Pakai Tiket, Buang Pohon

Tulisan ini masih tentang pengalaman saya menelusuri sisi lain kota Jakarta. Memperhatikan yang tak tercatat dan mencatat yang tak terperhatikan.

Sebelum mengikuti Baksos di muara Angke, saya sengaja untuk mengunjungi kawan saya. Namun karena kawan saya tersebut ada jadwal ngantor, jadilah hari itu kami bertemu di luaran. Saya diajak ke JCC untuk menyaksikan pameran. Pameran apa, saya nggak begitu tertarik untuk mencatatkannya. Kecuali satu, agrinex, sejenis pameran hijau tentang bibit tumbuhan (maaf kalo salah).

Perjalanan dari cempaka putih saya lalui dengan memutar dulu ke cililitan karena sang teman ada keperluan. Dari situ kami menaiki busway. Mungkin untuk anda tidak ada yang menarik dengan busway. Tapi bagi saya, ada keprihatinan ketika menghampiri shelter busway.

Ini tentang ticketing busway transjakarta (dan juga kereta api yang saya naiki ketika saya akan kembali ke kampung halaman). Bukan masalah harga yang ingin saya ceritakan. Karena jika dilihat dari segi harga, tiket bus transjakarta ini murah. Sangat murah malah. Hanya dengan Rp. 3.500 saja, kita bisa puas mengelilingi Ibu Kota RI ini. Bukan pula tentang antrean untuk menumpang di atas transjakarta tersebut. Karena sebagai transportasi massal, wajar sekali jika banyak pengguna yang memakai bus transjakarta ini. untuk kereta api, juga bisa dibilang murah. Hanya dengan Rp.2000,- bisa tiba di atau dari jakarta dari/ke tempat tujuan.

Tapi ini tentang penggunaan tiket non kartu di beberapa tempat (shelter) transjakarta. Untuk shelter yang menggunakan tiket kartu mungkin tidak masalah. Tapi untuk tiket non kartu yang notabene adalah kertas, maka ini bisa dikatakan sebagai pengundang masalah tersendiri. Saya coba amati ketika berloncatan dari satu shelter ke shelter lainnya. Sobekan tiket yang terbuat dari kertas itu melimpah ruah di tempat sampah. Mungkin jika anda berpikir praktis, anda tidak akan tertarik.

“Ah, itu kan Cuma sedikit” atau “Bahan yang digunakan untuk tiket bus transjakarta belum seberapa jika dibandingkan dengan penggunaan kertas untuk industri surat kabar.” Bahkan bisa saja anda berkomentar sinis terhadap tulisan ini :”Anda harus hati-hati, kalau anda kritis tentang penggunaan kertas, hendaknya jangan hanya disampaikan kepada penggunaan kertas di transjakarta. Harus objektif dan rasional. Bisa-bisa anda dituduh mendiskreditkan transjakarta. Anda bisa dituntut lho.”

Jika anda berkomentar seperti di atas, silahkan. Saya tidak akan melarang anda. Namun, percayalah tidak ada niat buruk dari saya. Saya hanya ingin pengelola transjakarta, PT.KA, pengelola pertunjukan, bioskop, dan juga kita, untuk lebih peduli akan hal-hal kecil yang kadang tidak dianggap, tapi sebenarnya berdampak terhadap alam sekitar kita. Saya hanya ingin mengingatkan, setidaknya untuk diri sendiri, tentang penggunaan kertas.

Ketika memiliki ide untuk menulis ini, mata saya menangkap tulisan seorang blogger kompasiana yang ikut serta dalam nokia green ambassador, Pungky. Di tulisan yang berjudul ‘Kalau go green jangan go blok’ itu tertulis “setiap produksi 1 ton kertas menghasilkan gas karbondioksida sebanyak kurang lebih 2,6 ton. Jumlah ini setara dengan gas buang yang dihasilkan sebuah mobil selama 6 bulan. produksi 1 ton kertas menghasilkan kurang lebih 72.200 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat” (thanks pungky untuk datanya).

Mungkin ticketing busway ini belum seberapa. Tapi menurut saya, ini akan menjadi masalah jika dihitung dari jumlah pengguna jalur busway tersebut. berapa ratus ribu orang setiap hari melaju dengan transjakarta. Dan berapa ratus ribu lembar sobekan tiket yang akhirnya berakhir di tempat sampah? Berapa hari dalam setahun transjakarta diserbu oleh penggunanya? Hmm, mungkin nggak sih ini tidak jadi masalah di kemudian hari?

