sepotong lagi, catatan dan ide ‘gila’ dari muara angke

catatan ini mau saya publis di kompasiana. namun nunggu waktu yang tepat, makanya saya save dulu di blog HS.

~hs~

Menyusuri sungai dan hutan mangrove rupanya membawa keasyikan tersendiri untuk saya. Saya sampai dua kali ikut susur sungai. Padahal udara sangat menyengat. Jakarta gitu lho! Susur sungai yang pertama, saya ikuti dan ternyata tidak sampai di bibir muara. Cuma tigaperempat jalan dan balik lagi. Susur kedua, tepat ketika jam menunjukkan pukul 12 kurang 15. Panasnya! Saya sampe minjem topi mak kit.

Sepanjang dua kali susur sungai, saya mencoba mengamati apa yang bisa saya amati dengan keterbatasan mata silindris saya. pemandangan yang sama, seperti yang diutarakan teman-teman yang lain. Miris! Satu perkampungan kumuh di sisi kanan, dan satu pemukiman elit di sisi kiri.

Saya coba membayangkan  fenomena ini. bagaimana rasanya jika hidup di sisi kanan sungai. Ah, tidak sanggup rasanya. Bagaimanapun juga untuk bertahan hidup itu butuh sanitasi. Lha ini, sungainya saja sudah tercemar. Tapi para pemukim itu masih sanggup bertahan. Sebuah keputusan karena ketiadaan piihan ataukah memang mereka menikmatinya?  Entahlah, saya tidak tahu.

inilah sisi kiri itu - dok.pribadi

inilah sisi kiri itu - dok.pribadi

Bisakah anda membayangkan ketika hidup ditempat yang banyak sampahnya? Bau menyengat? Haruskah saya salut sama mereka yang berada di sisi kanan sungai angke itu, ataukah justru harus prihatin, karena bagaimanapun mereka adalah sesama manusia seperti kita juga.

Kondisi ini dimana-mana selalu ada. Kemiskinan dan ketiadaan pilihanlah yang membuat mereka bertahan pada tempat yang tidak semestinya layak ditinggali.

jejeran pengemis di pelataran mesjid selepas sholat jumat - dok.pribadi

Melihat fenomena sosial kemiskinan tersebut, saya jadi membandingkan dengan keadaan dikota tempat tinggal saya. setiap hari jumat, ketika saya mau beribadah shalat jumat di masjid agung, saya mengamati para pengemis yang begitu menjamur. Kenapa bisa seperti itu? Entahlah. Mungkin memang dasarnya pemalas.

Pada saat rehat, kami berdiskusi. Mariska mengemukakan ide tentang kampung binaan. Ide bagus dan segar menurut saya. kita, yang tergabung disini bisa membuat sebuah proyek percontohan dengan membina sebuah kampung miskin menjadi kampung mandiri. Namun, untuk mewujudkan mimpi ini, kiranya harus ada konsep yang matang terlebih dahulu, selain sumber daya yang juga harus tepat. Entah sumber daya manusia, ataupun modal awal. Konsep yang harus benar-benar terperinci karena ini akan berhubungan dengan keberlanjutan program. Sekaligus mendukung program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Untuk mewujudkannya, kita harus konsisten rasanya. Punya komitmen kuat untuk ‘berbakti’ dan bukan untuk menjadi pahlawanseratustigapuluhribu semata.

Tulisan ini hanya ingin menindak lanjuti ide mariska saja. karena menurut saya, ide ini cukup bagus untuk dikembangkan dan diwujudkan. Kira-kira, teman-teman disini, adakah yang sumbang saran seperti apa ide tersebut diwujudkan?

Saya yakin, ketika sumber daya potensial yang kemarin ikut bakso muara angke bergabung. Akan tercipta kekuatan yang luar biasa. Ditambah dari anda yang belum ikut, saya makin yakin, suatu saat ide itu akan terwujud.

Hadi – kompasianer yang belajar Berbuat baik terhadap sesama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s