[Book Review]: Kemana Muara Rantau 1 Muara?

Novel ketiga trilogi Negeri  5 Menara (HS.2013)

Novel ketiga trilogi Negeri 5 Menara (HS.2013)

Buku ketiga dari trilogi negeri lima menara sudah hadir beberapa waktu lalu. Saya tidak langsung membelinya mengingat kemarin-kemarin belum ada dana untuk membeli buku, jadilah saya menunggu beberapa waktu untuk bisa membaca karangan Ahmad Fuadi itu.

Bercerita tentang Alif yang sudah memasuki fase kehidupan dewasa, buku yang diberi judul Rantau 1 Muara (R1M) ini diawali dengan kepulangan Alif ke Bandung. Alif Fikri, tokoh sentral dalam tokoh ini dikisahkan telah ‘berpetualang’ ke negeri Mapple, Kanada untuk program pertukaran mahasiswa di buku ke dua (Ranah 3 Warna, review-nya bisa dibaca di sini). Setiba di Bandung, Alif kehabisan uang sehingga dia hampir saja berhutang kepada kawannya yang bernama Bang Togar. Untunglah kepiawaian Alif merangkai kalimat yang dia kirimkan ke media-media di Bandung membuatnya mampu bertahan. Honor-honor yang belum sempat diambil menyelamatkan Alif untuk tetap bertahan di Kota Kembang. Alif yang pandai menulis analisa tajam ini akhirnya memiliki kolom khusus di salah satu media cetak di Bandung. Ini tentu saja membuat Alif bisa bertahan hidup dengan mengandalkan penghasilannya yang mulai mengalir jelas ini.

Kehidupan Alif kembali mengalami kesulitan seiring dengan bergejolaknya krisis moneter dan tumbangnya rezim orde baru. Sebagai penulis di media cetak, ternyata kolom khusus Alif dihentikan. Dan ini membuat Alif kembali harus berjuang. Apalagi sekarang status Alif adalah alumni. Jadi dia akhirnya memutuskan untuk segera mencari kerja.

Singkatnya, Setelah berjuang, Alif berhasil menjadi wartawan di salah satu media cetak nasional yang memiliki reputasi yang disegani. Disana Alif belajar untuk menjadi wartawan yang mempunyai tanggung jawab dan kredibilitas yang baik. Pasca keruntuhan orde baru, media tempat Alif bekerja seolah bangun dari tidurnya setelah dibreidel pemerintah. Media bernama Derap ini menjadi dunia baru bagi Alif untuk belajar.

Meskipun sudah bekerja, namun Alif belum mapan. Dia bersama kawan barunya harus mencari cara untuk hidup hemat, mengingat gajinya tidak begitu besar. Salah satu caranya adalah menginap di kantor. Di kantor derap pula Alif bertemu dengan tokoh baru yang kelak diceritakan akan menjadi partner hidupnya. Dinara.

Ditengah-tengah pekerjaannya, Alif tetap menyimpan mimpinya untuk belajar ke luar negeri. Mimpi ini tetap dipelihara seiring teman masa kecilnya, Randai, yang selalu muncul untuk memanas-manasi Alif. Alih-alih iri, Alif malah termotivasi dengan tantangan Randai. Jadilah Alif berhasil mewujudkan cita-citanya bersekolah di negeri paman sam dengan beasiswa penuh dari fullbright. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Selain berhasil meraih beasiswa ke negeri impian, Alif juga akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya untuk menikahi Dinara dan memboyongnya ke Amerika.

Hidup di Amerika tidak segampang yang dibayangkan. Di awal kehidupannya di Amerika, Alif harus bekerja keras membagi waktu antara belajar dan bekerja. Namun tampaknya apa yang diibaratkan dalam peribahasa ‘berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” akhirnya menjadi nyata di hadapan Alif. Bahkan, setelah  Alif lulus kuliah,  Alif dan Dinara akhirnya menjadi ekspatriat Indonesia di Amerika yang terbilang sukses berkarir sebagai wartawan.

