Cerita di Dalam Kereta

Ini adalah cerita akhir pekan saya. Cerita tentang kereta, setelah saya berkunjung ke Jakarta.

Saya sengaja memilih jadwal sore hari dari stasiun Kota Jakarta supaya tiba di Kota Bogor tidak terlalu malam. Karena perjalanan saya masih harus disambung lagi ke kota kecil tempat saya tinggal dan bekerja. Jadi saya berharap tidak terlalu malam tiba di rumah.

Saya berpacu dengan waktu untuk tiba di stasiun sebelum jam 16.20 WIB. Karena saya melihat jadwal di www.krlmania.com jadwal pemberangkatannya jam segitu. Setengah berlari saya coba untuk mendapatkan tiket. Yess!!! Tiket di dapat. Saya pun segera menaiki kereta yang siap berangkat itu setelah berlari-lari kecil yang menghasilkan keringat.

tiket 11 rebu, tapi AC mati...😦 - hs.2010

Saya memilih menggunakan kereta Pakuan Express dengan harapan bisa cepat sampai, dan mendapatkan kenyamanan untuk sekedar memejamkan mata selama perjalanan Jakarta-Bogor.  Namun rupanya saya salah. Karena saya datang agak telat, kereta hampir melaju.

Saya berjalan dari gerbong dua, penuh. Tak ada space tersisa buat saya duduk santai. Lanjut ke gerbong tiga, sama. Gerbong empat, serupa. Gerbong ke lima, masih tak ada. Saya penasaran hingga ke gerbong enam, tetap tak ada. Gerbong tujuh saya lihat dari kejauhan. Penuh.

Saya pasrah. Berdiri adalah pilihan tepat daripada tidak sama sekali. Saya pun kembali ke gerbong 5. Sekilas saya melirik ada pengumuman di gerbong 6 bahwa sistem pendingin udara sedang dalam perbaikan. Saya mikir bodoh waktu itu. “Oh, Cuma gerbong enam. Saya pindah deh ke gerbong 5.”

Ternyata sama. Hahaha. Stupid me! Kereta itu ada 8 rangkaian gerbong. Sistem pendinginnya pasti satu rangkaian paralel. Dan saya berpikir Cuma gerbong 6 saja yang kena troubleWhat a silly brain!

Kematian sang AC yang diumumkan pada selembar kertas – HS.2010

Akhirnya saya berdiri di gerbong 5 dengan sedikit kepanasan. Kereta mulai berjalan. Pelan. Beruntung, di depan saya ada seorang bapak dengan koran terhampar, duduk dengan kalemnya. Saya sedikit mengakrabinya dan meminta selembar koran. Sukses. Saya pun duduk. Meski lesehan, tapi ini bukan di jogja sambil menikmati wedang ronde. Ini adalah kereta yang sedang berjalan pelan. Tanpa AC dan kepanasan. Padahal, itu adalah kereta pakuan.

Ketika berhenti di stasiun gondang dia, banyak penumpang yang masuk. Alhasil bejubel lah itu kereta pakuan. Penderitaan saya mulai terasa. Udara yang segitu-gitunya, diperebutkan oleh banyak orang. Padahal tidak ada jendela dan ventilasi. Maklum, kereta ini kan kereta AC –seharusnya-.

Jess jess… tiba-tiba kereta mati. Awalnya saya pikir bakalan sebentar. Tak apalah kipas-kipas dikit. Eh rupanya lamaaaa. Kasian sekali kami. Bagai pindang rebus di dalam oven berjalan yang sedang parkir. Keringat mulai bercucuran. Meskipun saya sambil duduk lesehan, tetap saja terasa tak nyaman karena kepanasan. Orang-orang yang tadinya berdiri perlahan-lahan mulai pada duduk. Delay makin terasa lama. Semua kipas-kipas. Saya memotret mereka.

Kereta melaju kembali. Tapi hanya setengah hati. Berhenti kembali. Entah di mana, mungkin di cikini. Kali ini lamaaaaaa banget… hampir satu jam lebih. Musnahlah harapan saya untuk tiba di rumah jam 8-an.

Keringat terus mengucur. Untunglah petugas KA yang melintas mengerti kondisi kami yang kepanasan. Dia membuka jendela-jendela di tiap gerbong.

seorang ibu yang mulai kepanasan, wajahnya memerah, kasihan - hs.2010

ramai-ramai beli minum dari celah jendela - hs.2010

Tapi itu tak membantu sama sekali. Kami tetap kepanasan. Keringat terus bercucuran. Seorang ibu di depan saya mulai mengeluarkan omelan. Saya dan beberapa lainnya, hanya senyum tertahan. Untuk membunuh kesal, saya membuka buku bacaan. Yang lain berebut beli minuman melalui celah jendela yang dibuka petugas supaya kami nggak kepanasan.

Seperti naik kereta ekonomi biasa. Sebodo ah… daripada ngedumel, saya buka buku aja. Membaca. Intelek sekali kelihatannya. Padahal buku yang saya baca adalah novel, hahaha….

Perjalanan baru dimulai kembali setelah kami menunggu hampir 90 menit. Tapi tetap, pendingin ruangan tak berfungsi. Kami kepanasan dan hanya mendapat udara dari celah-celah jendela yang terbuka. Akhirnya kereta melaju kencang, seperti biasanya.

Benar, kereta baru melaju setelah hampir dua jam kami terhenti. Akhirnya saya tiba di Bogor dengan selamat pukul 19.30 dan tiba di rumah pukul 22.00.

Kenapa kereta terlambat dan ndut-ndutan? Rupanya ada gangguan listrik lintas atas dan gangguan sinyal perkereta apian diantara stasiun manggarai hingga stasiun Depok. Beritanya ada di sini.

Ecapedeboooo.… (HS)

Kakimanangel – 14112010

2 thoughts on “Cerita di Dalam Kereta

  1. Pengalaman yg unik, kereta api mogok. Terakhir naik kereta ke Semarang yg ada malahan kedinginan, huhu… AC-nya terlalu dingin sampai akhirnya pake jaket tebel udah kayak lagi musim dingin aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s