Ramadhan dan Teriknya Matahari

sinar matahari - hs.2011

Bulan ramadhan kali ini jatuh di musim kemarau. Panas luar biasa. Hari ini sepulang kantor, saya mampir di butik Rabbani melihat-lihat baju koko. Kebesaran semua, maklum ukuran tubuh ini sedikit menyusut hehe. Sepulang dari situ, saya melajukan motor menuju dua tempat yang berbeda. beuh, panasnya udara sangat menyengat. Makanya begitu sampai rumah saya langsung ganti pakaian kerja dengan celana pendek dan kaos. Kemudian ngadem tiduran di lantai.

Itu saya, yang bekerja seharian di kantor. Tak banyak aktifitas kecuali melajukan motor dibawah terik matahari untuk keperluan saya sendiri. kemarin, di daerah tempat tinggal saya, ada pekerjaan galian kabel listrik. Galian kabel tersebut katanya memanjang lebih dari 15 km, dari sisi barat menuju timur.  Proyek PLN tersebut melibatkan banyak pekerja untuk menggali tanah sepanjang lebih dari 15 km tersebut.

Selama dua hari, ketika berangkat dan pulang kerja, saya berpapasan dengan para pekerja-pekerja tersebut. Tidak ada yang aneh sebenarnya jika mereka bekerja di luar bulan ramadhan, tapi karena ini ramadhan, dan hampir seluruh penduduk di kampung saya menjalankan ibadah puasa, maka pemandangan mereka bekerja keras menggali saluran untuk ditanami kabel, menjadi kontras. Apalagi sebagian diantara mereka saya lihat ada yang sambil merokok. Artinya sebagian dari mereka tidak berpuasa.

Awalnya saya sedikit menyayangkan, kenapa mereka harus tidak berpuasa. Saya berpikir, apa yang akan mereka dapat. Di dunia seperti itu, di akhirat nanti apakabar? Ups….

Tapi setelah saya rasakan sengatan matahari yang begitu terik hari ini, saya sedikit paham yang mereka rasakan.  Pasti sesuatu yang sangat berat bagi mereka bekerja dibawah terik matahari dengan keadaan berpuasa. Saya tidak tahu apa yang menjadi alasan mereka tidak berpuasa. Apakah karena memang tidak mau, terlalu capek, atau mungkin kadar keimanan yang tipis. Ah, sudahlah, saya tak ingin ambil pusing. Yang jelas, sekarang saya mencoba untuk memahami mereka dari sisi mereka, bukan dari sisi saya.

Kata seorang teman, anything happen for a reason. Termasuk mereka, para pekerja kasar itu. Saya yakin ada alasan dari mereka, yang mungkin saya tidak tahu, mengapa mereka tidak berpuasa. Sebuah pilihan yang sulit jika saya menjadi mereka. Sungguh, saya tidak patut menghakimi mereka bahwa mereka bukanlah orang yang beriman. Karena kadar keimanan seseorang tidak bisa hanya ditentukan dari tampilan luar saja.

Memang tidak mudah untuk menjadi orang yang tidak gampang menghakimi orang lain. saya masih berusaha untuk menjadi orang yang egaliter dan berpandangan terbuka. Dan hal-hal yang saya lihat dan saya alami tersebut menjadi pelajaran penting agar tidak mudah memberikan penghakiman akan keadaan yang terjadi di sekeliling saya itu.

Wallahu alam bishawab. (HS)

Anything happen for a reason, Had!

Maaf blognya jarang saya update, karena kebanyakan main di BLOG K. tapi sekarang blog K sudah mulai kurang asyik masyuk, jadi saya balik lagi ke rumah pribadi di sini hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s