Ngapain Debat SARA?

bukankah berwarna itu terlihat lebih indah?

Akhir-akhir ini negeri kita sedang disibukkan dengan isu-isu agama. Perbedaan agama menjadi kata sentral dalam sudut pandang setiap orang yang mengikuti kasus demi kasus yang terjadi baru-baru ini. Beberapa media berbasis internet yang memberitakan kasus agama itu menjadi wadah untuk debat kusir para komentatornya. Ada yang berdebat secara cerdas, tapi tak sedikit yang berdebat tanpa dasar. Semua itu hanya untuk menunjukkan AGAMA SAYALAH YANG PALING BENAR! Mutlak, pasti seperti itu.

Melihat agama dari sudut pandang pribadi, pasti akan menunjukkan unsur subjektif. Sangat subjektif bahkan. Semua merasa benar, karena memiliki dasar bahwa setiap agama mengajarkan kebenaran. Masalahnya adalah kebenaran yang diusung setiap agama itu tidak menjadi faktor yang mencairkan disharmoni yang mulai sering terjadi. Kenapa demikian? Karena bukan saling menghargai yang dikedepankan, melainkan ego diri bahwa agama akulah yang paling sesuai dan benar menurut ajaran Tuhan.

Agama yang saya anut adalah agama yang cinta damai, agama kawan saya juga mengajarkan cinta kasih, agama lainnya pun saya yakin tidak ada yang mengajarkan pertengkaran dan perpecahan. Jadi mengapa kita masih harus melulu berdebat tak sehat hanya untuk menunjukkan eksistensi agama masing-masing? Saling menghina dengan merusak simbol-simbol agama, hanya karena kekesalan dan pelampiasan dari bentuk kekecewaan. Mengapa pula harus terpancing oleh berita yang belum tentu jelas kebenarannya karena hanya membeberkan fakta dari satu pihak saja, sedangkan pihak yang “tertuduh” tidak dimintai keterangan.

Dalam agama saya diajarkan bahwa lakum dinukum waliyadin, untukku agamaku dan untukmu agamamu. Tidak boleh kita mencampur adukkan akidah dan mempengaruhi keyakinan orang lain. Sungguh tidak dibenarkan, karena urusan hidayah adalah murni urusan Tuhan. Sekuat apapun mempengaruhi, jika tak ada petunjuk Tuhan, tak akan mempan. Pun demikian dengan agama lain, mungkinkah ada ajaran agama yang mengajak umat lain yang sudah beragama, untuk masuk dan memiliki akidah serta keyakinan agama tersebut? Sekali lagi, akan percuma jika memang ada yang seperti itu, karena urusan petunjuk atau hidayah itu mutlak urusan Tuhan.

Lantas, kenapa kita malah asyik berdebat soal perbedaan agama? Bukankah perbedaan itu akan memberikan harmonisasi yang indah dalam kehidupan. Disharmoni hanya akan menimbulkan perpecahan. Bukankah banyak hal yang lebih penting dari sekedar urusan perbedaan agama untuk memajukan bangsa ini? Kenapa kita harus bermusuhan hanya karena berbeda keyakinan? Mau sampai kapan?

Saya merasa heran dengan para nettizen yang senang berdebat kusir pada isu SARA. Sampai kapan pun, ketika isu SARA merebak dan kita tidak legawa menghargai perbedaan pendapat, maka akan terus berakhir dengan pertikaian. Sudah banyak contoh kasus yang terjadi di negeri ini akibat tidak adanya lagi sikap tenggang rasa dalam menghadapi perbedaan keyakinan. Dan itu berujung pada kerusakan.

Padahal, selaku manusia yang diberikan otak dan juga hati nurani, alangkah lebih baik kita menggunakan kedua perangkat buatan Tuhan itu untuk bisa berpikir jernih dan menerima pluralitas di sekitar kita. Daripada ribut-ribut untuk urusan akidah, kenapa kita tidak mengedepankan bahwa memang perbedaan itu ada dan harus dihargai karena urusan beragama adalah urusan personal masing-masing manusia. Urusan vertikal antara seorang manusia dengan Tuhannya.

Yuk, mulai sekarang janganlah kita terlalu mengedepankan ego dalam menghadapi perbedaan. Sadari saja bahwa perbedaan itu adalah bagian dari kehidupan yang akan memberikan warna dan harmoni yang indah.

Buat apa bertikai jika kita bisa hidup damai? Kita ini manusia yang punya otak dan hati. Hargai perbedaan. Lakum dinukum waliyadiin, untukmu agamamu dan untukku agamaku. (HS)

Kakimanangel 19september2010

2 thoughts on “Ngapain Debat SARA?

  1. Iya betul ngapain debat sara. Ketimbang debat sara menjadi debat kusir yang masing-masing merasa paling benar sendiri, lebih baik saling tahu posisi masing-masing. Bukankah begitu, bung Hadisome?

    • heuuu bener banget bung dwiset. saya mau ikut jejak bung dwiset ah, sesekali muncul di kompasiana. sekarang udah mulai gak asik kompasianernya, saling serang mulu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s