Itu baru tiket transjakarta. Belum tiket-tiket lainnya, semisal tiket kereta api, tiket pameran, tiket konser, tiket nonton, dan tiket-tiket lainnya. Semua berakhir di tempat sampah!!!

Itu baru tiket. Bagaimana dengan brosur atau pamphlet iklan yang juga biasanya berakhir di tempat sampah?

Saya pernah menulis tentang seorang pejuang lingkungan bernama pak Ape. Berjuang dengan gigih mengupayakan penghijauan kembali di kawasan resapan air di hulu sungai yang berlokasi di gunung gede-pangrango. Akan sangat bertentangan dengan perjuangan pak Ape, dan pahlawan-pahlawan lingkungan lainnya, ketika lahan gundul makin meluas akibat penebangan pohon yang digunakan sebagai bahan baku kertas.

Jika kita kaitkan data yang ditulis pungky dengan jumlah penggunaan tiket-tiket tersebut, ada berapa banyak pohon yang menjadi ‘korban’? ah, saya tidak ingin menyajikan datanya. Silahkan kita pikir bersama-sama menggunakan logika. Jauhkan dulu apriori dan pikiran negatif untuk tulisan ini.

Adakah solusi untuk itu? Pasti ada!!!

Mungkin solusi yang diperlukan akan sangat kompleks. Tapi sedikit sumbang saran dari saya, penggunaan tiket kertas bisa diganti dengan tiket kartu. Beberapa shelter sudah melaksanakannya. Namun untuk kereta api, pameran, konser pertunjukkan, bioskop, dan tiket-tiket lainnya, belum saya lihat. Tiket kartu yang digunakan, bisa mencontoh tiket kartu pada ticketing jalan tol. Bahwa tiket harus dikembalikan pada saat kita keluar dari tempat. Ketika keluar dari shelter misalnya, kita serahkan kembali tiket tersebut pada petugas. Ketika keluar dari bioskop, kita serahkan pada petugas. Ketika keluar dari stasiun kita serahkan pada petugas. Dengan begitu, setidaknya ada sedikit masalah yang berkurang yaitu sampah kertas sobekan tiket tersebut tidak se-menggunung sekarang.

Jika anda berpikir  holistik, maka akan terlintas pula bahwa ketika penggunaan kertas mampu ditekan, maka setidaknya ada beberapa pohon yang terselamatkan. Ketika penggunaan kertas untuk sesuatu yang tidak begitu penting itu berkurang, maka ada sedikit produksi kertas yang dikurangi. Jika produksi kertas agak berkurang, maka gas CO2 yang dihasilkan pun akan sedikit berkurang. Jika penggunaan kertas berkurang, maka Limbah cair dan limbah padat pun akan berkurang.

Go green tidak harus melulu dari hal-hal besar. Menyadari hal-hal kecil di sekitar kita, dan kita ikut berkontribusi didalamnya adalah sesuatu yang bisa memperpanjang usia bumi ini. satu contoh kecil yang pernah saya lakukan adalah dengan tidak langsung membuang kertas yang sudah dipakai. Tapi menggunakan lembaran sebaliknya untuk membuat coretan atau catatan. Ketika Baksos pun demikian. Rekan Ferdi Xn menggunakan lembar kertas kosong (dibalik kertas yang sudah tidak dipakai) sebagai pencatat daftar hadir.

Percayalah, saya bukan ingin jadi pahlawan lingkungan seharga seratus tiga puluh ribu rupiah dengan menuliskan keprihatinan saya disini. Saya hanya ingin membuat diri saya sadar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama.

haruskah tempat-tempat seperti ini makin gundul? - foto: disalah satu tempat di cianjur selatan;dok.pribadi

Kaki manangel, 17032010. (HS)

Tulisan ini masih tentang pengalaman saya menelusuri sisi lain kota Jakarta. Memperhatikan yang tak tercatat dan mencatat yang tak terperhatikan.

Sebelum mengikuti Baksos di muara Angke, saya sengaja untuk mengunjungi kawan saya. Namun karena kawan saya tersebut ada jadwal ngantor, jadilah hari itu kami bertemu di luaran. Saya diajak ke JCC untuk menyaksikan pameran. Pameran apa, saya nggak begitu tertarik untuk mencatatkannya. Kecuali satu, agrinex, sejenis pameran hijau tentang bibit tumbuhan (maaf kalo salah).

