Catatan Dua Sembilan

Hari ini, dua puluh sembilan tahun yang lalu, seorang bayi hadir menyemarakkan dunia. Tidak ada yang istimewa dengannya. Hanya bayi mungil berkulit khas Indonesia dengan hidung yang sedikit mancung. Bayi yang kelak ternyata menjadi seorang yang tumbuh cerdas namun tidak pernah menyadari potensi yang dimilikinya. Bayi yang nantinya ternyata memiliki prestasi akademik yang tergolong baik. Bayi yang dipundaknya tertumpu harapan orang tuanya. Namun, belum genap satu tahun usianya, sang Bunda telah mengandung kembali janin calon adiknya. Maka bayi berumur sembilan bulan ini dititipkan di rumah ibunya sang Bunda.

Hampir lima tahun sang anak berada dalam pengasuhan ibunya sang Bunda. Jauh di sebuah kampung dengan jalanan yang tampaknya menjadi titik awal sang anak tersebut mengarungi kerasnya kehidupan yang bakal dia lakoni dalam perjalanan menuju masa-masa dimana orang menyebutnya dewasa. Hampir setiap minggu sang Nenek mengajaknya mengunjungi rumah orang tua untuk sekedar mempertemukan anak kecil berkulit khas Indonesia dan berhidung mancung tersebut dengan keluarganya, termasuk dengan enam saudaranya yang lain. Si kecil tersebut suka cita menonton tayangan film anak Si Unyil setiap dia berkunjung. Belum ada kedekatan yang terbangun antara si kecil dengan kedua orang tuanya. Karena mungkin usianya yang terlalu muda untuk mengingat itu semua. Kadang ketika sang Nenek tidak memiliki uang untuk menaiki ojeg menuju rumah orang tua si anak, beliau mengajak anak tersebut berjalan kaki demi memenuhi keinginan si anak menonton film si Unyil.

Hampir lima tahun sang anak berada dalam pengasuhan sang Nenek. Bahkan ketika ibu yang melahirkannya wafat, antara ingat dan tidak, sang anak berada diantara kerumunan duka cita. Entahlah, mungkin sang Anak tidak pernah mengenali bagaimana rupa sang Bunda kecuali dari foto yang terpampang dan ia lihat semenjak masuk bangku sekolah. Ya, tepat di usia menjelang pra sekolah dasar, anak tersebut kembali ke keluarga orang tuanya. Sungguh sebuah keadaan yang berat karena di usianya yang belum genap enam tahun, anak tersebut harus menyesuaikan diri dengan kehidupan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Bertemu dan tinggal satu rumah dengan orang-orang yang terasa asing meskipun sebenarnya itu adalah keluarganya sendiri.

Masuk usia SD, anak ini mulai bersekolah. Kedekatan mulai terjalin dengan saudara-saudaranya. Anak ini mulai menyadari siapa orang tuanya. Berbeda dengan masa balitanya, ketika itu sang anak menganggap nenek-kakeknya adalah orang tua sesungguhnya.

Masa sekolah dasar berhasil dia lalui. Prestasi mencengangkan anak tersebut adalah selalu menjadi juara kelas selama enam tahun berturut-turut tanpa ada yang menggeser. Namun anak ini menganggap itu bukanlah prestasinya. Dia minderan. Sungguh, dia bukanlah tipikal orang yang percaya diri. Entah karena apa. Mungkin karena kehidupan yang dia jalani ditengah-tengah keluarga yang cukup membuatnya merasa tidak percaya diri bahwa inilahkeluarganya yang sesungguhnya. Tidak pernah ada kalimat puji yang langsung terdengar membanggakan dirinya dari orang tuanya. Padahal kelak dia tahu bahwa apabila seorang anak dibesarkan dengan puji dia akan percaya diri, sementara anak yang dibesarkan dengan caci maki, maka anak tersebut terbentuk menjadi pribadi yang rendah diri. Yang kedua itulah yang kemudian tumbuh seiring perubahan usia sang anak.

Masa SMP dan masa SMA pun dia lalui dengan prestasi sekolah. Mungkin inilah pelarian sang anak menghadapi kekecewaan di lingkungan dimana dia dibesarkan. Ketidak percayaan diri akan kemampuannya tetap terpelihara. Lagi-lagi entah karena apa dia menjadi demikian. Satu hal yang selalu dia ingat adalah cacian dari orang yang dihormatinya yang membuat dia demikian. Tidak percaya diri dengan apa yang dia lakukan adalah imbasnya.

