Memanusiakan Manusia

sudah lama ga update blog…🙂

-0Oo-

Memanusiakan Manusia.

Kalimat ini saya dengar pertama kali ketika aktif berkegiatan di tahun 2008. Salah satu teman saya mengutarakan kalimat ini ketika kami terlibat rapat membahas agenda kegiatan yang akan kami laksanakan saat itu. Saat itu kami berusaha membuat kegiatan yang lebih ramah terhadap teman-teman kami yang berkebutuhan khusus. Memang, dari sekian banyak anggota perkumpulan kami saat itu, ada satu orang anggota yang luar biasa aktif meskipun dia berkebutuhan khusus.

Mendengar kalimat memanusiakan manusia, bagi saya sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga. Dari kalimat tersebut saya mendapat pelajaran yang berharga luar biasa. Bahwa kita, sebagai manusia, haruslah memperlakukan manusia sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ada. Nilai kemanusiaan yang universal yang berlaku di manapun.

Mari kita simpan tentang konsep memanusiakan manusia tersebut.

tidak ada yang berbeda

Sekarang saya ingin sedikit bercerita saja, semalam saya ngobrol-ngobrol dengan salah satu cleaning service kantor saya. Sudah di luar jam kantor tentu, dan sudah tidak ada lagi sekat saya sebagai staf sub bagian kepegawaian dan hukum, dan dia sebagai cleaning service, makanya kami ngobrol lepas. Saya tekankan padanya bahwa di luar kantor tidak ada lagi sekat-sekat, yang ada adalah teman. Pada akhirnya kami, saya dan sebut saja H, berbagi cerita tentang kondisi di kantor. Ngalor-ngidul membicarakan permasalahan-permasalahan di kantor tersebut.  Ini menjadi bagian penting bagi saya yang belum lama “menghuni” kantor tersebut.

Dari obrolan ngalor ngidul itu, kemudian dia bercerita bahwa di ruangan yang dia pegang, dia selalu terkesan dilecehkan. Dia akhirnya curhat ke saya tentang pekerjaan dan liku-likunya. Selama ini saya pikir bekerja sebagai CS itu tidak ada problem, tapi ternyata tidak ada yang tidak bermasalah dalam menjalani hidup ini. Bahkan, meskipun dia seorang petugas bersih-bersih, namun ternyata ada tantangan yang musti dia taklukan dalam menjalani tugasnya.

Dia bercerita bahwa beberapa atasannnya kadang memberikan perintah dan menyuruhnya mengerjakan ini itu tanpa ada kesan menghargainya. Padahal, menurut dia, meskipun pekerjaan dia sebagai petugas kebersihan, bukan berarti dia adalah robot yang tidak punya perasaan. Tidak sekali dua saja dia merasa diperlakukan tidak manusiawi oleh atasannya, namun dia tidak bisa berbuat banyak selain menelan ludah.

Menurut dia, tidak hanya satu orang atasannya saja, bahkan staf-stafnya juga sama bawelnya. Menyuruh dia mengerjakan satu pekerjaan, padahal sebelumnya dia disuruh orang yang sama untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.

“Kadang saya gondok, Kang.” Dia menyebut saya Kang mengingat usianya yang jauh lebih muda. Saya Cuma bisa menjadi pendengar yang baik dan hanya memberikan sedikit motivasi dan masukan supaya dia bersabar. Padahal saya sendiri tidak tahu apakah bakal sesabar dia atau tidak jika menjalani apa yang dia lakukan.

“Meskipun saya memang bertugas membantu dan disuruh-suruh, tapi saya juga punya perasaan Kang. Masa iya nyuruh ke saya teh kayak bukan lagi ngomong sama manusia. Kadang saya gondok banget, tapi mau gimana lagi.” H menuturkan. Jujur, saya getir mendengarnya.

“Udah kayak rendahan aja saya di mata mereka itu.” H berujar. Saya makin kecut.

Mungkin malam itu saya tidak bisa memberikan solusi, namun saya menjadi pendengar yang baik baginya. Saya hanya memberikan sedikit motivasi untuk dia melanjutkan kuliah. Karena memang dia pernah mengenyam empat semester kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Lagi-lagi, karena nasib ketiadaan biaya, dia harus menerima kenyataan menjadi seorang petugas bersih-bersih.

Malam itu, dibalik cerita dia, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Kalimat memanusiakan manusia kembali terngiang di telinga saya. Bahwa kita memperlakukan manusia itu harus sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Jadi pelajaran juga buat saya bahwa setiap manusia itu ingin diperlakukan sama. Tidak boleh  membeda-bedakan mereka.

Kembali lagi ke memanusiakan manusia, akhirnya makin jelas di otak saya bahwa semua manusia itu sama, tidak ada beda. Kenapa harus ada stratifikasi atau dikotomi terhadap sesama manusia? Toh setiap manusia itu memiliki kesamaan di mata Tuhan. Hanya ketakwaan yang membedakan manusia di mata Tuhan. Belum tentu saya lebih baik dari mereka yang dipandang sebagai pekerja atau karyawan yang kadang dianggap rendahan. Sekali lagi, pengingat bagi saya untuk selalu bersyukur dan tidak membeda-bedakan manusia.(HS)

Bandung-21112012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s