Dari balik Sensus: Kamu anak siapa?

Masih seputar pengalaman saya melaksanakan sensus penduduk. Kali ini ada beberapa fragmen cerita dari tiap-tiap kami. Pengalaman masing-masing petugas termasuk saya.

#1

Ini adalah cerita Deinda.

Ketika saya ketuk pintu rumah kontrakan tersebut, seorang ibu keluar dari dalam rumah. Usianya mungkin sekitar empat puluhan.
“Maaf Bu, saya dari petugas sensus.”

“O iya…” jawab ibu itu. Saya berdiri di depan pintu, tidak dipersilahkan masuk. Saya pun menyensus sambil berdiri persis di depan pintu masuk rumah kontrakan tersebut.

Seperti biasa saya menanyai nama-nama anggota keluarganya. Ketika giliran anaknya yang bernama Nina (bukan nama sebenarnya), tiba-tiba ibu tersebut menunjukkan gelagat aneh. Dia memanggil dan menanyai Nina.

“Nama kamu siapa?”

“Nina”

“Bukan ah, saya tidak pernah punya anak namanya Nina. Coba kamu cek lagi, nama kamu siapa. Kamu anak saya atau bukan. Soalnya Saya tidak pernah memberi nama anak saya Nina.”

Kedua ibu anak itu bersikukuh dan bersitegang di hadapan saya. Lho… bagaimana ini? saya pun akhirnya berinisiatif menanyai Nina.

“Nin, emang ini ibu kamu bukan sih?”

Nina menjawab iya. Dan akhirnya pendataan berlanjut setelah sedikit bersitegang.

Singkat cerita, saya pun beralih ke rumah kontrakan sebelah. Entah menguping atau bagaimana tiba-tiba si penghuni rumah kontrakan sebelah Nina memberikan kode bahwa ibunya Nina itu ternyata sedikit stress.

Duh ternyata tadi saya berdialog dengan orang yang sedang stres. Pantas aja nggak nyambung hehehe.

~hs~

Hahaha… satu cerita berdialog dengan orang yang sedang stres ternyata membuat kita stres juga hehehe.

# 2

Ini adalah cerita Pak RT yang bertugas menyensus di salah satu rumah dokter. Kebetulan yang menerima adalah istri sang dokter.

“Selamat sore Bu, saya dari petugas sensus.”

Si ibu itu mempersilahkan masuk namun dengan muka yang waspada dan curiga. Saya pun menanyai anggota keluarganya setelah sedikit preambule, berbasa basi.

“Yang menghuni rumah ini berapa orang bu?”

Tiga

“Namanya siapa aja bu?”

Dr. ado (nama samaran)

“ kalau Ibu?”

Aci (Nama Samaran)

“kalau anaknya namanya siapa?”

Doci (Nama samaran)

“Kok namanya pendek-pendek sih bu.”

Iya biar cepet. Saya takut ini bukan petugas sensus, tapi teroris yang sedang menyamar.

Hahaha…  ternyata petugas sensus dikira teroris.

#3 cerita Ineu

Saya pun masuk ke salah satu rumah. Wah penghuninya lumayan ramah kelihatannya. Kemudian saya tanyai tentang anggota keluarganya. Saya sih berharap bisa cepat selesai karena hari memang sudah sore.

“Pak, Kalau di sini anggota keluarganya berapa orang.”

Berempat, tapi dua anak saya sudah tidak disini. Satu di Bandung satu di Jakarta.

“Tapi suka pulang ke sini pak?”

Iya

“Kalau begitu saya catat disini aja ya pak?”

Sebentar. Dia masuk ke dalam rumahnya. Entah mencari apa. Agak lama, keluar lagi dengan membawa dokumen kartu keluarga, dan menunjukkan bahwa anaknya masih tercatat disitu. Saya pun akhirnya menuliskannya. Tapi tiba-tiba…

“Sebentar, saya telpon anak saya dulu deh. Barangkali dia di sensus di Bandung sama di Jakarta.”

Bapak pemilik rumah ini sibuk menelepon satu persatu anaknya. Duh, makin lama deh… akhirnya saya menyelesaikan hampir lebih dari tiga puluh menit untuk mendata satu rumah yang hanya berpenghuni dua orang! Dan alhasil teman-teman lain beberapa kali meng-sms saya untuk segera berkumpul dan kembali pulang ke posko.

Oya satu lagi, pada saat saya nyensus di rumah bapak tersebut, saya mencium bau jengkol goreng. Tepat ketika sebelum berpamitan, istri si bapak tersebut berbasa-basi:

“Aduh maaf ya, tidak disuguhin apa-apa. Cuma disuguhin bau jengkol goreng aja. Kebetulan memang saya sedang masak jengkol goreng.”

#4.  Cerita saya

Setelah mendata pemilik kontrakan, si ibu yang bernama Dona ini menunjukkan rumah miliknya yang dikontrak oleh seorang ibu bernama Neni. Saya pun mendata Neni yang ternyata hanya tinggal bersama cucunya di rumah kontrakan yang tidak lebih dari 20 meter persegi tersebut.

“Usia ibu berapa?”

49

“Pekerjaan ibu apa?”

Saya sih tukang pijit Jang. Maklum Teteh sekolah sampe SD jadi sekarang tidak punya pekerjaan tetap. Teteh kan sudah tidak punya suami. Rumah aja ngontrak. Sekarang tinggal sama cucu. Ya kalo tinggal sama cucu harus kerja ekstra padahal yang dipijat itu tidak setiap hari ada. Ini sensus buat apa ya? BLT bukan? Kalau buat BLT, teteh memang belum dapat Jang. Padahal teteh kan Janda. Terus teteh kan… bla bla bla bla bla bla bla ….

Lho kok manjang. Malah jadi curhat pula. Duh, gimana cara menghentikannya ya?

Hahaha… entah lah, apa karena efek seragam baju pemerintah yang masih saya kenakan sore tadi atau memang tidak ada tempat curhat. Orang yang saya panggil ibu dan dia memanggil dirinya Teteh ini, tiba-tiba curhat tentang kehidupannya. Tentang kesusahan-kesusahannya. Duh! Maaf bu, bukannya saya tidak bersimpati. Andai saya jadi pemegang kebijakan, pasti ibu dapet deh BLT atau Jamkesmas atau apapun program pemerintah. Tapi saat ini saya sedang bertugas untuk menyensus, bukan untuk mendengarkan curhat hehehe.

Hmmm, rupanya baju pemerintah yang saya pakai hanya berefek pada curhatannya, tapi tidak pada panggilan dia untuk saya. Dia memanggil saya Ujang dari awal dialog hingga saya berpamitan  hahaha….

Itulah serba-serbi sensus yang menjadi hiburan ringan kami untuk tetap bisa tertawa ngakak, saling berbagi cerita dengan sesama petugas supaya tidak jenuh melaksanakan kerja yang dikejar target ini. mulai dari orang stress yang tidak mengakui anaknya sendiri, bau jengkol goreng, menjadi tempat curhat, hingga disangka teroris hahaha.  (HS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s