Pada buku R1M ini ada banyak tokoh baru, selain Dinara, ada juga Pasus yang merupakan rekan satu tim Alif. Sang Aji, pemred tempat Alif bekerja sebagai wartawan, dan juga Garuda, seorang TKI di Amerika yang banyak membantu Alif ketika awal-awal hidup di negeri barat itu. Namun, tokoh-tokoh lama macam Randai dan Raisa, tetap muncul walaupun hanya sesekali. Kemunculan Randai di saat tak terduga ini menjadi semacam pelecut semangat Fuadi untuk menceritakan kisah Alif yang lain dari sebelumnya.

Bagaimanakah ending kisah Alif Fikri? Anda bisa membacanya di buku bercover biru terbitan gramedia yang dibanderol seharga 75 Ribu Rupiah ini.

Sekarang saya ingin sedikit menuliskan pendapat saya tentang novel ketiga trilogi Negeri 5 Menara ini.

Secara keseluruhan cerita yang tertuang dalam R1M ini lumayan bagus. Sepertinya memang sudah menjadi ciri khas A. Fuadi untuk menyisipkan petuah-petuah dan kalimat-kalimat motivasi yang dapat melecut semangat. Sedikit out of topic, saya sendiri pernah termotivasi oleh kalimat A. Fuadi di novel pertamanya. Kurang lebih motivasi yang ditulis Fuadi adalah untuk tidak takut merantau karena ketika kita keluar dari zona nyaman, merantau, maka kita akan menemukan ‘keluarga’ baru di perantauan. Begitu pula di buku ketiga ini, Fuadi memotivasi pembacanya . Salah satunya kalimat yang saya kutip dari halaman 12:

… “Jangan gampang terbuai dengan keamanan dan kemapanan. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari gesekan dan kesulitanlah, sebuah pribadi akan terbentuk matang.”

Selain itu kepiawaian Fuadi menyisipkan petuah juga bisa dibaca di halaman 266-267. Petuah ini sedikit ‘memanasi’ saya juga sih.

…”dibalik setiap kesuksesan laki-laki, pasti ada sosok perempuan yang hebat. Pilihlah perempuan terbaik. Karena dia yang mengingatkan dan menguatkan kita kaum lelaki. Dan kalau nanti dianugerahi anak, perempuan pulalah yang menjadi madrasatul ula, sekolah pertama setiap anak manusia

Walau jodoh ditangan Tuhan, tapi kita diberi kesempatan untuk berupaya keras mendapat pasangan terbaik.”

Hal lain yang menjadi catatan saya, Fuadi ternyata menyelipkan sebuah kampanye yang sesuai dengan program pemerintah yakni mengenai KB dan pengendalian penduduk. Fuadi berusaha menyadarkan para pembacanya untuk membangun keluarga yang berkualitas. Kurang lebih seperti ini kalimat yang dituliskan Fuadi, yang merupakan dialog antara Alif dan Garuda, di halaman 266-267:

“…  mereka siap untuk menikah, siap punya anak, tapi tidak disiapkan untuk membesarkan anak. Apa gunanya punya anak banyak, tapi tidak dibesarkan untuk menjadi manusia-manusia yang terbaik dan bermanfaat…

….

Kalau orientasi selalu untuk mendapatkan keturunan yang banyak, maka yang banyak itu tidak selalu berkualitas. Ada pepatah ‘iza katsura rakhusa.’ Kalau banyak jadi murahan. Kasihan anak-anak itu nanti malah tidak mendapatkan pendidikan yang baik, sehingga menjadi beban masyarakat. Kadang-kadang yang diwariskan kepada anak-anak itu adalah kemiskinan dan kebodohan. Saya selalu sedih melihat umat menjelma menjadi buih yang banyak, tapi tidak berarti apa-apa. Banyak secara jumlah, tapi hanya untuk menjadi kebanyakan saja. Yang kita cari adalah banyak untuk bermakna.”

Selain tiga kutipan tersebut, masih ada banyak kalimat-kalimat motivasi lain dari Fuadi tanpa terasa menggurui bagi pembacanya. Bahkan buku R1M ini memilih “Man saara ala darbi washala (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan)” sebagai mantra ketiga setelah man jadda wajada dan man shabira zhafira. Mantra inilah yang menuntun Alif dalam pencarian misi hidupnya.

