukasi untuk masyarakat. Namun masalahnya adalah, masyarakat sendirilah yang memilih dan menonton tayangan-tayangan TV yang tidak bermutu tersebut.

Saya rindu dengan beberapa tayangan TV yang berkualitas dan memberikan pencerahan pengetahuan untuk audiensnya. Tayangan kuis semacam tak-tik-boom yang merupakan ide seorang Ani Sumadi, dan dibawakan dengan apik oleh Dede Yusuf. Atau Who Want to be Millionaire yang dibawakan oleh Tantowi Yahya. Setidaknya selain memberikan unsur hiburan, juga menyisipkan pengetahuan untuk penontonnya.

Yang jadi pertanyaan di benak saya saat ini, sudah sedemikian mentoknya-kah ide-ide para pengelola televisi hingga membuat acara yang seragam? Tidak berani membuat gebrakan? Hanya karena mengejar satu tolok ukur bernama rating? Padahal, jika dilihat, mungkin kualitas SDM jaman sekarang jauh lebih maju dibandingkan jaman dulu.

Tanya kenapa?

notes: dipublish juga disini

9 thoughts on “Ketika Pengelola Stasiun TV Kehabisan Ide

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s