Ketika Jurusan Cianjur Menggugat Jalur

Tulisan ini dimuat juga di Kompasiana

Tulisan ini mungkin bernada kemarahan. Tapi percayalah jika disikapi dengan kepala dingin akan ada sedikit bahan refleksi yang bisa kita sama-sama renungkan. Tulisan ini terinspirasi ketika saya terjebak macet, stuck selama hampir dua jam tiga puluh menit di kawasan Ciawi – Bogor, pada hari ahad sore.

~hs~

dok. pribadi

Saya sebenarnya paling malas harus bepergian ke Bogor atau Jakarta di akhir pekan. Tanya kenapa? Karena saya harus berjibaku dengan kemacetan yang selalu terjadi di Jalur Puncak. Ketika akhir pekan, apalagi masa-masa long weekend pasti kemacetan akan mengular panjang entah berapa kilometer. Entah dari arah Cianjur, ataupun dari arah Jakarta. Berkat kemacetan yang sampai saat ini belum ada jalan keluarnya, maka para pengelola jalan (termasuk polisi di dalamnya) membuat satu solusi yaitu BUKA TUTUP JALUR.

Sedikit terurai, sih, namun kita sebagai pengguna jalan harus memiliki kesabaran penuh ketika jalur yang kita lalui sedang ditutup. Satu jam sekali. Begitu kata supir El-tigaratus jurusan Cianjur-Bogor.

“kalau hari sabtu, ditutupnya di Cisarua. Perempatan arah taman safari.” Salah seorang ibu menjawab pertanyaan saya ketika kami berada dalam satu mobil angkutan umum yang sama. Perasaan senasib, sedang sama-sama menunggu buka jalur, membuat kami memiliki satu visi yang sama. Tapi ini bukan hari sabtu, ini hari ahad. Dan sore hari pula. Saya berada di Ciawi dan jalur menuju Cianjur ditutup sejak jam empat sore. Waktu menunjukkan hampir jam enam magrib.

“Kalau ahad memang lama gini, Mang?” saya pura-pura tidak tahu untuk memancing keluhan dari si supir.

“Iya Pak. Mau gimana lagi, kalo hari minggu ya harus seperti ini.” supir tersebut terdengar pasrah. Hmm, sebuah kondisi yang tidak menguntungkan rasanya. Sungguh tidak adil bagi saya. Bagi kami yang akan melalui jalur puncak menuju Cianjur atau Bandung. Sama-sama pengguna Jalan. Sama-sama bayar pajak (dan pajakna dihakan si Gayus edan), tapi kami harus mengalah dan menunggu lebih lama serta menyaksikan mobil-mobil melaju ke arah Jakarta yang melenggang dengan aduhai di depan mata kami.

Hati saya berteriak. Inikah istimewanya orang kota sehingga diperlakukan sedemikian rupa? Padahal yang membuat kemacetan itu bukanlah orang-orang desa seperti kami, tapi mereka lah yang memindahkan jalanan Jakarta ke jalur puncak. Namun mengapa harus kami yang mengalah?

Saya tidak ingin menyoroti keistimewaan dan ketidak istimewaan. Saya hanya ingin meneriakan curahan hati saya ketika saya terjebak macet karena keburu tutup jalur selama hampir dua jam tiga puluh menit.

Saya mencatat, kenapa bisa terjadi buka tutup jalur? Ya, ini karena volume kendaraan yang memenuhi jalur Puncak, lebih banyak. Sedangkan jalur tetap seperti itu. Ditambah kurang disiplinnya para pengemudi membuat macet yang harus dicari Solusinya.

Jawaban kedua, saya melihat bahwa ada pemborosan kendaraan. Sepanjang hari sabtu kemarin (9/4-2010) saya melihat iring-iringan kemacetan dari Jakarta ke arah puncak. Ada banyak mobil yang bertuliskan satu perusahaan auto leasing yang berplat nomor A, B, T, dan mungkin juga D serta F. Disinilah terlihat kurang efisien. Satu mobil isinya hanya dua atau tiga orang. Padahal banyak space kosong yang masih bisa diisi pengendara lain dari grup tersebut. Dari pada bawa mobil sendiri yang justru menimbulkan masalah baru. Benar, MASALAH BARU. Selain macet, ada pemborosan bensin juga. Dan artinya polusi akan makin bertambah. Bener nggak?