Perjalanan dari cempaka putih saya lalui dengan memutar dulu ke cililitan karena sang teman ada keperluan. Dari situ kami menaiki busway. Mungkin untuk anda tidak ada yang menarik dengan busway. Tapi bagi saya, ada keprihatinan ketika menghampiri shelter busway.

Ini tentang ticketing busway transjakarta (dan juga kereta api yang saya naiki ketika saya akan kembali ke kampung halaman). Bukan masalah harga yang ingin saya ceritakan. Karena jika dilihat dari segi harga, tiket bus transjakarta ini murah. Sangat murah malah. Hanya dengan Rp. 3.500 saja, kita bisa puas mengelilingi Ibu Kota RI ini. Bukan pula tentang antrean untuk menumpang di atas transjakarta tersebut. Karena sebagai transportasi massal, wajar sekali jika banyak pengguna yang memakai bus transjakarta ini. untuk kereta api, juga bisa dibilang murah. Hanya dengan Rp.2000,- bisa tiba di atau dari jakarta dari/ke tempat tujuan.

Tapi ini tentang penggunaan tiket non kartu di beberapa tempat (shelter) transjakarta. Untuk shelter yang menggunakan tiket kartu mungkin tidak masalah. Tapi untuk tiket non kartu yang notabene adalah kertas, maka ini bisa dikatakan sebagai pengundang masalah tersendiri. Saya coba amati ketika berloncatan dari satu shelter ke shelter lainnya. Sobekan tiket yang terbuat dari kertas itu melimpah ruah di tempat sampah. Mungkin jika anda berpikir praktis, anda tidak akan tertarik.

“Ah, itu kan Cuma sedikit” atau “Bahan yang digunakan untuk tiket bus transjakarta belum seberapa jika dibandingkan dengan penggunaan kertas untuk industri surat kabar.” Bahkan bisa saja anda berkomentar sinis terhadap tulisan ini :”Anda harus hati-hati, kalau anda kritis tentang penggunaan kertas, hendaknya jangan hanya disampaikan kepada penggunaan kertas di transjakarta. Harus objektif dan rasional. Bisa-bisa anda dituduh mendiskreditkan transjakarta. Anda bisa dituntut lho.”

Jika anda berkomentar seperti di atas, silahkan. Saya tidak akan melarang anda. Namun, percayalah tidak ada niat buruk dari saya. Saya hanya ingin pengelola transjakarta, PT.KA, pengelola pertunjukan, bioskop, dan juga kita, untuk lebih peduli akan hal-hal kecil yang kadang tidak dianggap, tapi sebenarnya berdampak terhadap alam sekitar kita. Saya hanya ingin mengingatkan, setidaknya untuk diri sendiri, tentang penggunaan kertas.

Ketika memiliki ide untuk menulis ini, mata saya menangkap tulisan seorang blogger kompasiana yang ikut serta dalam nokia green ambassador, Pungky. Di tulisan yang berjudul ‘Kalau go green jangan go blok’ itu tertulis “setiap produksi 1 ton kertas menghasilkan gas karbondioksida sebanyak kurang lebih 2,6 ton. Jumlah ini setara dengan gas buang yang dihasilkan sebuah mobil selama 6 bulan. produksi 1 ton kertas menghasilkan kurang lebih 72.200 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat” (thanks pungky untuk datanya).

Mungkin ticketing busway ini belum seberapa. Tapi menurut saya, ini akan menjadi masalah jika dihitung dari jumlah pengguna jalur busway tersebut. berapa ratus ribu orang setiap hari melaju dengan transjakarta. Dan berapa ratus ribu lembar sobekan tiket yang akhirnya berakhir di tempat sampah? Berapa hari dalam setahun transjakarta diserbu oleh penggunanya? Hmm, mungkin nggak sih ini tidak jadi masalah di kemudian hari?

Itu baru tiket transjakarta. Belum tiket-tiket lainnya, semisal tiket kereta api, tiket pameran, tiket konser, tiket nonton, dan tiket-tiket lainnya. Semua berakhir di tempat sampah!!!

Itu baru tiket. Bagaimana dengan brosur atau pamphlet iklan yang juga biasanya berakhir di tempat sampah?

