Rat Jadi Pengemis

Namanya Rat 1). Saya mengenalnya sejak kecil. Perempuan berusia sekitar 37 tahun ini dulunya adalah tetangga rumah saya ketika saya menghabiskan masa kecil. Hanya terselang beberapa rumah, namun kami berlainan RT. Malah, dulu Rat ini adalah murid ngaji Bapak saya. Kemudian Rat menikah, dan keluarganya (termasuk orang tua dan adiknya) berpindah ke kampung sebelah.

Orang tua Rat bekerja sebagai pengayuh becak. Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Rat akhirnya menikah dengan seorang pemuda, bekerja serabutan nampaknya suami Rat. Terakhir saya lihat dia berjualan es nong-nong keliling kampung.

Kami berjumpa dalam sebuah perjalanan menuju kota hujan. Awalnya saya tidak mengenalinya. Karena selain posisi tempat duduk saya yang lebih depan, saya juga tidak memperhatikan satu per satu siapa saja yang berada dalam angkutan yang sesak itu. Saya baru tersadar bahwa itu Rat, tetangga rumah dulu, ketika dia tersenyum manggut tanda hormat.  Saya pun balik tersenyum dan menanyainya hendak ke mana.

Bade ka Puncak (Mau ke Puncak).” Jawab Rat.

Saya lihat dia menggendong anak kecil. Mungkin anaknya. Dan saya lihat juga pakaian Rat agak lusuh.

Saya tak banyak cakap lagi manakala melihat satu orang disamping kiri Rat yang sedang menelpon. Saya mengenalinya sebagai pengemis di kawasan Puncak. Dia memanfaatkan kekurangan pada matanya sebagai alasan untuk meminta-minta kepada para kaya yang terjebak macet di jalur ini. Yang saya tahu, lelaki itu adalah pendatang di kampung Rat yang sering saya lalui. Berdasarkan informasi tetangga saya, pemilik warung yang sering didatangi lelaki itu untuk berbelanja, lelaki itu beristri dua dan mempunyai rumah loteng.

Akhirnya saya tahu, Rat mengikuti lelaki tetangganya itu untuk mengemis. Sebuah pilihan yang sungguh mengecewakan jika saya memandangnya dari kaca mata pribadi saya. Rat masih muda menurut saya. Masih bisa bekerja mengandalkan tenaganya. Entah menjadi pembantu rumah tangga, atau mungkin sekedar menjadi buruh cuci setrika.

Ketika Rat turun dari angkutan, saya tengah tertidur. Saya tidak tahu dia turun di mana. Saya duga di kawasan masjid at-taawun Puncak. Karena di situlah biasanya orang-orang ramai berkumpul. Dan tentu saja itu akan dimanfaatkan para pengemis untuk mengadu nasib mencari rejeki.

Ilustrasi mengemis - dok HS.2010

Rat, adalah salah satu potret kemiskinan negeri ini. Entah karena malas atau memang keuntungan dari mengemis yang lumayan berlipat, Rat akhirnya memilih terjun sebagai peminta-minta. Sekedar informasi yang saya peroleh dari tetangga saya yang pemilik warung, katanya lelaki pengemis itu selalu menukarkan uang recehan sehari minimal Rp. 200.000,-, malah jika sedang ramai (biasanya hari Ahad dan hari libur), dia bisa membawa uang untuk ditukar hingga Rp. 400.000,-. Sebuah penghasilan yang menggiurkan bukan?

Tidak heran jika akhirnya Rat, dan juga banyak warga pra sejahtera 2) lainnya memilih untuk menjadi pengemis. Karena selain lapangan kerja untuk mereka tidak ada, taraf pendidikan mereka pun sungguh rendah. Saya tak tahu apakah Rat lulusan SD ataukah SMP. Faktor lainnya adalah daya juang dari warga pra sejahtera itu. Kenapa saat ini banyak yang mengemis, bisa saja karena mereka malas. Lantas menjadikan kekurangannya sebagai bahan iba orang lain, ditambah penghasilan mengemis yang lumayan besar, jadilah banyak yang terjun untuk mengemis.

Mungkin UUD memang harus diamandemen. Kata-kata pada salah satu pasal tentang kesejahteraan sosial, “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” agaknya harus diganti. Karena menjadi bias makna, dipelihara bisa saja diartikan keberadaan mereka tetap ada dari masa ke masa. Kemiskinan tidak diberantas dan kesejahteraan rakyat miskin tetap terbengkalai.

Mungkin kata-kata tersebut harus diganti menjadi “Fakir miskin dan anak terlantar dicarikan solusinya oleh negara agar mereka tak miskin lagi dan tak terlantar lagi.” Hehehe.

Rat adalah salah satu contoh nyatanya. Kesulitan ekonomi membuat dia menukar nasibnya menjadi pengemis, karena mengemis itu ternyata mendatangkan keuntungan yang lumayan. Kalau sudah begini, rasanya Perda larangan mengemis hanya akan menjadi sebuah simbol kerja para anggota dewan semata. (HS)

Dalam perjalanan menuju Bogor, 2 oktober 2010.

Kakimanangel, 04102010

1)     Nama disamarkan

2)    Pra sejahtera adalah istilah BKKBN untuk menyebut warga di bawah garis kemiskinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s