Guru TK, Guruku Juga

Tahun lalu, 25 Nopember 2009, saya menuliskan sesuatu sebagai tanda pengenang bakti para guru di negeri ini. Saya menuliskan sebuah kisah inspiratif dari guru saya Ibu Lilih Halimatussa’diyah. Anda bisa klik di sini jika ingin membacanya kembali.

Ibu Lilih guru saya sewaktu SD. Meski tak mengajar langsung, namun beliau mendidik saya dan memperkenalkan saya dengan banyak hal tentang hidup dan kehidupan. Setidaknya saya belajar dari kisah hidupnya yang pernah menjadi obrolan antara saya dan beliau pada suatu hari.

Tidak ada yang tidak jadi seperti sekarang tanpa kehadiran seorang guru. Dokter, dosen, bahkan hingga para pejabat pun, semua lahir atas didikan seorang guru sewaktu di Sekolah Dasar. Sungguh besar jasa para guru. Tak akan terganti.

-hs-

Banyak cerita tentang kehidupan guru. Meskipun saat ini kesejahteraan para guru sudah jauh lebih baik, diperhatikan pemerintah lewat tunjangan fungsional yang lumayan, serta program sertifikasi. Namun, masih saja ada sekelumit cerita yang membuat hati saya tergugah.

Sebuah cerita saya dapat dari kakak saya, yang anaknya masih bersekolah di salah satu TK swasta di kota tempat tinggal saya. Kakak saya bercerita tentang guru anaknya di TK tersebut. Sebut saja ibu Euis. ibu Euis ini sudah berusia lumayan senior. Saya taksir mungkin di atas lima puluhan. Kebetulan saya pernah bertemu dengannya sekali, waktu mengantar keponakan saya ke TK.

Menurut penuturan kakak saya, ibu Euis ini sungguh luar biasa. Meskipun gajinya mengajar di sekolah milik salah satu yayasan islam itu tidak seberapa, namun semangat juangnya tak pernah surut. Beliau begitu mencintai perannya sebagai guru TK. Mengajar dan mengajak anak-anak didiknya bermain sambil belajar. Menari, menyanyi, berdoa, hingga mengenal hurup dan angka. Gajinya yang tidak besar tidak menyurutkan langkahnya untuk menemui anak didiknya. Fathan, keponakan saya, adalah salah satu muridnya.

Hampir setiap hari, ibu Euis ini menempuh perjalanan dari rumahnya di kawasan Cipanas-Puncak menuju sekolah tempatnya mengabdi di pusat Cianjur. Jarak sekitar 15 km ditempuh dengan satu kali angkutan kota. Lantas, melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke sekolah tempatnya mengajar. Saya taksir kurang lebih 2 km.

Saya yakin, ibu Euis ini berangkat dari rumah pada saat matahari belum seterang siang. Supaya bisa sampai di sekolah sekitar jam 7 pagi. Tubuh ringkihnya lalu menjejak langkah penuh semangat menuju sekolah. Menyapa anak didiknya. Memperkenalkan murid-muridnya dengan balutan ceria  khas dunia kanak-kanak. Mengajarkan aneka rupa doa-doa yang kadang tidak sempat diajarkan oleh orang tua. Memperkenalkan hurup dan angka secara sederhana namun membekas dalam ingatan. Mengajak anak-anak menyanyi lagu khas dunia mereka. Sebuah semangat yang patut dicontoh oleh kita semua.

 

-hs-

Guru TK kadang terlupa. Otak kita kadang terlalu lemah untuk mengingat mereka, karena kita belajar di TK entah berapa puluh tahun ke belakang.  Padahal, selain guru kita semasa SD, guru TK pun turut berjasa mendidik kita. mereka memperkenalkan kita dengan alat-alat tulis. Menggambar, mewarnai. Bernyanyi, berhitung. Tanpa harus kehilangan momentum keceriaan dunia kanak-kanak. Sungguh besar jasa mereka untuk diri kita. Mereka lah yang membentuk pribadi-pribadi kecil kita menjadi pribadi-pribadi tangguh masa kini. Mereka lah yang mengajarkan etika perkawanan di dunia sekolah untuk pertama kali. Mereka pula yang mengajarkan kita doa-doa yang kadang tidak sempat diperkenalkan orang tua karena kesibukannya.

Guru yang selalu tampak riang di hadapan murid-muridnya. Mengajarkan gerak tari. Mengestafetkan riang nyanyi. Tak pernah pusing dengan celoteh khas anak-anak sehingga anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan masanya. Terima kasih untuk para guru di TK dan PAUD yang telah mengajar kita dan juga anak-anak kita. Jasa Bapak Ibu semua, tak akan kami lupa.

Taman yang paling indah, hanya taman kami,

taman yang paling indah, taman kanak-kanak.

Tempat bermain, berteman banyak,

itulah taman kami, taman kanak-kanak.

 

anak-anak TK menari ketika wisuda mereka - dok. H.Kustiawan.2010

 

 

Kakimanangel, 25112010. (HS)

Nb: tulisan ini dipersembahkan untuk seluruh Guru yang hari ini merayakan hari PGRI.

dimuat juga di kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s