Ketika Jalan Jadi Hambatan

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mematikan potensi objek wisata yang ada di daerah kota kelahiran saya. Ini hanya sebentuk opini masyarakat terhadap pemerintah di kota tempat tinggal saya, bernama Cianjur.

Hari ahad kemarin (21/11/2010), beberapa orang kawan saya dari Jakarta datang berkunjung ke kota kecil dimana saya menetap. Awalnya saya akan membawa mereka menuju objek wisata di kaki Gunung Gede. Curug Cibereum. Namun, setelah mereka membaca link tulisan saya tentang Situs Megalith Gunung Padang, rasa penasaran mereka pun terbit. Dan diputuskanlah untuk menuju Gunung Padang sesuai keinginan tamu-tamu saya tersebut.

Saya sudah memberitahukan dari awal bahwa jalan yang akan dilalui tidak sama dengan jalanan ibukota yang sering mereka lalui sehari-hari –mulus dan licin- , namun itu tidak menyurutkan semangat mereka. tepat jam 11 siang, mereka menjemput saya di depan jalan menuju rumah. Dan kamipun berangkat menggunakan satu mobil ber-delapan.

Bukan keindahan Situs Megalith Gunung Padang yang kali ini akan saya ceritakan. Karena saya pernah mengunjunginya tahun 2008 pertengahan, dan saya pernah menuliskannya dua kali di blog ini. Melainkan tentang infrastruktur jalan yang harus kami lalui untuk menuju Situs Megalitikum itu.

Jujur saja, saya malu sama teman-teman yang kemarin mendatangi Gunung Padang. Malu karena jalan yang harus kami lalui menuju tempat wisata, jauh dari kata layak. Seolah-olah tidak ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Cianjur.

Sedikit gambaran saja, objek wisata Situs Megalith Gunung Padang ini terletak sekitar 20 km dari jalan raya utama Cianjur-Sukabumi. Begitu anda berbelok arah menuju ke arah Gunung Padang, tepatnya di Cikancana, maka jalanan yang akan anda lalui sangat jauh dari layaknya jalan menuju tempat wisata. Berlubang di sana-sini. Selain itu, lebar jalan yang tidak besar membuat para wisatawan yang datang ke sana harus ekstra hati-hati karena tikungan tajam dengan tebing berbonus jurang memang bukanlah hal yang tidak nyata untuk dilalui.

Saya khawatir, jika ini tidak ditangani dengan serius, maka potensi wisata situs Megalith Gunung Padang, tidak akan didatangi orang untuk ke dua kali, ke tiga kali, dan seterusnya. Karena orang akan kapok berkunjung jika mengingat medan yang harus dilalui. Padahal ini adalah potensi yang akan menghasilkan pendapatan asli daerah kota Cianjur.

Terlepas dari buruknya infrastruktur jalan menuju objek wisata sejarah tersebut, Situs Megalith Gunung Padang ini menawarkan pemandangan yang tidak biasa. Terletak di ketinggian yang saya perkirakan di atas 1000 mdpl, udara di Gunung Padang sangat sejuk. Perkebunan teh menjadi penanda bahwa lokasi situs berada pada ketinggian  tertentu.

Begitu anda tiba di lokasi, anda akan menapaki 340 anak tangga yang sengaja dibuat untuk anda yang sedikit phobia dengan ketinggian. Namun, jika anda menyukai tantangan saya sarankan untuk menaiki jalan pintas yang terletak tidak jauh dari rumah salah satu kuncen bernama Dadi. Anda akan menaiki undakan anak tangga yang terbuat dari batu pada kemiringan tebing hampir enam puluh derajat. Begitu anda tiba di puncaknya, anda akan menikmati nuansa masa lalu dengan empat kawasan undakan besar yang pernah saya tuliskan di sini.

Sayang sekali rasanya jika anda menyempatkan untuk tidak berfoto disana. Sebagai oleh-oleh penanda anda pernah mengunjungi gunung padang, berfoto di antara bebatuan kuno menjadi sebuah hal yang tidak dilarang. Saya menyebutnya: EKSOTIS.

pemandangan yang akan anda dapat. lelahnya menempuh jalan butut, terbayar lunas - HS.2010

Kembali pada tema tulisan saya tentang infrastruktur yang tidak mendukung, ini akan menjadi sebentuk hal yang mematikan potensi objek wisata bersejarah yang konon lebih tua dibanding candi-candi di Jawa Tengah. 1 km menjelang Situs, jalan berbatu, tanpa aspal sama sekali, dilapisi tanah merah, akan menjadi satu-satunya jalan yang harus anda lalui. Tentu saja ini adalah hal yang sangat tidak menyenangkan mengingat hal-hal membahayakan bisa saja terjadi pada pengunjung objek wisata ini. Itu diluar 20 km jalur sempit yang harus dilalui.

Sebenarnya permasalahan ini tidak hanya terjadi pada objek wisata Gunung Padang saja. Objek wisata lainnya di Kabupaten Cianjur, hampir bernasib sama. Salah satunya adalah akses menuju pantai selatan Cianjur. Ada beberapa pantai yang masih “perawan” yang menunggu investor untuk dikelola. Sebut saja pantai Apra, Sereg, atau Jayanti. Semuanya berada di selatan Cianjur. Lebih kurang 120 km arah selatan dari pusat kota Cianjur. Jalan menuju ke kawasan pantai tersebut, bisa dibilang tidak menyenangkan. Berkelok dan sempit. Serta permukaan yang sudah banyak bolong.

Tentu saja jika pemerintah Cianjur lebih concern untuk meningkatkan infrastruktur menuju tempat wisata, bukan tidak mungkin objek-objek wisata tersebut bisa go international, dan menjadi tujuan favorit para pelancong domestik maupun mancanegara.

Semoga ada pemerintah terkait yang membaca tulisan ini. Sehingga di kemudian hari, para pelancong akan mendapatkan satu referensi lokasi wisata sejarah, untuk melengkapi objek wisata candi-candi yang sudah sangat populer itu.

Ada yang tertarik untuk berinvestasi? (HS)

Kakimanangel, 23nopember2010.

 

 

 

 

 

8 thoughts on “Ketika Jalan Jadi Hambatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s