satu mata, satu dunia, satu bola

catatan ini kusimpan dulu, untuk ku-upload di kompasiana. beberapa hari ke depan, mungkin. ku cari dulu potret lengkapnya.

~hs~

Sepak bola. Semua orang sudah sangat familiar dengan olah raga yang satu ini. Tua muda, miskin kaya, laki-laki perempuan, tidak ada yang tidak pernah tahu tentang olah raga yang sudah familiar  ini. sepakbola adalah olah raga mendunia yang sangat merakyat.

Saya coba perhatikan, hampir semua orang tumpah ruah menonton ketika ada pertandingan bola. Bahkan tidak jarang anarkisme menjadi pelampiasan manakala tim kesayangannya menelan pil pahit oleh tim lawan. Apalagi jika itu di kandang sendiri.

Sebagai salah satu kota kecil, masyarakat cianjur pun tidak pernah ketinggalan menonton sepak bola. Entah di rumah, atau di gardu-gardu pos kamling, ketika ada siaran langsung sepak bola pasti akan menonton bersama. Sebagai kota kecil, di Cianjur Cuma ada satu Big Screen (atau giant TV) milik salah satu perusahaan rokok untuk  beriklan. Big screen itu dipasang persis di pos polisi perempatan hypermart (tanpa maksud beriklan, karena memang perempatan itu memang disebut demikian).

Jika ada pertandingan bola, entah di TV one atau ANTV, kadang saya melihat big screen itu menjadi sarana menyiarkan pertandingannya. Kebersamaan pun terjalin. Polisi dan warga berbaur dalam gelapnya malam tanpa hujan.  Pedagang kacang rebus, minuman sekoteng hangat, jagung manis rebus, tiba-tiba saja hadir di pinggir-pinggir jalan. Tidak ada tempat khusus untuk menonton. Hanya menggunakan emperan trotoar sebagai tempat duduk. Bahkan, para pengendara pun mungkin akan sedikit ‘terganggu’ dengan menengadahkan matanya melihat big screen tersebut.  Padahal perempatan itu agak sedikit rawan jika saja polisi tidak turun tangan. Yaaa, polisi harus bekerja ekstra ketika pertandingan bola yang berlangsung antara magrib hingga jam 20.00 itu. Saya pernah melihat ini ketika pulang dari Bandung. Kebetulan, jalan menuju rumah memang harus melalui perempatan itu.

Itu baru liga Indonesia yang ditayangkan. Tidak terbayang ketika piala dunia Afrika kelak. Big Screen ini akan menjadi semacam bioskop misbar dengan tayangan berdurasi 90 menit dengan judul Italia vs Jerman, misalnya. Atau Perancis vs Inggris, jika ada.

Giant TV inilah yang menjadi perekat sosio-kultural para bola mania - dok.pribadi

~hs~

Saya masih ingat ketika piala dunia 2006 lalu. Hampir setiap malam, tetangga rumah saya yang rumahnya persis di belokan, selalu menggelar nonton bareng. Warung kecil milik Ceu Nonoh itu selalu buka sampai malam. TV 14 inch menjadi modal utama untuk nonton bareng piala dunia itu. Saya tidak pernah tertarik untuk bergabung. Hanya mengamati sekilas saja. Lumayan, hitung-hitung ada ronda gratis di dekat rumah saya.

Begitu pun ketika saya bertugas di pelosok selatan Cianjur. Ketika Persib Bandung bertanding, animo warga pelosok cianjur untuk menonton partai Persib menghadapi lawannya sangat tinggi. Kami yang bertugas di kecamatan sengaja menyambangi rumah warga yang memiliki TV lengkap dengan parabolanya demi ikut menyaksikan pertandingan bola. Maklum di kecamatan tidak disediakan receiver parabolanya.

Ya, disana harus punya parabola. Jika tidak, jangan harap bisa menonton siaran TV. Apalagi siaran sepakbola. Bahkan, meskipun listrik byar pet, warga mengakalinya dengan menggunakan genset. Betapa besar magnet bola menyedot penonton.  Kami, petugas kecamatan bersama warga berbaur menonton pertandingan liga lokal tersebut. Kami yang semula tidak saling mengenal, berbaur di salah satu warung yang memang menyediakan tontonan gratis. Lagi-lagi, saya cukup bersosialisasi saja hahaha.

~hs~

Ketika saya masih kost di daerah Geger kalong – Bandung. Piala dunia Korea-Japan 2002 menjadi menu tontonan wajib teman-teman kost saya. Konsentrasi saya untuk mid semester pun terpecah,  karena terpaksa harus menghadiri nonton bareng salah satu partai pertandingannya. Ya, saya ‘terpaksa’, karena tetangga kamar saya, persis bersebelahan dengan saya, memboyong TV nya ke teras dan menyiapkan kopi untuk nonton bareng. Padahal pada saat piala dunia Korea-Japan pertandingan dilangsungkan tidak lebih dari jam 22.00 WIB. Meskipun  besoknya ujian ketok mata kuliah Botani Criptogamae yang tidak saya mengerti, dan saya belum belajar, saya turut menghadiri nonton bareng di teras kamar kost tersebut dengan tujuan sosialisasi, hehehe.

