MMPL, Mesen Makan Pake Lama…

Hari senin tadi, 26 desember 2011, saya melewatkan masa cuti bersama alias libur sehari, dengan jalan-jalan ke Kebun Raya Cibodas bersama keluarga kakak, dan keponakan saya. Tidak ada yang istimewa sih buat saya ceritakan di sini. Semua berjalan seperti biasa saja layaknya liburan. Kecuali hujan yang tiba-tiba turun ketika kami baru memulai duduk-duduk pada alas terpal yang biasa disewakan seharga sepuluh ribu rupiah.

Karena tidak ada persiapan berlibur alias kami berangkat dadakan, kami tidak membawa bekal makan siang untuk kami santap di tempat piknik. Kami mengisi perut seadanya dengan mie cup yang dijual di area wisata berhawa sejuk itu.

Sehabis dari cibodas, kemudian turun gunung dan mampir di salah satu factory outlet. Lumayan lama menunggu keponakan saya maen-maen mandi bola di factory outlet itu. perut keroncongan masih bisa saya ajak kompromi sampai keponakan saya selesai main-main. Kami pun segera meluncur pulang kembali meninggalkan cipanas.

Nah, karena perut keroncongan yang belum diisi nasi, kami pun mampir di salah satu rumah makan yang belum lama buka. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, RM yang terletak di jalan raya cianjur-cugenang itu menyediakan tahu sebagai menu utamanya. Kakak saya mengajak berhenti di RM tersebut untuk mengisi perut yang memang sudah tak bisa lagi diajak kompromi. Kami pun memesan menu sesuai dengan yang tertera di daftar menu, seorang perempuan muda yang rupanya pelayan di RM tersebut mencatat pesanan kami. Dua nasi timbel daging gepuk, satu nasi timbel ikan nila balita, satu karedok, dan tahu goreng sebagai makanan pembuka, serta enam gelas teh tawar panas.

ini tahu yang jadi menu pembuka. tinggal 5 biji, dari 15 biji tiap porsinya (HS)

karedoknya sih enak, tapi nunggunya itu, alamaaakkk, lama benerrrrr (HS)

Semenit dua menit, kami menunggu. Pesanan kami tak jua muncul. Sepuluh menit. Baru muncul air, itupun Cuma segelas. Beberapa menit kemudian, muncul tahu. Karena lapar, saya sikat saja beberapa biji. Tanpa air. Baru setelah itu, muncul karedok, dengan selang waktu yang masih bisa ditolerir. Agak sedikit lama, baru muncul lima gelas air. Saya mulai tak sabar, saya coba lihat ke arah dapur yang memang terletak agak jauh dari tempat duduk pengunjung. Si perempuan yang tadi nyatet pesanan kami, tampak berdiri di pintu. Pesanan kami belum juga muncul. Sementara empat gelas sudah kami habiskan oleh tiga orang. Hampir habis kesabaran, meja sebelah, yang datang beberapa menit sebelum kami, sudah hampir menyelesaikan makan mereka, sementara pesanan saya belum juga muncul.

Desperate. Saya memutuskan untuk membereskan saja semuanya. “kita bayar saja yang ini. sisanya kita batalin” begitu kata saya setelah hampir setengah jam menunggu menu utama yang belum muncul juga di meja kami. Bener deh, saya kesal. Perut lapar itu bukan untuk didiamkan, tapi untuk diisi. Dan kami datang ke RM tersebut, berniat untuk mengisi perut, bukan untuk menunggu pesanan dan menyaksikan orang lain makan lahap hingga kenyang. Rasa kesal saya memuncak ke ubun-ubun, tepat ketika pesanan datang.

Saya komplen dong. Saya bilang “lama bener kang. Hampir saja kami pergi.” Yang nganter pesanan ternyata bukan si perempuan yang tadi nyatet pesanan. Aneh. Biasanya satu meja dilayani oleh orang yang sama. Sebenarnya, itu bukan kali pertama saya berkunjung makan di RM berinisial TS itu. saya hitung-hitung, sekitar tiga kali lah. Setidaknya dua kali makan di situ, saya mempunyai pengalaman demikian. Tapi tadi itu beda. Saya kesel sama si perempuan pelayan itu yang seenaknya melemparkan tanggung jawab. Sungguh tak profesional.

Back to si pelayan pria yang menyodorkan pesanan kami. Dia minta maaf atas keterlambatan pesanan dan berkilah “karyawan kami keluar enam orang, makanya jadi kerepotan.”

Sungguh, sebagai konsumen yang makan di tempat itu, itu bukan alasan tepat yang pengen saya dengar.

“kalo karyawan lo keluar…. salah gue? Salah temen-temen gue? Itu mah urusan lo…” pengen rasanya saya jawab gitu, tapi kesadaran saya masih penuh. Jadi saya tidak mengungkapkannya. saya telen aja bareng tahu yang saya comot, sambil kesel. Alhasil, saya makanpun tidak dengan sepenuh hati. Saya coret RM berinisial TS tersebut dari daftar-restoran-yang-harus-dikunjungi-ulang. Sungguh tidak recommended deh walaupun karedoknya enak.

Nah, inti pesan cerita saya adalah: kalau teman-teman mau membuka rumah makan, warung nasi, café, atau tempat makan apapun, jangan pernah membuat pelanggan yang datang menunggu lebih dari dua puluh menit. Karena itu, sungguh, akan menjadi momok buruk yang akan membuat restoran anda dicoret dari daftar-restoran-yang-harus-dikunjungi-ulang. Manjakan pelanggan yang lapar dengan memberi pelayanan yang bagus. Pesanan yang cepat diantar supaya konsumen yang datang ke tempat makan milik anda tersebut, datang lagi suatu saat, bahkan merekomendasikannya ke teman-temannya. Ini membuka peluang bisnis rumah makan anda akan menjadi besar dan terkenal.

Sekian. (HS)

Kakimanangel, 26des2011

8 thoughts on “MMPL, Mesen Makan Pake Lama…

  1. Hahahaa, sabaarr, sabaarrr… Kalo nungguinnya ikhlas, makannya jadi berasa lebih enak kok..😄 Mungkin lain kali si pengelola restonya harus ngasih tulisan “Mohon bersabar”. Hehhee.

    Btw, di Jogja ada lho resto yang ada tulisan begitunya. Dan emang bener2 lama.. Kalo buat orang2 yang emang pengen makan di situ, berasa banget lamanya. Tapi kalo buat orang yang emang pengen nongkrong, gak gitu kerasa sih. Hehehe.

    • Hehehe, iya sih, cuma masalahnya perut saya udah ga sabar minta diisi. Secara yaaa, udah kelewat tiga jam dr jam maksi…
      Pokoknya tetep aja deh, itu restoran saya coret dr daftar restoran-yang-harus-dikunjungi-lagi
      Hehehehe
      Salam biru🙂

      • Hahahaa.. Coba, nanti kalo sewaktu2 ke Jogja, mampir ke Raminten. Tempatnya asyik buat nongkrong, tapi ya itu tadi, pelayanannya lama banget..😄

      • Oke, dicatet, raminten
        Berarti itu cocoknya buat kopdar2 sama temen2 blogger di jogja ya hehehe

        Nanti kalo ke jogja, coba kopdaar disitu ah🙂

  2. Iya, emang asyik buat kumpul2. Nuansanya Jawa, pake kayu2 gitu. Trus waiter/waitress-nya pake jarik (kain batik). Hehe. Menunya juga tradisional kok, tapi dengan kemasan yang nggak “ndeso”..😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s