Saya pernah menulis tentang seorang pejuang lingkungan bernama pak Ape. Berjuang dengan gigih mengupayakan penghijauan kembali di kawasan resapan air di hulu sungai yang berlokasi di gunung gede-pangrango. Akan sangat bertentangan dengan perjuangan pak Ape, dan pahlawan-pahlawan lingkungan lainnya, ketika lahan gundul makin meluas akibat penebangan pohon yang digunakan sebagai bahan baku kertas.

Jika kita kaitkan data yang ditulis pungky dengan jumlah penggunaan tiket-tiket tersebut, ada berapa banyak pohon yang menjadi ‘korban’? ah, saya tidak ingin menyajikan datanya. Silahkan kita pikir bersama-sama menggunakan logika. Jauhkan dulu apriori dan pikiran negatif untuk tulisan ini.

Adakah solusi untuk itu? Pasti ada!!!

Mungkin solusi yang diperlukan akan sangat kompleks. Tapi sedikit sumbang saran dari saya, penggunaan tiket kertas bisa diganti dengan tiket kartu. Beberapa shelter sudah melaksanakannya. Namun untuk kereta api, pameran, konser pertunjukkan, bioskop, dan tiket-tiket lainnya, belum saya lihat. Tiket kartu yang digunakan, bisa mencontoh tiket kartu pada ticketing jalan tol. Bahwa tiket harus dikembalikan pada saat kita keluar dari tempat. Ketika keluar dari shelter misalnya, kita serahkan kembali tiket tersebut pada petugas. Ketika keluar dari bioskop, kita serahkan pada petugas. Ketika keluar dari stasiun kita serahkan pada petugas. Dengan begitu, setidaknya ada sedikit masalah yang berkurang yaitu sampah kertas sobekan tiket tersebut tidak se-menggunung sekarang.

Jika anda berpikir  holistik, maka akan terlintas pula bahwa ketika penggunaan kertas mampu ditekan, maka setidaknya ada beberapa pohon yang terselamatkan. Ketika penggunaan kertas untuk sesuatu yang tidak begitu penting itu berkurang, maka ada sedikit produksi kertas yang dikurangi. Jika produksi kertas agak berkurang, maka gas CO2 yang dihasilkan pun akan sedikit berkurang. Jika penggunaan kertas berkurang, maka Limbah cair dan limbah padat pun akan berkurang.

Go green tidak harus melulu dari hal-hal besar. Menyadari hal-hal kecil di sekitar kita, dan kita ikut berkontribusi didalamnya adalah sesuatu yang bisa memperpanjang usia bumi ini. satu contoh kecil yang pernah saya lakukan adalah dengan tidak langsung membuang kertas yang sudah dipakai. Tapi menggunakan lembaran sebaliknya untuk membuat coretan atau catatan. Ketika Baksos pun demikian. Rekan Ferdi Xn menggunakan lembar kertas kosong (dibalik kertas yang sudah tidak dipakai) sebagai pencatat daftar hadir.

Percayalah, saya bukan ingin jadi pahlawan lingkungan seharga seratus tiga puluh ribu rupiah dengan menuliskan keprihatinan saya disini. Saya hanya ingin membuat diri saya sadar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama.

Kaki manangel, 17032010. (HS)

Notes; dicatat juga disini klik gambar

4 thoughts on “Pakai Tiket, Buang Pohon

  1. sedikit problematik juga nih, karena saya posisinya sebagai pengguna bagai kerbau dicolok hidungnya nurut aja.

    konsepnya sih udah kebayang tinggal implementasi (halah istilah apa pula ini) dari pihak pelaku bisnisnya aja yang musti berpikir jauh ke depan untuk meminimalisir sisa buangan sampah kertas yang tidak terpakai tersebut.

    usulan konkritnya sih oke juga, tapi kenapa tidak sisa-sisa kertas yang dikumpulkan si tukang karcis dikumpulkan dan didaur ulang. Atau klo tidak, karcisnya dibuat dari kertas daur ulang.

    saya belum lihat sih tiket busway terbuat dari jenis kertas seperti apa, yang jelas klo tiket bioskop yang terkesan luxurious (glossy paper) seharusnya bisa diganti dan di desain ulang bentuknya sehingga lesspaper dan ecofriendly lah. kayak tiket kereta paramex cuman seutil dan dari kertas darlang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s