Warung Gerobak, Terima Kasih….

Dunia kuliner agaknya selalu menjadi salah satu bahan yang menarik untuk dibicarakan. Mulai dari kuliner kelas bintang lima hingga kuliner kelas kaki lima. Kuliner bintang lima mungkin tidak semua orang bisa mencicipinya, mengingat harga yang ditawarkan biasanya bukanlah harga untuk sembarang orang. Hanya orang-orang berkantong tebal saja biasanya yang bisa mencicipi dan menikmatinya hehehe. Saya? sesekali saja, untuk moment tertentu biasanya saya makan di tempat makan yang harganya bisa berlipat-lipat itu.  Namun lain halnya dengan kuliner kaki lima, hampir semua orang bisa mencicipi makanan-makanan yang dijajakan oleh mereka para pedagang jajanan pinggir jalan, yang biasanya disebut juga warung atau restoran jalanan.

Berbicara mengenai jajanan pinggir jalan, bagi saya yang termasuk kategori berkantong rata-rata, keberadaan jajanan pinggir jalan ini sungguh membantu sekali. Sebagai perantau yang kini berstatus sebagai anak kost (lagi), saya mengucapkan banyak terima kasih dengan adanya warung-warung tenda dan warung-warung gerobak yang menyediakan makanan murah tersebut. Betapa tidak, hampir setiap hari selepas pulang kantor, saya pasti akan selalu menyempatkan diri untuk mampir di warung tenda atau gerobak untuk membeli makanan buat makan malam. Gimana nggak beli, saya malas masak. Apalagi menjadi anak kost seperti ini, saya butuh yang praktis-praktis saja.

Sebagai  konsumen warung-warung gerobak tersebut saya tentu saja harus memilih apa yang menurut saya aman untuk dikonsumsi. Saya selalu memperhatikan kebersihan warung yang saya datangi. Ini saya lakukan mengingat saya pernah terjangkit penyakit types beberapa bulan lalu. Jadi saya tidak boleh sembarangan (lagi) memilih jajanan/makanan. Saya harus memilah apa yang boleh saya beli, dan jajanan mana yang tidak bisa saya konsumsi. Biasanya sebelum membeli makanan, saya perhatikan dulu kebersihan lokasinya. Kemudian tingkat keramaian pengunjung warung tersebut. Dan yang utama adalah menu yang disajikan. Jangan sampai karena saya jajan sembarangan, efeknya saya yang harus kena penyakit.

Saya cerita saja nih ya, pernah saya membeli seafood di pinggir jalan. Saya lihat lokasinya tidak terlalu buruk lah. Terlihat ‘lumayan’ bersih dari luar. Saya pun masuk ke warung tersebut. Namun ketika saya melongok ke ‘dapur’ yang notabene terlihat dari meja makan, saya langsung bergidik ngeri. Ada banyak lalat di sana. Belum lagi penataan ikan dan bumbunya yang berantakan. Yaiks, jorok sekali. Mau keluar lagi, malu karena sudah masuk warung, mau nggak jadi mesen, nggak ada alasan tepat. Masa iya saya bilang :”ga jadi mesen mas” apa kata mereka? Akhirnya saya mesen makanannya di bungkus saja. Dan karena saya ragu-ragu, setelah saya beli, bayar, keluar dari warung tersebut,  saya nggak makan itu seafood.

restauran jalanan yang bersih - HS.2013

restauran jalanan yang bersih – HS.2013

Terlepas dari kesan kurang enak tersebut, menurut kacamata saya sebagai konsumen warung tenda atau warung gerobak, jajanan pinggir jalan alias streetfood bukanlah sesuatu yang buruk. Justru saya melihat banyak aspek  positif tentang penjaja makanan kaki lima ini. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, mereka sungguh sangat berjasa menyediakan menu makanan untuk orang-orang yang malas masak. Berjasa juga untuk kami para penghuni kost yang tidak bisa selalu makan di tempat mewah. Bahkan mereka juga berjasa untuk menggerakan roda perekonomian bangsa ini.

