Manisnya Macaroon Love

Siapa yang akan terpikir untuk menyantap french fries dan mencocolkannya kedalam ice cream vanila sundae? Atau siapa yang akan berpikir tentang nama-nama menu restoran yang berbeda dari restoran kebanyakan, seperti suguhan neng Hela atau paket makan berupa nama personal semacam Uni Hamidah, Mpok Ipeh, atau Mang Engkun? Hanya Magali lah yang mempunyai selera unik seperti itu. Magali yang bernama aneh dengan tingkah yang tak kalah nyentrik.

Siapa Magali?

Dia adalah salah satu tokoh rekaan dalam novel terbaru Winda Krisnadefa yang berjudul Macaroon Love. Entah darimana Winda bisa menemukan nama Magali untuk tokoh utama novel terbarunya ini, yang jelas selain bernama aneh –ralat, unik- tokoh ini juga digambarkan memiliki sifat dan karakter yang nyentrik. Novel yang kini mulai hadir di jaringan toko buku Gramedia ini merupakan novel solo kedua Winda setelah sebelumnya Winda hadir dengan Blackbook-nya. Novel ini memberikan cita rasa yang berbeda dengan novel sejenis. Meskipun mengambil tema romansa percintaan, namun Winda mengemasnya dengan background yang tidak umum yaitu dunia kuliner.

Oke, saya bikin sedikit sinopsis Macaroon Love ini. Cerita bergulir dari gugatan Magali terhadap namanya. Nama yang tidak biasa di telinga orang Indonesia. Magali yang memiliki kehidupan yang tidak biasa. Nenek yang nyentrik, Ayah yang bekerja di kapal pesiar selama 10 bulan setiap tahunnya, dan sepupu yang hampir seumuran yang setengah bule kere bernama Beau.

Sejak kecil Magali dibesarkan oleh sang Nenek yang dia panggil Nene. Didikan yang didapat Magali dari Nene adalah “bahwa setiap perempuan itu unik” menjadikan Magali sebagai seorang anak yang nggak mainstream. Bagi Magali kehidupannya tidak sama dengan anak-anak gadis lainnya. Selain karena namanya yang aneh, Magali pun tidak mempunyai kesamaan selera dengan anak-anak gadis lainnya. Inilah yang akhirnya terbawa hingga Magali dewasa.

Selera Magali yang tidak lazim terhadap variasi makanan membawanya berkenalan dengan seorang pria. Ammar. Pekerjaan Magali sebagai freelance writer di sebuah majalah gratisan di ibukota menghantarkan Magali pada sebuah fase kehidupan yang tidak pernah terpikir olehnya bersama Ammar. Pokoknya Anda akan menemukan cerita yang menarik deh di tengah-tengah menuju akhir cerita ini.

Penampakan Buku Macaroon Love -  diambil dari FB nya si emak gaul... (doc. Winda Krisnadefa)

Cover buku macaroon love, buku ini bisa didapat di Jaringan Toko Buku Gramedia. saat ini sih baru di jabodetabek… (HS)

Macaroon Love Book

Penampakan buku Macaroon Love yang diambil dari FB nya si emak gaul (doc. WK 2013)

Novel ini bisa dibilang berbeda dengan kebanyakan novel cecintaan lainnya. Berbeda, karena novel ini mengangkat cerita seputar dunia kuliner. Saya tidak tahu riset macam apa yang dilakukan oleh Winda sehingga tokoh, karakter, dan background-nya terasa hidup dalam imajinasi saya. Dialog-dialog yang diciptakan Winda terasa ringan dan mampu menggiring imajinasi saya sebagai pembaca untuk lebih dalam mengenal tokoh utamanya, Coba anda baca saja dialog antara Magali dengan Ayahnya yang dia panggil Jodhi.

Cita-cita kan tidak harus terdengar bombastis agar yang mendengar ternganga! Bukan untuk itu cita-cita diciptakan! Bagaimana kalau aku punya cita-cita yang humble, seperti menjadi food writer? Apakah itu menjadikan aku manusia yang kurang hebat dibanding mereka yang bercita-cita ingin jadi dokter atau presiden? Cita-cita itu adalah pencapaian yang memberi kepuasan kepada diri sendiri, bukan orang lain. Aku minta maaf kalau ternyata Jodhi tidak puas apalagi bangga dengan pekerjaanku sekarang ini. Tapi ini hidupku, aku yang menentukan. Selama aku bahagia melakukannya, jangan hakimi aku!” Magali menarik nafas panjang setelah menyelesaikan kalimat-kalimat panjangnya itu dengan penuh emosi.

