Derita dalam Berita

Dunia makin tua… sendi-sendinya makin rapuh. Moral dan etika tak lagi menjadi pijakan. Kapitalisme menjadi sesuatu yang nampak normal. Hukum rimba menjadi satu keharusan.

-hs-

Hhh… saya hanya menarik nafas panjang manakala salah satu pesohor ibukota itu tampak menikmati adegan cipokan bibir dengan mantan kekasih gelapnya yang kini sudah terang benderang.

Grrr… saya juga merasa geram manakala iring-iringan tuan presiden beserta reng-rengannya yang katanya mendengarkan aspirasi kaum jelata. Katanya dipangkas tapi kok justru bertambah panjang. Karena meskipun tuan mentri berada dalam satu minibus bersama-sama, tapi mobil dinas mereka tetap ngintil di belakang. Antrian pun berjumlah dua delapan.

Fiuhhh… saya membasuh peluh manakala menyaksikan harga-harga yang meroket bak satelit yang sukses diluncurkan menuju orbitnya. Namun sayang, satelit yang meroket ini malah tak terkendali. Cabe bawang dan hasil kebun lainnya tiba-tiba menjadi primadona pasar. Harganya melebihi harga daging. Padahal Ramadhan semakin dekat. Sepertinya setiap tahun, di negeri ini tidak pernah ada berita penurunan harga. Kecuali penurunan harga diri hingga berani cipokan di depan kamera untuk tampil di layar kaca.

Huaaaa… saya miris manakala menyaksikan adik-adik SMP terbuka yang belajar beralaskan karpet dan kelas yang benar-benar terbuka, mendapatkan POTONGAN DANA BOS yang seharusnya utuh. Saya juga miris manakala melihat pemberitaan mengenai dua anak TK yang menjadi korban runtuhnya tembok tetangga sebelah yang menimpa bangunan TK yang beratap asbes tersebut. Saya makin miris manakala berita menyajikan sekolah yang hampir roboh, padahal menurut sumber berita setidaknya 3 EM diterima dinas setempat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.

Arrrghhh… saya menjadi takut manakala teror bom tidak lagi diancamkan oleh para teroris melainkan sudah masuk ke rumah penduduk. Konversi gas elpiji yang tadinya akan menjadi penyelamat muka pemerintah karena tak mampu lagi memberi subsidi untuk minyak tanah, malah menjadi boomerang yang memakan warga masyarakatnya sendiri. Selama 21 hari bulan Juli, sudah ada 38 ledakan gas yang mengakibatkan kerusakan yang tidak hanya bangunan tapi juga fisik. Kemarin mereka, tapi siapa tahu suatu saat kita? Jangan sampai ya Allah…

Fiuhh.. macet Jakarta makin menggila. Untung saya bukan orang Jakarta. Tapi saya kasihan juga dengan teman-teman di Jakarta. Mereka harus mengeluarkan dana ekstra. Kebijakan kawasan three in one yang katanya akan dikenakan biaya dua puluh ribu rupiah untuk si roda empat, dan tujuh ribu lima ratus untuk si roda dua. Padahal seingat saya ketika melewati jalan sudirman Jakarta untuk melihat gedung menjulang, di sana adalah kawasan perkantoran elit yang karyawannya belum tentu se-elit kantornya. Katanya ini kebijakan supaya pemilik roda empat sendiri beralih ke roda empat bersama.

Wow, saya berseru manakala membaca sebuah artikel berita yang menyajikan materi tentang seorang pemuka agama yang selingkuh dengan seorang janda muda di probolinggo sana. Pemuka agama yang harusnya memberi panutan baik itu mungkin lupa dengan predikat yang disandangnya ketika melihat sang janda muda. Gelap mata, tertangkap warga, akhirnya jadi bulan-bulanan massa.

-hs-

Itu hanya sedikit catatan  yang saya rangkum setelah menyaksikan berita di salah satu stasiun TV swasta tertua, dan berita-berita dari internet dunia maya. Rasanya, hampir semua berita mengenai kedukaan bangsa. Kecuali berita cipokan yang sungguh tragis adalah berita suka cita bagi si pelakon. Selebihnya, bikin mual yang nonton. Sudah tidak ada lagi kah berita di TV yang memberikan kabar gembira untuk kami para rakyat jelata? Apakah ini trend semata atau memang benar-benar nyata?

Kawan, beri kami sedikit berita yang bisa membuat kami para jelata bungah, sumringah. Beban kami sudah terlampau berats… sungguh berats menghimpit dada sehingga nafas pun rasanya sudah sesak meskipun udara sejuk dan segar tak berbatas untuk kami hirup. Beri kami sedikit contoh panutan yang layak kami tonton dan siapa tau bisa  tuntun generasi-generasi di bawah kami. Beri kami sedikit oksigen segar meski harga meroket, listrik melejit. Beri kami berita gembira sehingga kami dapat kembali bernafas lega. Atau sudah tidak becus kah para pengambil keputusan sehingga kami, rakyat  jelata, selalu menjadi korban?

Ah, saya mending bersenandung saja: Semua berjalan dalam kehendak-Nya, nafas hidup cinta dan segalanya. Dan tetakdir menjalani segala kehendak-Mu ya Rabbi, ku berserah ku berpasrah hanya pada-Mu ya Rabbi. (HS)

Kakimanangel,22072010

Lirik senandung: Opick feat Melly-Takdir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s