dari balik sensus: ketika F, P, dan V dilafalkan sama

Ini adalah cerita lain seputar sensus penduduk yang saya laksanakan pada hari ahad 9 mei 2010 ini. seperti biasa kami berempat (saya, Deinda, Ineu, dan juga Pak RT) melaksanakan sensus di salah satu RT di wilayah blok garapan kami.

Meskipun tugas saya sebagai koordinator tim adalah menyeleksi dan memeriksa pekerjaan teman-teman pencacah namun karena saya mengejar target untuk bisa diselesaikan cepat waktu sebelum 30 mei 2010, maka saya ikut turun menyensus ke rumah warga.

Kali ini cerita datang kembali dari Deinda. Deinda mendatangi salah satu rumah warga yang merupakan warga pendatang di daerah luar Jawa. Namanya Pak Valla Pasaribu. Mungkin karena Pak Valla ini mengerti bahwa orang sunda tidak bisa membedakan pelafalan huruf P, F, dan V, maka dia pun memberikan sedikit penjelasan kepada Deinda ketika menanyai namanya.

+ Nama Bapak Siapa?

= Victory

+ ohhh… (sambil menuliskan “Victory” di lembar sensus)

= Kok Victory?  saya Valla ditulisnya victory (Dia menuliskan namanya “Valla” di selembar kertas).

Deinda bingung. Kok Valla harus ditulis Victory. Akhirnya dia pun kembali bertanya:

“Jadi nama Bapak siapa?”

“Iya, Valla tapi ditulis victory

Waduh jadi runyam gini. Deinda masih berkerut kening. Hingga akhirnya sang istri berteriak dari dalam.

“Namanya Valla, ditulis pake V.”

Hahaha… rupanya ada sedikit misskomunikasi antara Deinda dan Pak Valla. Mungkin Pak Valla mengerti bahwa pelafalan F, P, dan V bagi orang sunda adalah sama saja. Dibaca PE. Dan sebagai antisipasi bahwa namanya Valla dengan ejaan V-A-L-L-A, dia pun memberikan kode bahwa hurup depan namanya itu V yang jika dikodekan menjadi Victory. Dan sayangnya Pak Valla ini tidak menyebutkan namanya terlebih dahulu bahwa namanya Valla, tapi langsung menyebutkan victori sebagai kode hurup depannya. Jadi ditulis di lembar sensus adalah Victori hehehe.

~hs~

Satu lagi. Ketika Ineu dan Deinda selesai mencacah dari masing-masing rumah warga, mereka mendengar suara tangisan seorang tua dari salah satu rumah. Karena takut berhalusinasi, maka didengarkanlah terlebih dahulu suara tangisan itu. ternyata benar, suara tangis seorang emak-emak dari salah satu rumah.

Karena penasaran kedua petugas pencacah ini pun mendatangi rumah dimana emak-emak tersebut menangis.

Si emak tersebut menangis tapi tetep nyerocos bla bla bla… tangisannya terdengar sedih.

Ineu dan Deinda serempak bertanya: “Mak, Kenapa?”

“Sakit Gigi….”

Babakantasik-09102010 (HS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s