Saya yakin, jika anda membaca novel Macaroon Love ini akan mengambil kesimpulan yang sama dengan saya tentang karakter Magali. Perempuan muda yang berprinsip dan tidak peduli orang akan memandang aneh dengan keteguhan prinsipnya.

Selain mengangkat tema percintaan, Winda berhasil mengangkat kehidupan seputar dunia kulinari. Winda -selaku penulis- mampu memberikan wawasan kepada pembaca novel ini  dengan memberikan sudut pandang lain tentang dunia kuliner.

Tengok saja paragraf ini:

“…. Petualangan Lidah akan menjadi sebuah rubrik yang membahas makanan dari sisi lain. Misalnya kita membahas masakan rumahan, kita akan angkat bagaimana makanan itu bisa jadi bernilai di mata pembaca. Sayur asem, misalnya. Untuk sebagian besar orang sayur asem adalah masakan biasa. Terlalu biasa. Tapi apa yang bisa menjadikan sayur asem luar biasa? Kita akan tanyakan ke pakarnya langsung. Kita bisa wawancarai pemilik restoran-restoran Sunda di Jakarta atau Bandung tentang rahasia resep sayur asemnya, lalu menanyakan menu apa yang menurut mereka cocok dan akan mengangkat rasa dari sayur asem itu sendiri. Karena bagi saya pribadi, makanan itu soal kreatifitas dan selera. Kombinasi ikan asin dengan sayur asem mungkin saja cocok untuk kebanyakan orang. Tapi siapa tahu ada orang lain di luar sana yang cukup gila memadukan sayur asem dengan daging rendang, dan rasanya bagi mereka tak kalah enaknya. Kita akan wawancara random people tentang pendapat mereka tentang sayur asem dan teman yang pas untuk menikmatinya. Dengan demikian, artikel kita pada akhirnya membuka pikiran orang-orang, bahwa ada cara lain menikmati sayur asem selain dengan cara yang sudah biasa.”

 See? Winda seolah-olah tau banyak tentang apa dan bagaimana kehidupan orang-orang yang bergelut di lingkungan dunia kuliner. Winda memberikan semacam ‘pencerahan’ bahwa ada sesuatu yang menarik dari dunia kuliner selain tentang cecap mencecap rasa makanan. Keberanian Winda mengambil tema yang tidak biasa inilah yang menjadikan novel ini layak menjadi koleksi lemari perpustakaan pribadi anda para pencinta dan penikmat novel fiksi.

Jujur saja, saya bangga dengan terbitnya novel ini. Bukan karena novel ini adalah naskah unggulan lomba novel Qanita Romance, tapi karena ada nama saya di halaman ucapan terima kasih (ga penting ya? Hahaha, biarin ah…). Tapi jujur saja, sejak pertama kali Winda memberikan draft naskah ini untuk saya baca (sebelum diikutkan lomba), saya sudah yakin bahwa novel ini akan mendapatkan tempat di hati pecinta buku terutama kalangan penikmat fiksi.

Anda penasaran dan ingin memiliki novelnya? Anda bisa mencari buku terbitan mizan ini di jaringan toko buku Gramedia (saat ini sih masih di sekitaran jabodetabek aja), tapi kalau anda tidak sabar ingin segera baca buku ini, anda bisa kontak langsung penulisnya di fan pagenya di facebook. Jangan lupa untuk minta tanda tangan dan pembatas buku manis buatan si emak gaul ini sebagai bonusnya, hehehe. (HS)

 

Pojokkantor – BDG03052013

 

NB: Macaroon adalah sejenis kue renyah berukuran kecil-kecil, rasanya manis dan lembut ketika dikunyah.

7 thoughts on “Manisnya Macaroon Love

  1. Ping-balik: Lahirnya Novel Magali | Hadisome

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s