Menjadi beda itu bukan berarti buruk, tapi unik

Menjadi beda itu bukan berarti buruk, tapi unik

Itu adalah salah satu retweet dari seorang kawan saya yang juga seorang blogger. Dia meneruskan kicauan itu dari artis Lola Amaria saat menghadiri salah satu festival film yang digelar di Jakarta dan bertemakan spesifik tentang kehidupan gay lesbian bisexual transeksual dalam perhelatan Q-Film Festival. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu banyak tahu tentang Q Film festival itu. hanya tau dari tweet-tweetnya si teman saya tersebut.

Saya tidak ingin menyoroti tentang kegiatan kawan saya di Q Film festival, tapi lebih ingin meninjau tentang kalimat darinya yang menurut saya inspiratif untuk dibawa masuk ke dalam tema ‘merayakan keragaman’ dalam pestablogger writing contest.

Benar kata kawan saya, menjadi beda itu bukan berarti buruk. Tidak selamanya menjadi sesuatu yang berbeda itu adalah hal yang negatif. Saya contohkan saja kawan saya. Tak akan saya sebutkan siapa dan dimana karena buat saya itu adalah privacy kawan saya. Yang pasti ini nyata di dekat saya.

Selain kawan saya tersebut, saya punya banyak kawan lain dari beragam latar belakang. Dan beberapa diantara mereka terang-terangan menyebutkan dirinya bahwa dia adalah gay. Bahkan salah satu kawan saya ada yang sudah memproklamirkan diri di depan keluarganya bahwa dia gay. What a  dare decision!  Itu beberapa tahun yang lalu. Dan kini kondisinya sudah berubah, dia menikah dan punya anak.

Ada yang bilang bahwa gay itu adalah penyakit, tapi tidak sedikit yang menganggap bahwa itu adalah bagian gaya hidup. Bagian dari sosialita kaum urban kota besar.  Masih banyak polemik dan kontroversi seputar kehidupan mereka yang memilih untuk menjadi gay dan lesbian. Cibiran dan pandangan negatif akan serta merta melekat begitu saja dari masyarakat terhadap mereka. Apalagi hal tersebut sangat bertolak belakang dengan norma dan adat ketimuran bangsa kita.

Namun lepas dari itu semua, meskipun  mereka tampak ‘berbeda’, namun harus jujur saya akui bahwa mereka adalah orang-orang hebat pada bidangnya. Kenapa saya bilang demikian, karena kawan saya tidak satu. Tapi beberapa orang, yang baik secara langsung maupun tidak, telah saya ketahui bahwa mereka penyuka sesama. Mereka adalah orang-orang yang sukses pada bidangnya. Mulai dari dokter, praktisi akademis, bahkan pegawai negeri macam saya. Keseharian mereka tetap sama di mata saya, tak ada beda. Kecuali mungkin orientasi seksualnya semata.

Tidak ada masalah buat saya. Saya sangat menghargai mereka dan mereka pun menghargai saya. Meminjam istilah teman, Memanusiakan manusia. Itu prinsip yang saya pakai terhadap kawan-kawan saya yang mengaku gay atau lesbian.

Berbeda itu unik - courtesy of http://www.ausopen.com

Membaca salah satu blog peserta kontes menulis, saya justru jadi merasa kasihan dengan si penulisnya yang mengecap bahwa maho (sebutan sentimentil di dunia maya untuk gay) itu bercitra buruk. Kenapa saya kasihan? karena saya pikir dia tidak belum bisa membangun fondasi untuk menyikapi perbedaan. Mungkin saja hanya segelintir saja yang mengemuka, dan kebetulan yang segelintir itu bercitra negatif.  Saya katakan, mungkin itu hanya segelintir orang saja. Kenapa saya berani menyatakan demikian? Saya jawab bahwa kawan-kawan saya semuanya adalah orang yang baik. Tidak pernah bermasalah dengan hal-hal negatif seperti yang dia ceritakan dalam tulisannya, yakni menjebak kawannya sendiri untuk menjadi seperti mereka. Dalam kehidupan mereka, saya justru banyak belajar dari mereka. Karena dibalik ‘kekurangan’nya sebagai maho, justru LGBT ini selalu menyimpan kelebihan yang tak dipunyai orang lain. Beberapa kawan saya memiliki kelebihan di bidang akademis, tarik suara, bahkan sastra. So, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi mereka yang disebut maho tersebut. Ketika kita pandai menempatkan diri dan menghargai diri sendiri dengan cara menghargai pilihan mereka, maka mereka pun akan menghargai kita dan menempatkan diri kita sebagai kawan baik yang tidak boleh di-begini begitu-kan.

Kembali pada kata-kata kawan saya, menjadi berbeda itu tidak selamanya buruk. Kadang berbeda itu memang dapat menjadi keunikan tersendiri. Kenapa harus takut menjadi berbeda ketika berbeda itu dapat membawa kebahagiaan pada hidupnya. Ini hanya masalah pilihan dan mungkin garis kehidupan. Selama tidak ada hal-hal prinsipil yang mengganggu, saya akan tetap berkawan dengan mereka, dan mereka pun akan tetap menganggap saya adalah sahabat baik mereka.

Inilah salah satu bentuk merayakan keragaman. Menghargai perbedaan dalam pilihan hidup akan menjadi indah manakala kita mampu menerapkannya dalam keseharian kita. Ini era terbuka. Masalah pilihan hidup adalah masalah hak asasi setiap orang. Entah anda setuju atau tidak, yang pasti siapapun orangnya dan apapun pilihannya, saya menaruh penghargaan kepadanya. Karena sekali lagi Menjadi beda itu bukan berarti buruk, tapi unik. (HS)

Kakimanangel, september akhir2010.

2 thoughts on “Menjadi beda itu bukan berarti buruk, tapi unik

  1. Dengan perbedaan kita jadi lebih paham makna kehidupan sebenarnya. Dengan perbedaan dunia jadi lebih berwarn karena perbedaaan pula kita dapat saling mengenal satu dengan yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s