Memasuki masa kuliah. Seolah kuda lepas dari ikatannya. Sang anak muda itu mulai mengenal kehidupan yang ternyata membelalakan matanya. He is not alone. Dia ternyata lebih beruntung dibandingkan orang-orang lainnya. Dia menjejak kuliah di salah satu ibukota provinsi. Di masa awal perkuliahan, sang nenek pergi untuk selamanya. Dia merasakan hal aneh ketika duduk pada sebuah perkuliahan. Badannya tiba-tiba panas, lemas. Entah karena apa. Tak lama, berita pun terkabar sang nenek telah tiada. Yang dia sesalkan, dia tidak pernah menjadi dekat kembali dengan sang nenek yang sungguh sangat menyayangi dirinya sebelum neneknya benar-benar menghilang dari dunia.

Di saat-saat seperti inilah kemandirian terus dipupuknya. Beberapa kali dia mencoba melamar pekerjaan, dan hampir diterima. Maksud hati ingin mandiri, berkuliah sambil bekerja. Namun keluarga sangat menentang.

โ€œkamu ke sana bukan untuk bekerja, tapi untuk kuliah. Kuliah saja yang benar. Orang tua masih mampu menyekolahkan kamu. tugas kamu adalah belajar.โ€

Bagai mendapat hantaman. Akhirnya sang anak muda penuh impian itupun mengubur impiannya untuk mandiri. Dia tidak pernah berani melawan. Lebih tepat tidak mempunyai keberanian mendobrak hidupnya. Dia tidak mau dikutuk jadi anak durhaka. Apalagi chemistry yang dibangun dengan orang tuanya tidak juga berujung pada sebuah kedekatan seperti halnya anak muda lain. Dia merasa ada sekat antara. Itulah alasan dia untuk tidak ingin menjadi manusia durhaka karena bagaimanapun keduanya adalah orang yang sangat dihormatinya.

Anak muda itupun berhasil merampungkan studinya satu semester lebih cepat dari standar perkuliahan di jurusannya. Dengan IPK yang tidak terbilang buruk-buruk amat.

Pun ketika masuk dunia kerja. Dua keinginan yang berbeda terus bergema. Disatu pihak sang anak tidak ingin mengecewakan keinginan orang tuanya. Tapi disisi lain, pria muda yang masih memegang idealism hasil cecapnya di bangku kuliah ingin membuktikan diri bahwa inilah saatnya dia menjadi dirinya. Berlembar-lembar lamaran ke perusahaan swasta selalu berujung dengan kegagalan pada saat proses wawancara akhir. Entah ada apa. Mungkin restu orang tuanya memang tidak berkenan. Sepak terjang pria muda itu akhirnya berujung di sebuah dunia birokrasi yang sungguh tidak dia ingini pada awalnya. Namun toh dia tetap jalani dan mulai disyukuri. Lagi-lagi karena ketidak percayaan diri lah yang membuat dia pasrah mengikuti alur hidupnya. Tidak ada pemberontakan sama sekali.

-29292929292929sudahduasembilan29292929292929-

Kini anak tersebut sudah memasuki usia ke dua puluh sembilan. Tidak ada perayaan apapun atau ucapan yang ingin dia dengar, kecuali ucapan doa supaya dia semakin dewasa di usia yang seharusnya dia dewasa dan mulai berpikir matang. Doa supaya dia semakin stabil dengan emosinya. Itulah harapannya.

Baginya ulang tahun adalah hal yang tidak seharusnya disambut tawa sukacita yang merayakannya. Dia hanya ingin berefleksi bahwa di usia dua puluh sembilan ini, sudah seharusnya dia menjadi dewasa. Karena selama dua puluh delapan tahun hidupnya, dia merasa bahwa kekanakan selalu dekat dengannya. Semoga kedewasaan dan emosi stabil menjadi bagian hidupnya di usia yang ke dua puluh sembilan ini. itulah doa yang dia panjatkan hari ini.

Semoga Refleksi bagaimana untuk menjadi dewasa bisa dia baca dari tulisan saya ini. Tulisan yang mudah-mudahan menjadi pengingat bahwa dia memiliki satu tekad untuk membentuk pribadi yang dewasa, stabil, dan mandiri. Bahwa perjalanan hidupnya dilalui dengan tidak mudah. Kepercayaan diri yang baru muncul dalam dirinya hari ini merupakan proses panjang yang tidak sebentar.

Selamat berefleksi untuk dia yang hari mengulang hari kelahirannya yang ke dua puluh sembilan.(HS)

2 thoughts on “Catatan Dua Sembilan

  1. ๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

    ke 29 senyum itu untuk kado ultahmu Mang Ading

    Semoga makin bijaksana dan berfikir/bertindak dewasa dalam menghadapi setiap ujian hidup

    Satu lagi, semoga segera mendapatkan jodoh, untuk mendampingimu mengarungi samudra kehidupan.

    Happy B’day…
    Mang Ading

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s