Tiga, saya juga melihat dan mencatat kenapa puncak harus buka tutup jalur. Ada ketidak disiplinan dari para pengendara. Entah itu mobil atau motor. Dengan seenaknya mereka menyalip kendaraan lain. sungguh tidak beretika, dan hasilnya tentu saja ada jalur yang tercuri. Stuck. Macet!!! Saya sendiri kadang jadi supir mobil dan juga pegang kemudi motor. Itulah makanya saya suka kesal melihat ulah ketidak disiplinan mereka.

Selain itu, saya juga kesal dengan ulah para kaum kapitalis yang ingin tiba dengan cepat dan membayar patwal polisi. Dengan enak, para polisi patwal tersebut mengurai jalur meminta jalan agar mobil yang dikawalnya bisa bebas meluncur. Padahal sekali lagi, KITA ADALAH SAMA-SAMA PENGGUNA JALAN!!! Disini terbukti, Uang telah menjadi segalanya. Kapitalisme menjadi raja atas manusia. Siapa yang punya uang, dia yang bisa mengatur jalan. Padahal saya yakin, para pengguna jalan lainnya pasti memiliki satu kepentingan di tujuannya masing-masing. Saya menyebut mereka A-R-O-G-A-N!

Mungkin niat kita semua menuju Puncak adalah ingin melepaskan penat. Stres setelah lima hari bekerja padat. Namun saya melihat bukan fresh yang didapat. Malah stres yang berkelebat. Supir, pengguna jalan, polisi, dan para pengatur lalu lintas lainnya terlihat berkerut kening. Berlipat muka. Ditambah asap kendaraan yang lumayan mengganggu hawa sejuk Puncak, membuat kepala kadang terasa nyut-nyutan.

Masalah lain yang timbul, adalah makin banyaknya para pengemis yang mengais rejeki di kawasan Puncak. Saya pernah belanja di warung depan rumah. Terlihat satu orang ibu tua dari RW sebelah yang merupakan pendatang, dan saya ketahui dia sering mengemis di kawasan Puncak. Ibu itu mengeluarkan uang recehan dan seribuan. Dia tukar di warung tersebut. Segera setelah pergi saya bertanya pada si empunya warung.

“Berapa kang?”

“dua ratus ribu lebih” jawabnya. Saya tercengang. Kaget.

“Iya, Kalau hari biasa segitu, kalau hari sabtu ahad malah bisa mencapai empat ratus ribuan.”

Wow, betapa sebuah penghasilan yang menggiurkan. Tidak heran jika jalur puncak yang makin sering macet itu telah berubah menjadi sarana tumpuan mencari nafkah para pemalas itu!

Masalah-masalah diatas pasti akan selalu ada seiring dengan jalur Puncak yang selalu macet. Jika belum ada solusi lain, pasti problem yang sama akan selalu mendera.

Itulah mengapa sekarang saya lebih memilih menggunakan angkutan umum jika bepergian keluar kota. Selain karena capek nyetir, saya bisa tidur atau bertualang menembus jalur tikus jika ngangkot dengan eltigaratus. Ketika kakak saya yang sekarang menjabat satu jabatan di Polda Bali datang, atau kakak saya lainnya yang bekerja di Polda Kalbar datang,  dan meminta dijemput atau diantar ke Bogor, saya sebenarnya berat hati menyanggupi karena saya malas berhadapan dengan macet. Namun ikatan persaudaraan lah yang membuat saya menyanggupinya. Strategi kami adalah berangkat pagi-pagi sekali sehingga jalur macet terlalui tanpa lama. Karena idealnya Cianjur-Bogor itu Cuma 1,5 jam. Jika terlambat sedikit saja, maka perjalanan tersebut bisa mulur hingga berjam-jam.

~hs~

Kemarin, ketika saya terjebak macet di Ciawi, saya berkelakar di status Facebook. “Buka tutup Jalur menguntungkan orang Jakarta?” Salah satu kawan saya balas berkelakar di kolom komentar.

“Lah kan memang Indonesia ini dibuat untuk orang jakarta SEMUANYA…”

Hahaha, kalau sudah begini, mending pindah ke Jakarta aja yuk, semuanya!!! (HS)

Kaki gunung manangel, 12042010.

Hadi – kompasianer yang terinspirasi menulis ini ketika macet di Ciawi.

NB: terima kasih jika anda berkomentar: salah sendiri nggak pulang lebih awal dari Bogor. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s