Namun diantara beberapa kalimat motivasi yang menjadi kelebihan buku ini, saya mencatat bahwa buku ini juga memiliki kekurangan. Sebagai novel penutup dari sebuah trilogi, saya masih menemukan sesuatu yang menggantung. Sesuatu yang tanggung. Bahkan sesuatu yang tidak penting untuk diceritakan.

Entah untuk mengejar deadline jumlah halaman atau bagaimana, saya menangkap ada beberapa bagian cerita yang sebenarnya tidak perlu diceritakan. Misalnya ketika Alif ditagih oleh para debt collector kartu kredit saat dia berhutang semasa hidupnya yang sulit di Bandung. Cerita tersebut saya rasa tidak perlu ada. Kalaupun ada cukuplah menjadi flashback ketika Alif merasa ketakutan ketika harus meneliti mayat-mayat korban kerusuhan semanggi untuk dituangkan sebagai berita. Sebenarnya jika bagian ditagih oleh debt collector  ini dihilangkan, saya yakin jalan cerita tidak akan terpengaruh. Toh, ketika dimunculkan, tidak jelas juga bagaimana ending cerita tersebut. Teu puguh kalau kata orang sunda mah.

Cerita yang tidak perlu lainnya adalah pertandingan bola liga champions yang dikisahkan terlalu detail. Meskipun cerita tersebut mempunyai benang merah dengan semangat Alif untuk melamar sekolah ke salah satu universitas di Amerika, buat saya bagian tersebut terasa membosankan. Seolah-olah Fuadi sedang mengejar jumlah halaman supaya lebih tebal. Maafkan jika saya menjadi terkesan meng-kritik.

Cerita yang menggantung lainnya adalah kisah Mas Garuda yang hilang ketika tragedi WTC. Sebagai cerita biografi yang dijadikan fiksi, agaknya sah-sah saja bagi Fuadi untuk memberikan ending tentang pencarian Mas Garuda yang telah banyak berjasa bagi kehidupan Alif. Apakah Garuda ditemukan hidup-hidup ataukah Garuda memang telah menjadi korban tragedi horror tersebut. Di situ hanya diceritakan bahwa kemungkinan mas Garuda menjadi korban, udah gitu saja. Ini seolah menyisakan pertanyaan di benak saya: apakah bakal ada cerita baru seperti halnya Andrea Hirata yang masih menggunakan tokoh Ikal pada novel dwilogi Padang Bulan?

Saya patut mengacungi jempol bagi Fuadi yang sukses menuliskan novel berbasis pengalaman hidupnya secara detail. Bahkan salah satu detail yang saya kagumi adalah kejadian tragedi WTC tersebut. Semuanya terasa nyata karena memang tragedi tersebut sudah menjadi isu global yang diketahui di seluruh penjuru dunia.

Selebihnya, anda bisa menilai sendiri dengan membaca utuh novel ini. Saya merekomendasikan bagi anda yang sudah mengoleksi buku pertama dan buku kedua, untuk memiliki juga buku ketiga ini.

…, Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian. Dan kebermanfaatan.

Judul: Rantau 1 Muara
Penulis: A. Fuadi
Editor: Danya Dewanti Fuadi, Mirna Yulistianti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 408
Cetakan: II, Juni 2013
ISBN: 9789792294736

(HS)

Pojokkantor, BDG 16072013.

4 thoughts on “[Book Review]: Kemana Muara Rantau 1 Muara?

  1. mas. tanya dong. trilogi ini based on true story gak sih? saya belum baca sama sekali sih ketiganya. tapi nonton yang N5M itu aja.

    terus ada typo tuh mas. kok negeri paman syam? kan harusnya negeri Paman Sam.

  2. Iya, saya juga agak kurang ngeh nih Mas Garuda lalu gimana nasibnya, masa gak jelas gitu ya, maksaiin fiksinya🙂 Tapi dari keseluruhan suka deh,. setuju sama Kang Hadisome, banyak kalimat2 motivasinya.. yg sempet saya catet ini ” Kehilangan hanya ada ketika kita sudah merasa memiliki” #ustad Fariz. Hal 377.
    “Rasa memiliki membuat kita bertanggung jawab” #Alif… lupa halamannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s