Tentang menggerakan roda perekonomian, anda bisa bayangkan, ketika pengusaha-pengusaha warung tenda tersebut membuka lapaknya, ada berapa ratus juta dana yang bergulir dalam semalam? Sebenarnya jika pemerintah mau turun tangan untuk mengelola warung-warung tenda ini, bukan tidak mungkin ini akan membantu perekonomian masyarakat Indonesia. Memang sih, warung jajanan pinggir jalan ini kalah kelas apabila dibandingkan dengan restaurant atau café-café. Namun, nyatanya, banyak sekali yang menggantungkan harapan dari usaha ini. Bahkan pengusaha-pengusaha warung tenda ini secara tidak langsung sudah mengurangi angka pengangguran dengan mempekerjakan tenaga-tenaga yang biasanya mereka rekrut berdasarkan hubungan kekerabatan. Lumayan kan, daripada nganggur ga dapat duit, mending ikut paman dagang nasi goreng.

Sudah banyak kisah sukses para pedagang warung tenda yang dikupas di media-media. Berbekal kreatifitas, mereka menjadi salah satu pengusaha yang pada akhirnya diperhitungkan. Di Bandung saja contohnya, banyak sekali warung tenda atau pedagang yang akhirnya beralih memiliki bangunan permanen, Meski tidak sedikit juga mereka yang bertahan dengan tendanya, namun omset yang mereka raih tidak bisa dibilang main-main. Dulu, salah satu kakak kelas saya semasa kuliah, orang tuanya punya usaha warung tenda. Dan nyatanya dia bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Hebat kan?

Selain menggerakan roda perekonomian, Secara tidak langsung, jajanan pinggir jalan juga memberikan warna terhadap kebudayaan kuliner masing-masing kota.  Misalnya di Jogjakarta yang terkenal dengan kawasan Malioboro-nya, disitu bisa ditemukan beragam makanan khas Jogjakarta, mulai dari gudeg hingga wedang.

Ah,  saya nggak usah jauh-jauh ke Jogjakarta deh, di kota kecil tempat saya lahir dan tumbuh besar bernama Cianjur saja, ada satu jalan yang dijadikan lokasi tempat para pedagang makanan berkumpul, namanya Jalan Sinar. Jalan ini, setau saya, sejak saya kecil sudah dipenuhi banyak pedagang yang buka mulai jam 5 sore hingga tengah malam. Di jalan sinar  ada beberapa pedagang makanan khas Cianjur, seperti comhu atau bubur ayam Cianjur.  Di jalan ini saya juga bisa menemukan aneka jenis makanan lainnya, mulai dari makanan ringan seperti pisang molen, martabak,  hingga makanan berat macam seafood, ayam goreng, atau bebek goreng.

Warung gerobak ternyata juga bisa menjadi salah satu identitas sebuah kota. Contohnya ketika anda sekalian berkunjung ke Bandung, anda akan langsung mengetahui bahwa makanan khas Kota Kembang ini diantaranya adalah Batagor dan cilok. Kenapa begitu? Karena ketika anda jalan-jalan di kota ini, dengan mudahnya anda bisa menemukan banyak sekali penjaja Batagor dan cilok keliling di Bandung. Begitupun ketika berkunjung ke kota lain, kita akan mudah sekali mengenali makanan khas kota tersebut dari penjaja-penjaja makanan  makanan keliling tersebut.

Ah, banyak sekali ya ternyata manfaat keberadaan warung-warung gerobak itu. Sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada mereka karena telah menyediakan makanan murah meriah, dan tentu saja mereka juga akan membalas berterima kasih kepada kita karena sudah menjadi konsumen mereka. Sebuah simbiosis mutualisme yang indah bukan? (HS)

Tulisan ini diikut sertakan dalam Femina Foodlovers Blog Competition 2013.

Femina Travel & Food Blogger Competition

 

2 thoughts on “Warung Gerobak, Terima Kasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s