Antara UN, Evaluasi, dan Hardiknas

dok.pribadi

Sedikit catatan saya untuk menyambut peringatan hari pendidikan nasional, 2 Mei 2010. Sengaja saya posting hari ini, 3 hari sebelum peringatan Hardiknas dengan harapan ada beberapa pihak terkait yang membaca. –alasan lainnya karena tanggal 2 jatuh di hari ahad, saatnya untuk libur hehe :p –

~hs~

Saya bukanlah seorang yang berkecimpung di dunia kependidikan. Bukan guru, juga bukan dosen. Saya hanya sempat mengenyam kuliah di jurusan kependidikan untuk calon guru dimana saya mendapat beberapa materi mata kuliah tentang bagaimana caranya mengajar siswa dan bagaimana cara mengevaluasi mereka.

Saya sedikit tertarik dengan evaluasi pendidikan, maka saya angkat tema ini sebagai tema skripsi saya waktu itu. Saya mencoba melaksanakan penelitian kasus di salah satu SMA Negeri di Bandung. Waktu itu saya meneliti pengaruh asesmen kinerja atau penilaian kinerja siswa. Dilihat pengaruhnya terhadap nilai akhir siswa SMA tersebut. Ternyata siswa mengalami peningkatan perolehan nilai setelah dilaksanakan evaluasi menggunakan assesmen kinerja tersebut. Ini tentu cukup menggembirakan, terlepas dari sulitnya melakukan evaluasi tersebut karena melibatkan tim untuk melakukan penilaian.

Sedikit berbicara tentang ujian nasional yang didaulat kementrian pendidikan nasional sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan pendidikan Indonesia. Jika saya boleh bersuara, agaknya UN ini tidak mewakili apa yang menjadi representasi siswa dalam setiap mata pelajaran. Tiga tahun pembelajaran, hanya ditentukan tiga hari dan lima mata ujian saja. Saya berpikir ekstrim: buat apa capek-capek belajar mata pelajaran lain jika yang dinilai hanya beberapa saja. Pelajari saja mata pelajaran yang di-UN-kan itu. Toh, yang menjadi tolok ukur hanya tingkat kelulusan siswa saja. Bukan kualitas siswa lulusan sekolah tersebut.

Kembali ke assesmen kinerja. Penilaian ini memiliki kategori yang berbeda dengan evaluasi biasa. Bukan sekedar pilihan ganda ABCDE atau benar salah dan essay. Namun menilai segala kegiatan siswa dalam pembelajaran. Saat penelitian skripsi, saya menilai pelaksanaan praktikum biologi untuk materi pencemaran air.  Saya memakai beberapa indikator untuk menilai kinerja para siswa dalam praktikum tersebut. Mulai dari kelengkapan alat yang mereka gunakan, cara melihat perubahan warna, cara membaui, hingga diskusi yang mereka laksanakan. Tidak lupa saya juga melaksanakan evaluasi akhir untuk mengukur sejauh mana mereka bisa menangkap materi dari praktikum yang mereka laksanakan. Hasilnya, terdapat peningkatan perolehan nilai dari setiap siswa.

Dari hasil penelitian assesmen kinerja yang dilaksanakan pada saat praktikum itu, saya menarik konklusi bahwa tidak semua siswa memiliki bakat kecerdasan akademis yang sama. Ada beberapa  siswa yang justru lebih berbakat dalam kinerjanya dibanding akademisnya. Mereka lebih cekatan dalam bekerja ketimbang para siswa pemikir, dan itulah yang bisa meningkatkan perolehan rata-rata nilai dari tiga kelas yang saya amati.

Mungkin ini tidak begitu signifikan karena yang saya amati Cuma beberapa kelas di satu SMA saja. Namun agaknya ini bisa menjadi masukan untuk kemendiknas dalam rangka meninjau kembali efektivitas UN yang hanya menilai domain kognitif saja, dan mengabaikan aspek psikomotor. Padahal, sekali lagi saya berpendapat, tidak semua orang memiliki bakat dan kecerdasan akademis yang sama. Ada beberapa yang justru lebih unggul di psikomotornya. Dan penilaian holistik agaknya bisa menjadi faktor penentu kelulusan seorang siswa.

~hs~

Saya bukanlah seorang ahli di bidang pendidikan, namun saya menaruh sedikit perhatian terhadap sistem pendidikan nasional negeri ini. Semoga para praktisi pendidikan dan pemegang kebijakan sistem pendidikan nasional meninjau kembali program ujian nasional. Karena efek negatif siswa yang tidak lulus sudah banyak menghiasi pemberitaan media. Malah yang terakhir saya baca ada siswi yang tidak lulus yang nekad menunggak racun serangga karena malu dan takut dimarahi orang tuanya.  Kalau sudah begini, artinya pendidikan kita belum berhasil mendidik siswa-siswinya , bukan?

Sekedar catatan refleksi untuk menyambut hari pendidikan nasional 2 mei 2010. (HS)

Kakimanangel 28042010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s