Nasib Sang Masinis

Miris. Itu yang saya rasakan ketika melihat satu tayangan berita tentang seorang nasib mantan masinis yang terkait kasus tragedi kecelakaan bintaro tahun 1987 (dalam berita tersebut disebutkan tragedi bintaro 1997). Slamet Suradio namanya, usianya sudah 71 tahun. Di usia senjanya, Slamet harus berjuang untuk menghidupi diri dan keluarganya, jauh dari kata layak sebagai mantan pegawai PJKA. Kakek tua ini harus berjualan asongan dengan penghasilan rata-rata hanya Rp.3.000 saja.

Nasib Slamet berubah 180 derajat setelah tragedi yang mengambil puluhan nyawa tersebut. Slamet dituduh sebagai orang yang paling bertanggung jawab, dan akhirnya dipenjarakan selama tiga tahun. Bukan itu saja, Slamet pun dipecat secara tak hormat dari tempatnya bekerja sehingga hari ini dia tak dapat menikmati masa pensiun dengan tunjangan pensiun seperti halnya mantan karyawan lainnya.

Dalam satu penuturannya, Slamet mengatakan bahwa dia berusaha untuk menyelamatkan nama baik PJKA, dan akhirnya menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Selama masa pemeriksaan, katanya dia sering mendapat perlakuan kekerasan.

Kasihan. Itu yang saya lontarkan manakala melihatnya berjualan asongan dalam tayangan pagi tadi. Lantas dengan bersahaja dan bangga, dia menunjukkan kembali seragam kebesarannya sebagai seorang masinis. Dia memperlihatkan dirinya memakai seragam itu. Ada sudut keharuan yang tak bisa disembunyikan dimatanya. Keinginan Slamet hanya satu, mendapatkan kembali hak tunjangan pensiunnya karena dia pernah menjadi pegawai negeri.

-hs-

Masinis. Sebuah profesi yang menurut saya adalah profesi yang tak kalah mulia dibandingkan profesi lain. Setiap hari, hampir ribuan orang diantarkan oleh sang masinis menuju tempat tujuannya. Namun sungguh disayangkan, ketika terjadi tragedi yang merenggut nyawa penumpang, masinislah yang selalu disalahkan. Padahal, jika ditelusuri, tidak hanya masinis yang bertanggung jawab dalam lalu lintas perkereta apian di negeri ini.

Ibarat tombak, maka masinis ini adalah ujung tombak yang harus siap sedia ditancapkan ke mana-mana. Dan akan patah manakala sasaran yang diarahkannya salah.

Kejadian terbaru adalah kasus tabrakan maut dua kereta di daerah Petarukan, pada tanggal 2 oktober 2010 lalu. Lagi-lagi, sang masinis dipersalahkan dan harus bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut.

Saya tak mengerti, kenapa harus sang masinis yang menjadi orang paling bertanggung jawab? Beginikah sistem transportasi negeri ini? padahal jika tragedi seperti ini terjadi di Jepang, mungkin pucuk pimpinannya yang akan mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab ketidak becusan mengelola sistem transportasi.

Entahlah. (HS)

sumber berita: satu

Sumber berita: dua

081010@kakimanangel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s