Bahasa Menunjukan Bangsa: Alay Vs Indoglish

Pusing. Itu yang pertama kali saya alami ketika membaca gaya bahasa anak-anak muda jaman sekarang. Dengan seenak udel mereka menulis kalimat dengan menggunakan gabungan huruf dan juga angka. Ditambah karakter-karakter serta simbol-simbol. Kata per kata pun mereka hemat (baca: singkat) dengan kata yang entah apa artinya. Ya, itulah bahasa anak muda yang mungkin sering disebut dengan bahasa ALAY.

Pernahkah anda bertemu dengan kalimat berbahasa 4L4Y tersebut? Apa yang anda rasakan manakala membacanya? Sama pusingkah seperti saya? Jika ya, berarti memang saya tidak salah bahwa ada semacam trend dan pergeseran penggunaan bahasa ke arah bahasa yang tidak sesuai dengan karakter bahasa Indonesia.  Entah, apakah ini merupakan pergeseran budaya ataukah hanya trend semata. Namun, jika ditilik dari tata bahasa yang amburadul, bahasa alay ini sangatlah mengganggu tata bahasa Indonesia.

Mau contoh bahasa 4L4y? cari saja facebook anak-anak ABG jaman sekarang, hampir semua berbahasa demikian. Pabalatak, kalau kata orang sunda mah.

Ada lagi bahasa yang lain. Biasanya  diistilahkan dengan bahasa Indoglish. Artinya gabungan antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahasa inggris setengah hati menurut saya, hehe. Berbeda dengan bahasa Alay, bahasa Indoglish ini masih masuk akal menurut saya. Cuma kadang-kadang terasa aneh saja di telinga. Biasanya, bahasa-bahasa tulis juga sering mendominasi menggunakan bahasa campuran ini. Saya sendiri kerap menggunakan bahasa ini, kadang ikut trend dan biar terdengar sound English nih si Hadi hahaha. Saya sih masih mentolerir karena memang saya terlibat di dalamnya, hehe. Maaf!

Menyikapi kedua bahasa ini, agaknya kita selaku  anak bangsa harus mulai kembali mensosialisasikan penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan tempatnya, karena itu adalah ciri khas bangsa kita. Seperti  apa yang dituliskan mas Bambang Pribadi di artikelnya Bahasa Menunjukan Bangsa #1, bahwa ada yang salah dengan bangsa kita dan salah satu penyebab mayornya adalah bahasa. Hal senada juga ditulis oleh Mariska Lubis dalam artikelnya berjudul Bahasa Menunjukkan Bangsa. Menurut mariska kondisi dimana bangsa kita merasa bahwa berbahasa asing lebih keren, merupakan kondisi sosial yang yang sangat tidak sehat. Masih menurut Mariska, Bila masyarakat di dalam sebuah negara tidak lagi memiliki patokan atu pegangan yang menjadi tolak ukur atas sebuah perbuatan, berarti ada yang tidak beres di negara tersebut.

Saya sependapat dengan artikel-artikel tersebut bahwa bahasa memang menunjukkan bangsa. Artinya bangsa kita akan dilihat seperti apa berdasarkan etalase pertamanya. Dan etalase tersebut adalah bahasa. Ini disebabkan bahwa bahasa memang sebagai alat komunikasi utama di era peradaban masa kini. Namun amat patut disayangkan apabila ternyata penggunaan bahasa Indonesia pada forum-forum resmi masih dicampur adukkan dengan bahasa asing. Ini mencerminkan bahwa ada unsur tidak percaya diri dari bangsa kita ketika berbahasa Indonesia.

Memang benar jika anda berpendapat tidak ada bahasa yang seratus persen murni. Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa melayu, kemudian berakulturasi dengan bahasa-bahasa lain di tanah air. Termasuk dengan bahasa Belanda, Portugis, bahkan juga bahasa Inggris. Namun, alangkah lebih baik apabila kita bangga berbahasa Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan tempatnya. Dan alangkah lebih baik jika kita menggunakan bahasa Indonesia supaya bahasa kita tidak punah begitu saja. Kata orang sunda ngamumule bahasa Indonesia, supaya tidak hilang dari peradaban negeri ini.

Kembali ke bahasa alay dan indoglish. Cukup rasanya bahasa tersebut menjadi bahasa yang hanya trend semata. Untuk itu, kita selaku manusia yang diberikan anugerah kecerdasan berpikir sudah selayaknya untuk mengingatkan sesama teman kita supaya mulai meninggalkan bahasa alay yang bikin pusing tujuh keliling itu.

Adapun tentang bahasa indoglish, cukuplah digunakan pada forum-forum non formal saja.  Jangan sampai bahasa ini menjadi bahasa pengantar utama ketika kita berada dalam forum resmi. Karena benar bahasa menunjukkan bangsa. Jika saja bahasanya sudah amburadul, maka bukan tidak mungkin kelak akan selalu menjadi bangsa yang amburadul.

Sekali lagi bahasa menunjukkan bangsa. Saya mulai bertanya-tanya jika saja anak muda jaman sekarang sudah merasa keren dengan bahasa alay, apa jadinya bangsa kita di kemudian hari? Bukan tidak mungkin, bahasa Indonesia akan dicaplok oleh bangsa lain yang belum punya bahasa nasional. Jangan sampai deh!!! (HS)

Kakimanangel, 18juli2010 (pernah di muat juga di kompasiana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s