Beda Jaman Beda Permainan

Saya masih ingat ketika saya zaman Sekolah Dasar dulu. Hampir setiap sore saya dan saudara-saudara saya menghabiskan waktu bermain di luar. Bersama teman-teman, kami anak-anak kampung selalu berkumpul sekitar habis ashar hingga menjelang maghrib. Tidak sekedar berkumpul, kami yang berusia hampir sebaya selalu terlibat dalam permainan-permainan tradisional kala itu. sungguh, sebuah moment yang indah untuk dikenang.

Permainan tradisional yang kami mainkan, sangat banyak. Anak laki-laki perempuan, tergabung dalam grup. Campuran setiap grupnya. Permainannya pun variatif. Media yang digunakannya pun sangat sederhana, mulai dari batu sampai karet gelang.

Ya, permainan-permainan sederhana itu pun bernama sederhana. Sebut saja, Bancul. Permainan ini hanya menggunakan media batu kali sebesar genggaman tangan, dan batu yang agak besar yang bisa di simpan pada posisi “berdiri”. Kami akan bergantian menembak batu berdiri tersebut dengan batu-batu kecil milik kami. Jika batu berdiri tersebut roboh, maka kami akan saling menembak batu-batu kecil milik teman-teman yang lain. peraturannya lebih mirip permainan kelereng.

Gatrik. Permainan tradisional jaman dulu yang menggunakan media bambu. Sebilah bambu agak panjang sekitar 40 cm dan sebilah bambu pendek sekitar 10 cm menjadi alat utama permainan ini. sebelumnya kami membagi dua grup. Grup pemain dan grup penjaga. Grup pemain akan berusaha menepak bambu pendek sejauh mungkin yang sudah dilempar ke arahnya oleh penjaga. Kemudian jika regu penjaga tidak dapat melempar balik untuk mengenai bambu panjang, maka anak-anak grup pemain akan memainkan bambu kecil tersebut dengan cara menyeretnya sejauh mungkin. Setiap seretan ditandai dengan satu tepakan. Hingga mati langkah. Grup yang kalah akan dikenai hukuman.

Atau ada lagi, sondah. Medianya hanya tanah (lantai)  yang digambari dengan pola berbentuk kotak tertentu. Kemudian digunakan potongan genteng untuk menandai kotak tersebut dengan cara melemparnya dari luar area kotak. Pemain ini bisa dilakukan perorangan atau berdua dalam satu tim. Siapa yang lebih cepat melempar potongan genteng ke kotak terjauh, maka dia adalah pemenangnya.

Congklak. Menggunakan sebuah papan berlekuk tujuh kanan kiri. Diisi batu sebanyak tujuh biji setiap lekukannya. Kemudian dimainkan dengan cara memindahkan batu kecil tersebut ke setiap kotak lakukan secara bergantian. Pemenangnya adalah anak yang mengumpulkan batu lebih banyak di lakukan besar. Dalam salah satu tulisan Ibn Ghifarie berjudul “Hari Anak dan Kaulinan Baheula” yang dimuat di kompasiana edisi hari senin, 26 juli 2010, permainan congklak ini mengandung filosofis yang teramat dalam. Dalam tulisannya Ghifarie memberikan keterangan : “Permainan congklak juga memiliki makna perjuangan yang dilakukan seorang manusia tiap harinya. Tujuh lubang menandakan jumlah hari dan satu gunung menandakan lumbung. Jadi, setiap hari seseorang mengumpulkan satu batu hingga penuh. Setelah penuh, batu atau benda tersebut dipindahkan ke lumbung untuk ditabung atau dibagikan kepada yang membutuhkan.”

Lompat tali. Ah rasanya saya tidak perlu bercerita tentang permainan ini. Hampir semua dari kita pernah memainkannya, iya kan?

salah satu permainan tradisional, congklak namanya - hadisome.2010

Sebenarnya ada banyak sekali permainan tradisional yang sering dimainkan oleh kita selaku anak-anak pada masa kecil kita. Sebut saja egrang, galah, kasti, sorodot gaplok, ucing sumput (hide and seek-in English), boy-boyan, dan beragam permainan lainnya. Namun cukuplah sedikit yang saya catat disini sebagai representasi dari permainan tradisional yang punah dimakan jaman tersebut.

Ah, kini jaman sudah berubah. Pemandangan yang sama, tidak pernah saya lihat lagi di era saya dewasa sekarang ini. Anak-anak seusia keponakan saya hampir semuanya jarang ada yang bermain bersama-sama setiap sore hingga menjelang maghrib. Jika pun mereka berkumpul, sudah pasti berkumpul pada satu tempat bernama rental PS. Mereka sibuk bermain permainan virtual hasil karya salah satu perusahaan elektronik Jepang tersebut. Kalaupun bosan di rental, mereka akan bermain bola atau layangan. Itu saja. Padahal ada banyak sekali macam permainan tradisional.Seperti yang saya ceritakan di atas.

Ternyata perubahan jaman sudah sangat pesat. Keponakan saya yang baru berumur lima tahun, lebih mengenal permainan game komputer sejenis feeding frenzy, ketimbang bancul atau gatrik. Dia lebih mengenal game flying dice di HP saya ketimbang permainan ular tangga manual. Bahkan untuk beberapa game komputer, dia sudah sangat mahir memainkannya.

Saya salah jika harus menuntut para keponakan saya untuk bermain permainan yang saya alami dulu. Nyata, beda jaman ternyata beda permainan. Hanya sebuah perkenalan saja bagi mereka bahwa dulu ada jenis-jenis permainan yang pernah kami, para orang tuanya, mainkan. Cukuplah dia mengenal saja, karena sekali lagi, beda jaman memang beda permainan.

Beruntung, katanya di Bandung sudah ada kelompok yang peduli dengan permainan-permainan tradisional ini. Semoga permainan-permainan tradisional itu tidak cepat punah meski sudah sangat sulit untuk dilestarikan.(HS)


kakimanangel, september2010.

4 thoughts on “Beda Jaman Beda Permainan

  1. Wah saya punya satu stok postingan dengan tema senada tulisan di atas, ternyata keduluan Bung Hadi Some. Kalau saya tulis, yakin 180 derajat isi dan gaya penulisannya beda. Memang masing-masing blogger punya ciri khas masing-masing ya?

    Blogmu ini aku tautkan ke blogku. Biar sama-sama terangkat kredibilitasnya di mata pengunjung dan mesin pencari. Setuju?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s