[Opini] Bangkitlah Bulutangkis Indonesia

Tergelitik dengan komentar-komentar pedas di salah satu berita tentang kekalahan Tim Sudirman Cup Indonesia di babak penyisihan oleh China pada sebuah media online,dimana banyak yang menuliskan komentar bernada pesimis dengan Tim Sudirman Cup yang akan kembali menghadapi China di babak perempat final, saya jadi ingin menuliskan opini saya tentang tim bulutangkis Indonesia yang beberapa tahun ini prestasinya sedang menurun.

Tidak bisa dipungkiri bahwa para pembaca berita media online tersebut berkomentar bukan tanpa sebab. Mereka berkomentar pedas mengingat prestasi bulutangkis Indonesia pernah memasuki titik terendah. Prestasi atlit Indonesia melempem. Atlit-atlit kita lebih banyak kalah jika dibandingkan dengan atlit dari negara lain.  Para pelatih terbaik ‘kabur’ ke luar negeri, berdiaspora ke berbagai negara dan memajukan perbulutangkisan negara-negara yang kurang berprestasi semacam India, Canada, Inggris, dan Malaysia sehingga mereka mampu bertaji di kancah bulutangkis internasional.

Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan. Saya pun kala itu tidak lagi tertarik melirik perbulutangkisan Indonesia mengingat prestasi atlit-atlit era tahun sekarang benar-benar merosot drastis dibandingkan tahun 90-an hingga awal 2000-an. Dan yang terburuk dari sejarah bulutangkis Indonesia adalah gagalnya menjaga tradisi medali emas olimpiade di London, serta ‘diusirnya’ dua pemain ganda putri Indonesia yaitu Greysia Polii/Meiliana Jauhari dari arena olimpiade bersama tiga pasangan ganda putri lainnya karena dianggap menodai sportivitas olahraga.

Tapi ditengah-tengah mati surinya prestasi tim bulutangkis Indonesia, saya masih menyimpan asa dan optimisme bahwa suatu saat anak-anak pelatnas cipayung akan mampu mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia, dan kembali mengibarkan bendera merah putih di kancah internasional.

Dibawah kepengurusan baru yang dipimpin oleh Gita Wirjawan, saya kira saat ini perbulutangkisan Indonesia mulai berbenah untuk mengembalikan prestasi Indonesia seperti dulu kala. Beberapa pelatih tangguh kembali dipanggil. Liang Chiu Shia, pelatih senior bertangan dingin yang melahirkan atlet sekaliber Susi Susanti dan Sarwendah Kusumawardhani ‘dikembalikan’ ke pelatnas. Chiu Shia dipercaya sebagai pelatih kepala yang mampu memberikan support positif untuk anak-anak Cipayung khususnya di tunggal Puteri.  Chiu Shia dibantu oleh anak didiknya Susi Susanti dan Sarwendah Kusumawardhani  untuk melatih di tunggal putri bersama Verawaty Fajrin dan  Nova Widianto.   Selain Chiu Sia, mantan atlit ganda putra yang juga peraih medali emas olimpiade, Rexy Mainaki, juga turut ‘dibawa pulang’ dari perantauan. Rexy yang sempat melatih Malaysia selama tujuh tahun dan melahirkan atlit-atlit tangguh negeri jiran tersebut mengaku terpanggil untuk mengembalikan sinar prestasi kejayaan bulutangkis Indonesia di mata dunia.

Memang, butuh waktu yang tidak sebentar untuk kembali mengangkat nama Indonesia di kancah perbulutangkisan internasional. Perlu kerja keras dan semangat pantang menyerah dari anggota Cipayung jika ingin kembali mengharumkan nama Indonesia. Saya yakin, atlit-atlit ini akan kembali mengibarkan prestasi Indonesia di kancah perbulutangkisan dunia.