Begitu pula ketika tahun 2004. Perhelatan piala Eropa 2004 kala itu. Saya yang berkesempatan mengunjungi Banjarmasin, mencatat terdapat beberapa titik yang dijadikan nonbar di tempat terbuka. Salah satunya tidak jauh dari sungai Martapura kalau saya tidak salah, juga di deket kantor tempat kakak saya bertugas di sana.

Dahsyat bukan magnet sepakbola untuk supporternya?

keceriaan anak tetangga bersama bola - dok.pribadi

Hmmm, memang dahsyat. Tapi untuk saya, tidak terlalu penting. Kecuali saya tidak ingin ketinggalan informasi dan sosialisasi dengan teman-teman.  Mungkin diantara para pecinta bola, saya adalah seorang yang tidak terlalu menyukai olah raga ini. apa pasal? Pengalaman masa kecil tentu saja. Kala itu, saya masih SD. Dan seperti anak-anak lainnya, kami bermain bola di sebuah lapangan tanah liat tanpa alas kaki. Bola yang kami gunakan adalah bola plastik. Wow, terbayang dong bola plastik yang jika ditendang tepat mengenai tulang kering akan bagaimana? Nah, saya mengalaminya. Seorang teman saya menendang bola dengan keras , se-keras-kerasnya, tepat mengenai tulang kering saya. Sumpah, sakit banget! Pereus kalau kata orang sunda.

Atas pengalaman tersebut, pelan tapi pasti saya mulai tidak terlalu menyukai olah raga ini.  Saya hanya menyukai untuk menontonnya saja. itupun tidak se-dahsyat ketika saya belum kena sabetan tendangan teman saya. Saya masih ingat sebelum saya terkena ‘’tendangan maut’ itu, saya masih menonton sepak bola bersama keluarga di ruang TV. Gara-gara sensasi tendangan tulang kering itu lah saya tidak begitu antusias lagi. Saya lebih memilih untuk mencintai bulutangkis. Olah raga inilah yang membuat saya tidak berpikir dua kali, untuk tidak lagi terlalu peduli dengan bola. Buat saya, justru bulutangkis memberikan sensasi tersendiri. Ketika menontonnya pun, saya selalu lebih deg-degan ketimbang saat menonton bola. Hahaha.

Hmmm, tapi tunggu. Bukan berarti saya tidak suka lho jika artikel ini terpilih jadi pemenang selocalsoccer hehehe. Karena bagaimana pun, ketika ada perhelatan sepak bola tingkat dunia saya kadang menyempatkan diri menonton. Kecuali yang jam tayangnya mengganggu jam tidur. Penting buat saya agar saya tidak tampak bloon ketika bersosialisasi hihi. Kalaupun saya ketinggalan, saya pasti sempatkan menonton cuplikan beritanya.

Sekali lagi, Dahsyat bukan magnet sepakbola? Bahkan, buat orang-orang yang tidak suka bola pun, masih menyimpan dan  menjadi daya tarik tersendiri.

~hs~

Kini, perhelatan sepak bola terbesar di dunia akan terpusat di Afrika Selatan. Saya yakin, perhelatan ini akan tayang pada Giant TV di perempatan yang menjadi tempat bertemunya jalur Jakarta-Bandung-Sukabumi-Cianjur tersebut. Sepakbola telah menjadi semacam perekat sosio-kultural di tataran masyarakat level manapun.

Saya juga yakin, ketika pertandingan bola dihelat, semua penonton akan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Berdampingan dan mengesampingkan kedudukan sosial mereka. Entah di café mahal, atau pun menonton Misbar, semua akan membaur satu sama lain membicarakan satu bahasan yang sama, dan memelototi satu tontonan yang sama pula. bernama:

S  E  P  A  K   B  O  L  A  !!!

Kaki gn.Manangel, 21032010

Hadi-Kompasianer pencinta bulutangkis yang ikut lomba SeLocalSoccer🙂

2 thoughts on “satu mata, satu dunia, satu bola

  1. Ping-balik: Tsamina Mina Zangalewa, This Time For Africa « Hanya Sekedarcatatan

  2. Bentar Lagi Final Piala Dunia. Tentunya nonton Di LED atau LCD lebih nyaman.

    Untuk lebihnyaman dan terhindar dari Jatuh LCD dan LEDnya tentunya harus pasang Di Tembok.

    Selain lebihnyaman dan Aman tentunya lebih menghemat ruangan. Jadi gunakanlah Bracket TV.

    Murah dan Kuat Harga Pabrik.

    Bpk. Yogie : 0818 – 0927 – 9222 ( XL)

    breketlcdmurah.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s