Pemimpin Berangkat, Rakyat Sekarat

dok dari sespim.polri.go.id

Ada yang saya tidak mengerti dengan tingkah polah pemimpin negeri ini. Ketika rakyatnya menjerit meminta pertolongan di tengah-tengah bencana, mereka malah mengutamakan ‘kunjungan’ luar negeri sebagai agenda utama. Ada apa sebenarnya dengan orang-orang yang diamanahi sebagai pemimpin di negeri ini?

Negeri ini sedang dirundung duka. Mulai dari Indonesia timur yang tiba-tiba dilanda banjir bandang. Kemudian Jogjakarta yang disembur oleh bencana vulkanik gunung merapi. Dan Indonesia bagian barat yang terkena tsunami, tepatnya di kepulauan mentawai, Sumatera Barat.

Adalah gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, yang berangkat ke Jerman memenuhi undangan KBRI di sana.  Menurut berita yang saya baca, Irwan pergi ke Munich Jerman dalam rangka urusan penjajagan investasi untuk propinsi Sumbar,  serta menghadiri kegiatan Indonesian Business Day yang diprakarsai KBRI di Jerman. Padahal situasi di wilayah yang sedang dipimpinnya sedang tanggap darurat atas bencana tsunami di Mentawai.

Melalui jejaring twitter, Irwan mengemukakan “Rencana Perjalanan ke Jerman satu setengah hari. Dg sarana komunikasi saat ini terus pantau & berkordinasi dg tim Sumbar untuk #Mentawai”.

Saya tidak tahu, mungkin memang kunjungan ke Jerman adalah sebuah agenda penting yang dapat memberikan guna di kemudian hari. Namun rasanya ironis sekali manakala rakyat yang mempercayai dirinya menjadi gubernur,  tengah dirundung malang. Sementara sang gubernur tidak berada di tempat dan melimpahkan tugas untuk memantau mentawai selama 5 hari keberadaannya di luar negeri kepada wakilnya.

-hs-

Situasi di Mentawai memang tidak seheboh pemberitaan dari Merapi. Namun membaca beberapa berita dari media online, saya berkeyakinan, kondisi mentawai tidak jauh berbeda dari kondisi pengungsi merapi. Malah mungkin lebih menderita.

Kompas.com memberitakan pagi ini (04/11/2010) bahwa meskipun selamat dari tsunami, namun para korban di mentawai masih terancam maut. Ini dikarenakan banyak sekali korban tsunami yang menderita bronchopneumonia atau infeksi paru-paru. Infeksi di paru-paru korban tsunami terjadi akibat mereka terlalu banyak menelan air laut. Digulung tsunami setinggi 10 meter dan terseret kemana-mana membuat air laut bisa dengan mudah masuk ke paru-paru. Hal itu diungkapkan oleh salah seorang relawan medis, Mulhendra, menanggapi jumlah korban di Mentawai.

Masih menurut Mulhendra, penderita bronchopneumonia bisa saja meninggal jika tidak tertangani dengan baik. Hal ini bisa saja terjadi mengingat peralatan medis yang tersedia di rumah sakit darurat di sikakap, sangat tidak memadai. Untuk menangani korban bronchopneumonia, terpaksa harus dibawa ke Padang. Sedangkan dari lokasi bencana ke Padang, harus menggunakan angkutan helicopter.

“Kami terpaksa memilih korban yang paling parah untuk diangkut ke Padang dengan helicopter.” Demikian penuturan Mulhendra.

Anggota relawan medis lainnya, Erinaldi mengaku stress karena kondisi peralatan medis yang sangat terbatas sehingga para relawan tidak dapat berbuat banyak untuk menolong para korban.

“Stressnya kami di Sikakap ini bukan karena banyaknya pekerjaan yang harus kami lakukan, tetapi justru kami tak dapat berbuat banyak dengan alat yang ada. Jadi kalau pun operasi, ya hanya operasi kecil-kecilan dan sederhana” Begitu Erinaldi menuturkan kepada kompas.com.

Sungguh ironis sekali. Ketika para relawan berusaha setengah mati menyelamatkan nyawa para korban, sang pemimpin malah pergi ‘menjemput bola’ untuk kepentingan investasi yang saya yakin jika dilakukan di hari lain masih bisa dikerjakan.

-hs-

Kembali kepada tingkah polah para pemimpin negeri ini. Selain gubernur Irwan, masih belum lekang di benak kita ketika Merapi memuntahkan awan panas, para bedebah yang mengaku-ngaku wakil rakyat  diam-diam pergi ke italia. Dan sebagian lagi pergi ke Yunani transit di Turki. Padahal kondisi negeri sedang menjadi sorotan dunia internasional karena sedang dirundung bencana.

Apa sebenarnya yang ada di benak mereka? Entahlah, saya bukan pejabat sehingga saya tidak bisa menyelami pola pikir mereka. Saya hanya bisa berdoa, semoga keberadaan mereka di pucuk pimpinan bukan sebagai pertanda bahwa kiamat sudah kian mendekat.

Kareo-04112010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s