Pelatih bertangan dingin, Liang Chiu Shia (courtesy of: duaribuan.wordpress.com)

susi susanti, kala menjadi atlit, prestasinya membanggakan Indonesia (dicomot dari google)

Saya kira tidak hanya atlit negeri kita yang pernah melempem. Atlit negeri sakura pun pernah mengalami hal serupa. Tahun 70-an, Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki atlit bulutangkis berkualitas internasional. Piala Uber pernah mereka boyong sebanyak 5 kali yaitu tahun 1966, 1969, 1972, 1978, dan 1981. Nama Hiroe Yuki dan Noriko Nakayama menjadi jaminan prestasi bulutangkis Jepang kala itu. Namun prestasi negeri matahari terbit ini mulai  tenggelam di tahun 90-an hingga awal 2000-an. Setelah hampir 20 tahun-an negeri ini tenggelam, kini kita bisa mengenal nama-nama macam Kenichi Tago, Sayaka Sato, Eriko Hirose, Reiko Shiota, Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna atau pasangan ganda putri Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi yang saat ini menempati peringkat dua dunia. Jepang mampu kembali berprestasi.

Reiko Shiota (courtesy of badmintonconnect.com)

Atau tengok saja India. Bulutangkis India pernah mencuat ketika Prakash Padukone menjadi atlit tunggal putera India yang mampu berprestasi dunia. Namun setelah era Prakash, bulutangkis India mati suri. Namun kini? Saina Nehwal, Kahsyap Parupali, atau Jwala Gutta adalah nama-nama yang dikenal dunia sebagai atlit bulutangkis India yang berprestasi dunia.

Saya kira, kondisi naik turun prestasi suatu Negara di bidang olahraga itu adalah hal yang wajar. Tengok saja di dunia tennis (yang selalu saya amati perkembangannya). Dulu Negara Jerman pernah sangat Berjaya di dunia tennis internasional dengan munculnya Steffi Graf sebagai ratu tennis dunia. Prestasi Graf membuat Jerman dijadikan kiblat pertenisan dunia selain Amerika, karena selain Steffi Graf, ada nama-nama macam Anke Huber, Borris Becker, dan Michael Stich. Namun setelah mereka mundur, prestasi tennis negeri ini melempem. Bertahun-tahun nama Jerman tenggelam dari kancah tenis internasional hingga akhirnya kini muncul nama Angelique Kerber, Sabine Lisicki, Julia Goerges, dan Andrea Petkovic. Bukan waktu yang sebentar untuk Kerber dkk mengembalikan nama Jerman sebagai salah satu negeri yang berkibar di cabang tenis.

Tim Fed Cup Jerman yang diperkuat Steffi Graf (kedua dari kiri) dan Anke Huber (kedua dari kanan). saat itu Jerman menjadi negeri yang diperhitungkan di kancah tennis dunia. (image by tennisforum.com)

Atau Inggris Raya yang selama berpuluh-puluh tahun tidak mempunyai atlit berkelas dunia hingga muncul nama Andy Murray di nomer putera yang mampu mencuri perhatian tennis dunia dengan prestasinya mempersembahkan medali emas di olimpiade London 2012 lalu. Meskipun Inggris tidak mempunyai petenis berkelas, toh penyelenggaraan Grand Slams Wimbledon tetap dilaksanakan dari tahun ke tahun.

Begitupun dengan bulutangkis Indonesia. Sepertinya kondisi Indonesia pun mengalami hal serupa seperti halnya bulutangkis negeri sakura atau tennis Jerman dan Inggris.

Saya pikir bodoh sekali ketika beberapa tahun lalu ada wacana untuk menghapus turnamen Indonesia Premiere Super Series dari kalender tahunan karena dianggap hanya menghambur-hamburkan dana saja sementara atlit Indonesia tidak ada yang mampu juara di sana. Sungguh, menurut saya, itu adalah pemikiran bodoh kalau turnamen Indonesia Premiere Superseries itu hanya ditujukan agar atlit Indonesia saja yang berprestasi. Justru dengan diadakannya turnamen akbar berhadiah fantastis ini akan mendorong atlit-atlit bulutangkis Indonesia untuk kembali berjuang mengembalikan prestasi Indonesia.

Contoh saja Wimbledon di dunia tennis. Berpuluh-puluh tahun diselenggarakan, yang keluar sebagai juara justru atlit-atlit non inggris. Namun asosiasi tennis Inggris tidak skeptic menghilangkan Wimbledon dari turnamen internasional hanya gara-gara tidak pernah ada petenis Inggris yang juara di sana. Justru dengan adanya Wimbledon, atlit-atlit Inggris dituntut tampil baik di kancah internasional dengan mendapatkan jatah wildcard sehingga mereka bisa tampil di babak pembuka turnamen bergengsi tersebut. Ini tentu saja akan memberikan pengalaman tersendiri bagi atlit-atlit muda Inggris agar lebih berprestasi. Hasilnya nama Andy Murray, Heather Watson, dan Laura Robson, menjadi tiga nama yang mulai diperhitungkan.

