serba-serbi sensus: tradisi merantau urang minang

Sudah hampir tiga minggu kegiatan sensus berjalan. Pengalaman-pengalaman menarik saya temukan di lapangan. Beberapa diantaranya malah saya share di blog ini. Banyak hal yang saya peroleh selain cerita-cerita lucu saja. Entah berupa pengalaman maupun cara untuk berhadapan dengan puluhan karakter manusia yang berbeda-beda.

Seperti halnya yang saya tulis disini, bahwa saya belajar betapa harga diri itu lebih penting ketimbang sekedar materi. Pelajaran ini saya peroleh justru dari seorang emak-emak yang tidak pernah diperhitungkan sama sekali oleh tetangga-tetangganya yang berbeda generasi dengannya. Atau cerita tentang orang yang agak sedikit mempersulit kami ketika melaksanakan listing. Disini saya belajar, ternyata saya harus memiliki kesabaran ekstra jika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki aneka ragam karakter.

Satu hal yang menjadi perenungan saya, bahwa ternyata ada banyak orang yang tidak lebih beruntung daripada saya. Itulah yang menjadi pengingat untuk saya bahwa saya sudah semestinya banyak bersyukur atas apa yang saya capai selama ini. Perenungan ini muncul manakala saya menyensus dari satu keluarga ke keluarga lain yang tinggal di rumah kontrakan dengan anggota keluarga yang tidak sedikit pula. Kondisi kontrakan yang sungguh memprihatinkan, serta pekerjaan sang kepala keluarga yang tidak jelas, membuat saya bersyukur bahwa betapa beruntungnya saya selama ini.

Adalah satu keluarga pendatang dari Sumatera Barat yang saya sensus beberapa hari lalu. Agaknya saya harus menaruh hormat dan rasa salut saya untuk mereka. Ditengah-tengah ketidak pastikan kondisi ekonomi, sang kepala keluarga yang bernama Asrizal dengan berani merantau ke kota yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Mereka mengontrak satu rumah petak yang berukuran mungkin hanya 20 meter persegi yang terdiri atas satu ruangan yang dipakai untuk usaha sekaligus tempat keluarganya berkumpul, sedikit dapur, serta kamar mandi. Mereka tinggal berempat disana. Terdiri dari Asrizal, istrinya, dan dua anaknya yang masih berusia batita.

Kenapa saya harus menaruh rasa salut kepada Asrizal? Ya, sebagai keturunan suku Minang, Asrizal tidak pernah gentar menghadapi kerasnya hidup di kota yang sama sekali tidak dia ketahui. Baru delapan bulan dia ada di sini. Dia membuka usaha menjahit pakaian di rumah petaknya. Padahal setahu saya, usaha jahit menjahit yang dilaksanakan sang kepala keluarga tentu saja tidak akan semudah membuka usaha warung atau usaha lainnya. Dan tentu saja tidak akan mudah untuk dia mencari pelanggan yang mempercayakan pembuatan pakaian kepadanya. Namun kenyataannya Asrizal berhasil bertahan disini sudah delapan bulan ini. ketika saya menyensus listing, tampak Asrizal sedang mengerjakan orderan.

Keberanian suku minang merantau sudah diketahui dimana-mana. Saya sedikit berbincang dengan Asrizal tentang keberaniannya membawa anak istrinya dari Sumatera ke tanah Jawa. Sebelum di Cianjur, Asrizal yang Cuma lulusan SMP ini sempat tinggal di Tangerang hingga anak keduanya lahir. Kemudian saya juga sempat berkelakar tentang tradisi merantau orang Minang kepadanya bahwa orang Minang terbilang berani tidak seperti orang Sunda. Dan diapun menjawab “Orang Sunda juga pada berani merantau, tapi seminggu kemudian balik lagi… hahaha.” Saya pun tak kuasa menahan gelak tawa untuk tidak keluar.

Karena tertarik mengetahui watak suku Minang, saya pun mencarinya di Wikipedia. Tidak heran ternyata memang kebanyakan orang Minang memang berada di perantauan. Etos merantau dari orang Minang terbilang sangat tinggi di Indonesia. Berdasarkan hasil sensus sepuluh tahun yang lalu, ada sekitar 7 juta orang Minang yang merantau dan tersebar di seluruh Dunia. Ini artinya hampir separuh orang Minang meninggalkan tanah kelahirannya untuk merantau ke tempat-tempat lain.

Ternyata, masih menurut Wikipedia, ada beberapa faktor yang menjadi pencetus sebab orang Minang mempunyai tradisi merantau. Yang pertama adalah faktor budaya. Bahwa tradisi matrilineal yang kuat (menarik garis keturunan dari ibu) menggariskan bahwa hak pusaka harta dipegang oleh kaum perempuan. Sedangkan kaum laki-laki tidak banyak haknya. Hal inilah yang, katanya, mendorong kaum laki-laki muda Minang untuk merantau. Selain itu, pengaruh cerita orang perantau yang sukses juga turut mendorong tradisi merantau makin kuat. Tradisi lainnya adalah bahwa siapapun yang belum pernah merantau, akan diperolok oleh teman-temannya.

Rudolf Marzek, seorang sosiolog Belanda, memberikan gambaran tentang tipologi orang Minang yakni tentang dinamisme dan anti parokialisme melahirkan jiwa merdeka, egaliter, dan cosmopolitan. Hal inilah yang menjadi faktor utama pendorong masyarakat Minang untuk merantau. Faktor lainnya yang mendorong untuk merantau adalah faktor ekonomi. Seperti halnya perantau dari kota lain, faktor ekonomi ini juga menjadi motor penggerak para laki-laki minang untuk meninggalkan kampung halamannya.

Asrizal, Pria Minang itu, adalah salah satu dari sekian juta urang Minang yang merantau membawa serta istrinya untuk memperbaiki nasib dan kehidupannya. Asrizal tak gentar meskipun saat ini tinggal di kontrakan sempit berukuran tidak lebih dari 20 m bersama istri dan dua putrinya.

Sudah seharusnya saya belajar banyak dari Asrizal bahwa hidup ini bukan untuk mengeluh semata. Menjalani apa yang bisa dijalani dan melaksanakan yang terbaik semampu kita adalah lebih baik daripada sekedar diam dan menggerutu. Semoga dengan pembelajaran ini, keluhan saya sedikit berkurang. (HS)

Referensi dari: Wikipedia.org

Kakimanangel-19052010

One thought on “serba-serbi sensus: tradisi merantau urang minang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s