Apresiasi untuk Padang Bulan

Siapa yang tidak mengenal Laskar Pelangi? Sebuah novel tetralogi yang berisi tentang perjuangan anak suku melayu dari kepulauan Belitung (Belitong) untuk mengejar mimpi  meraih cita-cita yang bertumpu pada satu kata: Pendidikan. Novel yang mengisahkan Ikal dan sepuluh orang sahabatnya itu terbilang sukses dan laku keras di pasaran. Bahkan untuk visualisasinya sekalipun.

Laskar pelangi yang fenomenal, dilanjut dengan lahirnya Sang Pemimpi, Edensor, dan juga Maryamah Karpov. Lengkaplah tetralogi tersebut menjadi satu kesatuan utuh tentang penceritaan sebuah kisah pencarian seseorang yang amat dikasihi oleh tokoh utama dalam novel tersebut, Ikal, yaitu A Ling.

sampul novel dwilogi padang bulan - diunduh dari http://www.bukukita.com

Kini, Andrea Hirata, sosok di balik sastra fenomenal tersebut kembali menerbitkan sebuah dwilogi yang (mungkin) masih lanjutan dari tetralogi pencarian A Ling. Sebuah buku yang berisi dua judul sekaligus, Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas. Disini saya bukan ingin meresensi atau memberikan kritik atas karya Dwilogi tersebut. Sungguh. Ini adalah sebuah apresiasi dari seorang pembaca novel-novel yang dibuat Andrea.

-hs-

Saya sedikit bercerita bagaimana ekspektasi saya terhadap buku Padang Bulan ini. Ketika saya mendengar Andrea menerbitkan kembali sebuah dwilogi, saya membayangkan akan mendapatkan sesuatu yang menarik sebagaimana Laskar Pelangi. Saya pun akhirnya mencari (lebih tepat mengejar) buku tersebut ke kota Bandung, dan merogoh kocek sebesar Rp. 76500,- (tanpa diskon). Saya pikir tak apalah untuk sebuah karya Andrea Hirata yang saya duga memang menarik. Saya pun mulai membacanya.

Lembar demi lembar saya baca. Saya malah merasakan sebuah ketidak semangatan dalam membaca Padang Bulan. Tidak seperti ketika membaca karya Andrea yang sebelum-sebelumnya. Berasa membosankan. Sebagai kontradiksi, saya membaca Laskar Pelangi tidak lebih dari tiga hari. Bahkan Edensor saya baca hanya dalam hitungan jam saja. Tapi untuk Padang Bulan ini, saya mulai mengalami kejenuhan manakala  sudah membaca sepertiga bagian buku tersebut. Saya banyak menemukan keganjilan penokohan jika saya tautkan dengan ceritera Laskar Pelangi yang merupakan cerita masa kecil tokoh yang sama, Ikal.

Sebut saja tokoh detektif kontet M.Nur yang dikisahkan sebagai kawan karib Ikal sejak kecil. Padahal di episode Laskar Pelangi, nama M.Nur tidak pernah disebut-sebut sekalipun. Semakin saya membaca, semakin terasa janggal. Coba saja baca paragraf yang dituliskan Andrea tentang persahabatan M.Nur dan Ikal pada satu bagian buku dwilogi Padang Bulan:

“Bagaimana mungkin semua itu? kami telah lengket, bahkan sebelum kami disunat. Kami telah menjadi sahabat bahkan sebelum kami lahir.”

Sekali lagi, pada buku Laskar Pelangi (jika memang tokoh Ikal nya adalah Ikal yang sama) tidak sedikitpun ada cerita tentang  Ichsanul Maimun bin Nurdin Mustamin alias detektif M.Nur.

Ini sungguh subjektif hanya menurut saya semata. Jalinan cerita Padang Bulan, Bagi saya terasa mengada-ada. Bagaimana mungkin seorang lulusan Sorbonne University rela mempertaruhkan harga dirinya sebagai penyandang gelar master dari universitas luar negeri dengan hidup tak jelas tanpa pekerjaan. Tokoh tersebut rela menjadi penganggur tak jelas hanya karena mengejar cinta. Terlalu berlebihan menurut saya.

Baiklah, mungkin itu ironi untuk menyindir tentang para kaum intelek yang berjumlah sangat banyak di negeri ini dan tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan alias menjadi pengangguran. Saya bisa terima itu. Namun, jika saya tilik pada cerita sebelumnya tentang bagaimana Ikal bermimpi mengejar cita-cita yang berakar pada satu kata, yakni Pendidikan, agaknya penceritaan bagaimana Ikal yang lulusan master dari Perancis yang hanya menjadi pelayan warung kopi (karena cintanya kepada A Ling) adalah sebuah keganjilan yang tidak masuk akal. Saya seperti sedang menonton sebuah sinetron dengan cerita yang aneh.

Begitu pula ketika saya membaca bagian awal buku kedua dwilogi tersebut, Cinta di Dalam Gelas. Tanpa tedeng aling-aling dari cerita sebelumnya, tiba-tiba Enong berubah nama menjadi Maryamah. Padahal pada Bagian pertama tidak sedikitpun ditulis bahwa Enong itu bernama asli Maryamah. Hanya sedikit disinggung tentang suami Enong yaitu Mutarom yang menjadi penghubung bahwa Maryamah adalah Enong.

Lepas dari itu semua, saya mengakui bahwa penuturan Andrea tetap khas. Sebagai penulis dia mampu menggambarkan sisi-sisi dramatik dari sebuah perasaan cinta (meskipun menurut saya terlampau dibuat-buat dan berkesan lebay). Andrea berhasil menuturkan ironi bahwa cinta yang besar kadangkala mampu menghapus segala sisi logika orang yang mengalaminya, termasuk dalam hal ini Ikal. Dan memang kekuatan Andrea terletak pada gaya hiperbolanya, itu menurut kawan saya. dan kawan saya berdasarkan penuturan penerbitnya.

Selain itu, Andrea mampu memberikan perumpamaan-perumpaan yang bahkan orang lain tidak pernah memikirkannya. Puisi yang indah tersemat pula dalam dwilogi ini. Bahkan mungkin inspirasi untuk tidak menyerah pada keadaan tetap terbungkus rapi dalam perjalanan pertemuan cinta Ikal dan A Ling.

Akhirnya, meskipun ini diluar harapan saya dan sedikit mengecewakan untuk kocek tujuh puluh enam ribu lima ratus tanpa diskon, saya harus memuji Andrea jika novel ini menjadi sukses di pasaran nantinya.

Untuk yang penasaran dengan Padang Bulan, saya ucapkan selamat membaca. Hilangkanlah terlebih dahulu di otak anda tentang kalimat ini:

Gantungkanlah harapanmu setinggi langit

Oiya, mungkin saya yang lupa bahwa novel ini hanyalah fiksi belaka, jadi suka-suka saja mau dibuat bagaimana, yang penting ceritanya hidup hehehe. (HS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s