Kembali ke bulutangkis. Walaupun saat ini prestasi anak-anak pelatnas Cipayung masih naik turun, tapi saya memberikan apresiasi positif untuk mereka. Mengingat di tahun ini, mereka sudah memperlihatkan progress yang jauh lebih baik. Lilyana Natsir/Tontowi Ahmad misalnya, mereka mampu menjuarai turnamen All England di tahun 2013 ini. Atau Pia Zebadiah Bernadeth/Rizki Amelia yang menjuarai turnamen bulutangkis Malaysia Open GP Gold bersama Vita Marrisa/Praveen Jordan pada nomer ganda campuran, dan Alamsyah Yunus di nomor tunggal putera.

Polesan Susi dan Sarwendah sebagai pelatih pun mulai terlihat dengan munculnya nama Lindaweni Fanetri dan  Aprilia Yuswandari di nomor tunggal putri. Bahkan Aprilia berhasil masuk semifinal turnamen India Open Super Series tahun 2013 sebelum kalah dari pemain Jerman yang berada di peringkat topten, Julianne Schenk. Dua pemain yang ditangani Susi dan Sarwendah ini mulai menunjukan kualitas permainan yang membaik.  Kedua pemain puteri ini mulai memperlihatkan kemajuan positif  dan mampu bermain lebih baik dari sebelumnya. Bahkan Lindaweni saat ini sudah masuk 15 besar dunia dan Aprilia ada di peringkat 22. Terakhir yang saya tahu, hanya Maria Kristin yang mampu masuk jajaran top ten dunia.

Lindaweni Fanetri (Source: facebook Lindaweni/www.pbdjarum.org)

Selain Lindaweni dan Aprilia, progress positif juga ditunjukan oleh anak-anak Cipayung. Muhammad Rijal/Debby Santoso misalnya, atau Angga Pratama/Ryan Agung yang kini mulai tampak memperlihatkan kemajuan positif. Prestasi Rijal/Debby terlihat dengan mampu menggulingkan pasangan ganda China Xu Chen/Ma Jin di turnamen bergengsi All England. Di turnamen tersebut Rijal/Debby terhenti di semifinal. Begitu pula dengan Angga/Ryan di tahun 2013 ini sudah menyumbangkan dua gelar juara, meskipun masih di taraf turnamen sekelas grand prix.

Sebenarnya ini adalah pekerjaan rumah bagi pengurus besar PBSI dibawah kepemimpinan Gita Wirjawan. Masyarakat Indonesia sudah tak sabar untuk berteriak mendukung tim Indonesia berlaga dan menang di kancah internasional. Dengan kemajuan beberapa atlit yang sempat saya amati sekilas, sekali lagi, saya berpikir optimis bahwa prestasi Indonesia akan kembali bangkit seperti dulu. Menurut saya saat ini adalah masa dimana tim Indonesia sedang berada di titik bawah untuk naik ke puncak prestasi. Saya percaya beberapa tahun ke depan Indonesia akan berada di grafik naik dan kembali Berjaya di kancah bulutangkis Internasional. Semoga. (HS)

Bdg,22052013 @mejapojokkantor

Ditulis menjelang quarterfinal Sudirman Cup 2013 Indonesia VS China.

source link: duaribuan.wordpress.com ,  kompas.com, google.com

4 thoughts on “[Opini] Bangkitlah Bulutangkis Indonesia

  1. paramater kualitas pemain secara kuantitatif adalah peringkat WBF-nya, lalu track head-to-head, termasuk adaptasi si bermain secara beregu. kadang parameter peringkat yg menggunakan dasar permainan PERORANGAN dipakai pada konteks BEREGU spt Sudirman Cup 13 ini. Pertanyaannya adalah relevankah ?

    • entah ya, relevan atau tidak, saya kurang tau. mungkin BWF mempertimbangkan berdasarkan prestasi perorangan pemain sehingga kans untuk menang di beregu juga lebih terbuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s