Ada Desah dibalik Sensus!

Tidak terasa sensus penduduk sudah memasuki hari ke-empat. Saya selaku koordinator tim di wilayah garapan saya mulai menemukan cerita-cerita seru dari tiga anggota pencacah lapangan yang mulai menjalankan tugasnya melaksanakan sensus penduduk.

Sebagai strategi agar kekompakan tim tetap terjalin, saya melibatkan semua PCL (Petugas Cacah Lapangan – sebutan bagi para petugas pendata) untuk melaksanakan pendataan di tiap blok. Dari total enam blok, kami mengerjakan pendataan per blok secara keroyokan. Strateginya adalah menyebar para PCL untuk me-listing warga dengan menanyai jumlah anggota keluarga dan siapa kepala keluarganya. Panas terik sudah mulai menjadi sahabat kami kelihatannya.

Adalah Deinda, salah satu PCL dari tim saya yang ikut melakukan pendataan di blok pertama yang kami garap. Laki-laki yang baru saja lulus SMA ini tampak bersemangat melaksanakan pendataan. Dia datangi rumah demi rumah untuk menanyai satu persatu warga supaya mendapatkan data real. Pada hari ke empat ini Deinda yang akrab disapa Deden ini menemukan cerita menarik. (sempat saya share juga di facebook).

Begini, ketika Deden mengetuk satu pintu rumah kontrakan yang hanya berukura tidak lebih dari 20 meter persegi, tidak ada jawaban dari si pemilik rumah. Karena sudah menunjukkan jam 11, Deden pun pulang ke posko. Saya masih memeriksa hasil pendataan anggota tim di posko, takut-takut ada yang terlewat. Kemudian Deden melaporkan berapa rumah yang sudah berhasil didata. Karena tidak ada kerjaan, dan mungkin masih penasaran, Deden pun kembali berangkat ke lapangan dan sasarannya adalah rumah yang belum terdata tadi. 20 menit berselang dia kembali lagi ke posko, dengan muka cerah tentunya. Saya berpikir, pasti Deinda sudah menyelesaikan pekerjaannya.

Tiba-tiba Deinda bercerita pengalaman yang baru saja dia temukan. “Pak, barusan kayaknya saya ganggu orang yang lagi hanimun deh.”

Kening saya berkerut, tidak mengerti.

“Iya, saya kan ketok rumah yang tadi. Masih gak ada yang buka. Saya ketok beberapa kali, eh tiba-tiba ada jawaban. Saya menunggu beberapa saat, ternyata yang buka perempuan pak.”

Terus?

“Pas saya masuk, saya melihat suaminya pake sarung. Istrinya keringetan gitu. Udah gitu, ada CD warna merah teronggok di ruangan tersebut. Kayaknya  punya suaminya deh pak. Duh saya ganggu yang lagi hanimun neh pak hehehe. Pantesan aja jendelanya ditutupin gorden semua pak, hahaha….”

Spontan saya tertawa. Gila, siang-siang gitu lho.. hahaha. Begitu diceritakan pada dua tim yang lain, kami pun tertawa bersama-sama. Ternyata ada juga ya cerita seperti itu di balik sensus penduduk. Usut punya usut, kata pak RT yang juga anggota tim saya, pasangan tersebut memang mencari nafkahnya malam-malam.

“Mereka jualan bubur malem-malem, jadi kalo malem gak bisa hanimun.” Begitu kata pak RT.

hehehe, pengalaman sensus yang unik.

~hs~

So far, hingga saat ini kami belum menemukan kendala yang berarti. Semoga pelaksanaan sensus yang saya kerjakan tetap lancar dan selesai lebih cepat dari waktu yang ditetapkan, biar bisa ikut kopdar sama temen-temen pas launching buku ML dan STC akhir mei nanti. (HS)

Kakimanangel, 04052010 – sibukternyatamenyenangkankaloduitnyasesuaihehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s